AHDAR: Sekali Duduk Sekali Baca

Data for gretl

leave a comment »

Written by ahdar

June 2, 2009 at 11:29 am

Posted in 98599

Online Text and Notes in Econometrics

leave a comment »

Written by ahdar

June 2, 2009 at 11:25 am

Posted in 98599

Sir Francis Galton

leave a comment »

Galton, wafat 1911, adalah salah seorang peletak dasar ilmu statistik. Dikenal sebagai orang yg pertama kali menemukan konsep korelasi dan regression toward the mean.

The Collected Published Work of Galton can be found here:

http://galton.org/

Written by ahdar

May 3, 2008 at 6:03 am

Posted in ota

Situs karir akademik

leave a comment »

Written by ahdar

April 12, 2008 at 8:10 pm

Posted in diari

The story of ‘Lemons’

leave a comment »

His paper was about “Market for Lemons”. Well, some people may like apples than lemons, but who cares, they are just fruits.

1. June of 1967 , Akerlof-a newly awarded PhD, sent the lemons to The American Economic Review.
result: we did not publish papers on subjects of such triviality (editor)

2. Upon rejection, the lemons was sent to another journal at the same year: The Review of Economic Studies
result: the Review did not publish papers on topics of such triviality.

3. Another try, the lemons went to the Journal of Political Economy.
result:” if this paper was correct, economics would be different”. again, a clear rejection from the journal editor.

After all of these rejections, Akerlof’s reaction was “I may have despaired, but I did not give up”

4. Finally,

*Akerlof, George A., “The Market for ‘Lemons’: Quality Uncertainty and the Market Mechanism.” Quarterly Journal of Economics, 84(3), pp. 488-500, 1970.

AND..

The Market for ‘Lemons,’ , a 13-page paper written during George Akerlor’s first year as assistant professor at Berkeley in 1966-1967 was the paper that led him awarded the Nobel prize in Economics in 2001. The paper concerns how horse traders respond to the natural question: “if he wants to sell that horse, do I really want to buy it?”
(http://nobelprize.org/nobel_prizes/economics/articles/akerlof/index.html)

Written by ahdar

April 2, 2008 at 1:38 pm

Posted in ota

Resep ayam pop

leave a comment »

dikutip dari milist IA-ITB (retrieved Wed Oct 10, 2007 4:35, posted by irzalsulaini@, source Rinna Novita, FA-76)

AYAM POP
Bahan:
Ayam 1 ekor Air kelapa 250 cc
Garam 1 sdt Merica bubuk 1/2 sdt
Bawangputih 4 bh Minyak goreng
Tuk sambal: Cabe merah 10 bh Bawangmerah 8 bh
Tomat 2 bh Garam 1 sdt
Air 50 cc Airjeruknipis 2 sdm
Petai 1 papan
Cara membuat:
- Ayam dibuang kulitnya,potong 4 + air kelapa + bwg
putih yg
telah dihaluskan bersama garam dan
merica,direbus, tiriskan
Goreng sebentar saja dalam minyak panas
- Cabe merah + bawangmerah + garam,haluskan, ditumis dg
sedikit
minyak + tomat yg telah dipotong 8 + air,aduk +
airjeruk
nipis + petai,aduk2, angkat
- Sajikan dg daun singkong rebus
Selamat mencoba

Written by ahdar

October 10, 2007 at 2:06 pm

Posted in masakan

Milton Friedman dan Free to Choose

leave a comment »

Tahun 1980, Milton Friedman-pemenang hadiah Nobel ekonomi- membawakan TV series yang berjudul Free to Choose. Series ini diproduksi ulang kembali tahun 1990. What surprise me, pembuka series ini adalah Arnold Suasana Seger. Look smart, apa karna ini ya orang milih dia jadi gubernur California :D

http://www.ideachannel.tv/

Written by ahdar

July 31, 2007 at 9:56 pm

Posted in diari

Mau Untung Malah Jadi Buntung

leave a comment »

Salah satu illustrasi cerita yang sering didiskusikan di dunia “Behavioral Science” adalah prisoner dilemma, ditemukan oleh seorang pakar matematika W. Tucker. Ceritanya begini:

Dua orang penjahat baru saja ditangkap polisi, kemudian ditempatkan di dua ruang interogasi yang terpisah. Satu sama lain tidak bisa saling berkomunikasi. Keduanya terancam untuk diinapkan di hotel prodeo atas kejahatan yang mereka lakukan. Pada saat interogasi mereka dihadapkan pada pilihan berikut:

Satu. Jika salah satu dari mereka mengaku sedangkan yang lainnya bungkam, maka yang mengaku akan dibebaskan. Sedangkan satunya akan meringkuk 20 tahun di penjara.

Dua. Jika masing-masing mengakui perbuatannya, mereka akan dikenakan hukuman 5 tahun penjara.

Tiga. Jika keduanya memilih tetap bungkam, maka masing-masing dihukum 1 tahun penjara.

Dari persoalan pelik yang mereka hadapi ini, solusi yang paling aman adalah sama-sama diam karena ancaman hukuman hanya 1 tahun untuk keduanya. Tetapi siapa yang bisa percaya kalau kawan si penjahat satunya juga diam? Namun jika yang satu berkicau sedangkan yang satunya lagi diam, yang terakhir akan meringkuk 20 tahun di penjara. Tetapi jika salah seorang berharap dia dilepaskan dengan mengakui perbuatannya dan berharap temannya diam, ada kemungkinan justru dia akan kena 5 tahun penjara kalau ternyata temannya ini juga mengaku. Dalam keadaan seperti ini, mau untung malah jadi buntung.

Prisoner dilemma adalah satu contoh dari bentuk Commitment problems. Karakteristik dari masalah ini adalah: orang bisa dapat hasil terbaik jika mereka mempunyai komitmen untuk melakukan sesuatu cara yang berlawanan dengan keinginan dia.Dari contoh diatas, jika kedua penjahat itu berkomitmen untuk tetap bungkam, maka keduanya dapat hukuman yang lebih ringan daripada jika salah seorang dari mereka mengakui perbuatannya. Jadi masalah utamanya adalah tidak adanya trust antara mereka keduanya.

Written by ahdar

July 11, 2007 at 8:34 pm

Posted in psikologi sosial

Stetoskop dan sweater tebal

leave a comment »

Musim panas tahun 2003, saya pulang ke Indonesia. Tepatnya berlibur ke kota tercinta. Akibat kondisi badan yang cukup lelah setelah menempuh perjalanan panjang antara Belanda dan Indonesia,ditambah lagi dengan beda cuaca kedua negara yang cukup drastis, saya kena demam panas. Badan rasanya panas dingin, beberapa hari itu saya selalu memakai sweater tebal,padahal udara luar cukup panas.Saya mencoba bertahan untuk tidak pergi ke dokter. Sakit seperti ini di Belanda tergolong ringan,paling-paling dokter akan menyarankan untuk beristirahat yang banyak dan minum jus jeruk banyak-banyak. Oleh karena itu saya selalu menghindari minum obat untuk sakit yg ringan seperti ini. Saya takut nantinya kalau ke dokter,akan diberi antibiotik !

Karena desakan orang tua, akhirnya saya memutuskan pergi ke dokter spesialis. Begitulah,kebebasan yang dipunyai di Indonesia, orang sakit bisa langsung ke spesialis tanpa perlu datang ke dokter umum. Yang penting, duit tebal tersedia.

Saya dipersilakan masuk oleh perawat. Di dalam ruangan prakter si dokter spesialis yang juga professor ini sudah ada beberapa pasien menunggu giliran. Sekilas, rasanya privasi pasien tidak ada karena percakapan antara pasien dengan dokter bisa didengar. Giliran saya diperiksa pun tiba.

“Sakit apa?” tanya dokter. “demam dan pilek” balasku.

Si dokter langsung memasang stetoskop ditelinganya dan menempelkan alat sensor untuk memeriksaku. Mula-mula alat itu ditempel-tempelkan di dadaku kemudian ke punggungku. Dari tadi, sweater tebal masih saya pakai. Entah apa yang didengar dokter ini dari stetoskopnya.

“Sudah” kata si dokter. 

Pemeriksaan rupanya sudah selesai.   Dokter beranjak ke meja tulisnya untuk menuliskan resep.

“Ini resepnya bisa ditebus di apotik depan!”

Written by ahdar

July 9, 2007 at 1:59 pm

Posted in ota

Kuliah Istimewa Selten

leave a comment »

Peserta yang hadir di ruangan yang letaknya dibawah Mensa (restoran universitas) itu kira-kira 35 orang. Tidak ada pimpinan universitas terlihat, tidak juga pimpinan fakultas, tidak juga para profesor senior di fakultas dan jurusan. Peserta yang hadir didominasi oleh dosen dan mahasiswa doktor dari satu departemen saja: ekonomi kuantitatif.

Mata saya menyapu ruangan begitu cepat. Ada beberapa bangku yang masih kosong di bagian kanan ruangan. Di bagian belakang deretan bangku yang kosong itu, seorang mahasiwa berwajah oriental duduk dengan santai. Di belakang orang ini, seorang Belanda yang cukup saya kenal duduk dengan kedua tangannya menopang dagu dengan sikut menekan meja. Saya merasakan suasana yang sangat biasa dan monoton. Begitulah kesan yang saya tangkap sembari berjalan menuju bangku di belakang melewati moderator yang sedang memperkenalkan sang pembicara pagi ini. Tidak ada kesan istimewa. Padahal pembicara di kolokium rutin yang diadakan research school pagi ini adalah salah seorang pemenang hadiah nobel. Pasti, beberapa orang pintar di fakultas ini pernah punya mimpi meraih perhargaan paling bergensi ini.

Bapak tua yang sedang bersiap-siap memberikan kuliah itu bernama Reinhard Selten. Oleh karena nama besarnya lah saya nekad untuk menyaksikan kuliahnya walau saya sangat buta dengan bidang ilmu beliau,bahkan untuk level introduction sekalipun. Ingat namanya orang pasti ingat nama John Nash. Ingat John Nash, pasti ingat filem Beautiful Minds. Selten dengan John Nash berbagi hadiah nobel di bidang ekonomi pada tahun 1994. Tidak ada filem holywood untuk Selten. Selten tidak mengidap schizoprenia seperti Nash. Karena setengah yahudi, Selten pernah menjadi refugee karena kekejaman Nazi Hitler. Tapi mungkin itu belum cukup menarik untuk di film kan. Saingan Selten cukup banyak kalau tema ini yang dijual.

Tahun 2002, prof. Ariel Rubinstein dari Tel Aviv university datang berceramah ke Tilburg. Sebelum dia datang, gaungnya sudah terasa. Jauh hari para calon peserta diberikan kuisioner yang disiapkan Ariel. Maksudnya, hasil dari survey tsb akan dibahasnya saat dia memberikan kuliah. Saya masih ingat, ruangan yang disiapkan buat dia sangat besar. Peserta yang datang sangat membludak. Beberapa orang malah duduk lesehan di anak tangga menuju podium. Waktu itu saya hampir tak mendapatkan tempat duduk. Prof Ariel ini adalah peneliti terkemuka di bidang Game Theory. Di kuliahnya baru saya tahu bahwa dia termasuk salah seorang yang menominasikan John Nash untuk meraih Nobel pada tahun 1994 itu.

Kolokium Selten segera dimulai.

Selten tidak berbicara Game Theory dan ekonomi. Ini mengejutkan bagi saya karena diluar dugaan. Tema kuliah Selten adalah bagaimana sebuah kata tercipta. Linguistik dan Game theory ! Di slide pertama Selten, dijelaskan bahwa kata bisa tercipta melalui dua proses: secara kognitif dan melalui interaksi sosial. Untuk berinteraksi, syarat utama yang harus dipenuhi adalah adanya sender dan receiver. Hal terakhir inilah fokus kuliah pagi ini.

Hampir satu jam berlalu. Kolokium hampir selesai. Tidak banyak yang bisa saya cerna di kuliah Selten. Otak saya tidak sanggup rasanya mengikuti kuliahnya secara keseluruhan. Terlalu detail.Sesi tanya jawab sudah dimulai. Cuma ada tiga penanya.

Tetapi saya masih bersyukur ada satu yang saya ingat dari slidenya.

“It is good for a leader to send messages in constant codes to reduce misunderstanding among receivers”.

Kalimat yang sederhana dan mengandung pesan moral. Gaungnya terasa lain karna yang mengucapkannya adalah Reinhard Selten.

Written by ahdar

April 20, 2007 at 9:37 pm

Posted in diari