Archive for May 2006
Kebiasaan F-test
Temanku tertawa terpingkal-pingkal siang ini,ketika saya tanyakan kenapa dalam ANOVA kita menggunakan F-test untuk menguji hipotesis. Mungkin saking lucunya bagi dia, dia memanggil temannya yang lain, "hey,ini ada pertanyaan yang menarik". Lalu dia ulang kembali pertanyaanku dan dua-duanya lantas semakin riuh tertawa. Aku bengong.
Sedetik kemudian, aku baru paham. Sepertinya mereka beranggapan bawah pertanyaan ku ini sangat trivial ditanyakan. Tapi yang aku tahu, dua orang teman ini mempunyai latar belakang pendidikan di tradisi keilmuan yang jauh dari statistika dan matematika. Walaupun begitu, bisa saja bagi mereka ini adalah pertanyaan yang sepele.
Usai ketawanya abis, temen saya itu dengan wajah serius menjawab pertanyaan saya.
"ya, kita gunakan itu karena kita mau menguji apakah ada treatment effect dalam experimen yang kita lakukan".
Aku menggeleng.
"jawabannya tidak meyakinkan".
Dia selintas bingung. lantas melanjutkannya lagi,
"jika ada treatment effect tentu kurvanya akan skewed ke kanan, dan datar ke arah kiri"
Karena raut muka yang aku pasang, tetap tak berubah. Akhirnya dia menyerah. Temen ini sudah tahu kebiasaanku, kalau aku ada pertanyaan, itu sebetulnya bukan pertanyaan. Tapi adalah isyarat bahwa ada 'puzzle' baru yang ingin aku bagi dengannya.
"Oke, kalau kamu tahu, kasih tau saya ya".
Aku masuk ke kantor dia, mengambil spidol, berdiri di depan whiteboard, menghadap ke dia yang mengambil posisi duduk di kursi menghadapku. Aku mulai mencerocos.
"Sepertinya,sudah menjadi kebiasaan bagi kita bahwa kalau ANOVA itu pasti menggunakan F-test. Tapi kita lupa memikirkan, test ini datangnya dari mana. Buku-buku di level aplikasi yang kita pelajari tidak secara eksplisit menerangkannya. Mungkin pembaca dianggap sudah tahu. Mungkin juga, penulis buku itu beranggapan bahwa kalau pembaca ingin tahu itu,bukan buku ini yang harus dibaca, tapi buku yang lain yang lebih membahas teori". Karena kita menerima apa yang diutarakan oleh pengarang buku ini apa adanya, lambat laun kita malas memikirkan hal yang sepertinya lumrah. Lebih parah lagi, F-test adalah suatu tradisi yang telah dilakukan berulang-ulang untuk ANOVA. Kita pun tak perlu susah payah menghitungnya. Cukup dengan mengklik beberapa tombol di software, dalam hitungan detik, hasil didapat. Kenapa harus susah-susah.
Kebiasaan seperti ini akan mengaburkan fundamen atau konsep yang mendasari kenapa 'test' itu dilakukan. Ketika konsep dasar sudah kabur jangan harap bahwa kita bisa berkreatifitas mengembangkan metode yang sudah ada.
"Oke, siapa yang peduli dengan mengembangkan metode ini", timpal temanku ini, tak sabar.
"Kalau konsep dasar tak dipahami, kita bisa terjebak dalam menyimpulkan suatu masalah", jawabku mantap.Dalam hatiku, "jawabanku ini cukup umum, sepertinya". Dia tak mencecar jawabanku ini malah berujar.
"Cukup..cukup, so jawaban pertanyaan tadi apa?"
"Saya cuma akan memberikan hint secara tak langsung". Perhatikan apa yang saya tulis di whiteboard ini.
?=(MSbetween/df1)/(MSwithin/df2)
"Sengaja aku pakai tanda "?" di sebelah kiri, karena sudah menjadi kebiasaan kita untuk selalu menaruh tanda F. Seandainya textbook yang selalu kita baca tak menaruh tanda F, sekarang tugas mu menebak bentuk ini mirip dengan distribusi apa dan dari mana asalnya?"
Dia menggeleng. Spidol yang ada di tanganku mulai bergerak di whiteboard.
Dua menit kemudian dia tertawa puas. aku pun tertawa.
Ketika kembali ke ruanganku, aku berpikir: kebiasaan kita terhadap sesuatu ternyata bisa membentuk persepsi bahwa sesuatu itu adalah hal yang sepele. Padahal sebetulnya tidak.
Aku sudah berada di depan komputerku lalu mengiriminya sebuah imel dengan subjek:
"One puzzle a day, keep a nerd awake"
Dia memang nerd, sedang aku tidak.
Graduation Speech
Satu setengah jam yang lalu aku masih berada di aula fakultas. Duduk di balkon menghadap para keluarga calon drs dan wisudawan. Ini kali yang kedua aku duduk di posisi ini. Pertama kali terjadi lebih dari setahun yang lalu. Penyebabnya sama. Aku harus memberikan pidato kesan-kesan selama membimbing mahasiswa ku dan setelah itu langsung memberikan ijazah ke yang bersangkutan. Pengalaman yang sungguh tak terlupakan. Seperti mimpi. Cita-cita masa kecilku menjadi kenyataan. Seorang melayu memberikan ijazah ke mahasiswa asing di fakultas asing di negeri yang juga asing. Apa yang ada di benak keluarga mahasiswa ini? aku tak begitu peduli sebetulnya. Apalagi dari deretan undangan ada kakek nenek yang pasti paham cerita pendudukan Hindia Belanda dulu.
Ah itu tak begitu penting. Tak perlu aku dramatisir. Speech ku tahun yang lalu itu sukses. Saat aku bacakan pidato yang aku sudah persiapkan sebelumnya, hadirin ketawa pas aku membacakan bagian yang lucu. Banyak memang kejadian yang aku ceritakan karena si mahasiswa hampir setahun mengerjakan thesisnya. Berarti setahun aku bimbing. Bagiku ini juga berarti berkreasi dengan kemampuan bahasa inggris awak yang terbatas ini. Karena memang bahasa inggris ku kalah sama si mahasiswa. Tapi aku menang posisi. Aku supervisor, dia student ku. Kalau dia gak ngerti, aku cuek saja ngomong: kamu yang gak ngerti apanya? topik yang aku jelaskan atau bahasaku? Kalau masalahnya di bahasa ku, coba kamu jelaskan lagi dengan kata-katamu sendiri ! Kerjaan yang gampang. Tapi bagaimana mungkin akan dijelaskan ulang kalau pesannya gak sampai? Untung tak banyak kejadian seperti ini terjadi.
Sekarang aku akan membacakan dua speech. Dua mahasiswaku wisuda hari ini. Mempersiapkan pidato yang kedua sangat gampang karena aku begitu senang membimbing mahasiswa ini. Sebelum aku bimbing, dia sudah ditangani oleh supervisor lain selama 9 bulan. Karena supervisornya ini pindah kerja. Kerjaan membimbing dia dilimpahkan ke aku. Dari perasaan yang tak bersemangat karena sudah 9 bulan waktu terbuang, akhirnya aku rasa, aku berhasil membangkitkan semangat dia lagi melanjutkan kerja yang tersisa. Demikian yang terlihat dari cara kerja dan semangat dia.
Pidato yang pertama agak sukar di konsep. Masalahnya bukan di bahasa lagi, tapi perasaan. Selain tak ada memori berkesan yang akan diceritakan, aku barusan sadar bahwa aku sebetulnya sudah di 'kibuli dengan indah' oleh mahasiswa ini.
Aku baru tahu kemaren. Secara tak sengaja. Kerjaan student ku ini aku taruh di mejaku karena aku mau mengetik naskah pidato wisuda. Entah ada angin dari mana, rekan kerja yang ada di depan mejaku menoleh ke sampulnya. "Hey, that looks familiar to me".
Dia bergegas ke rak bukunya. Dan memperlihatkan sebuah thesis mahasiswa bertahun 4 tahun yang lalu. Covernya sangat mirip sekali. Aku ambil thesis itu, mencek daftar isinya. Sama ! aku cek salah satu bagian dari thesis mahasiswa ku yang aku puji-puji disidangnya-ide mu sangat cemerlang, praktis dan gampang diterapkan. Kamu dapat 8 ! Ternyata bagian ini juga ada disitu.
Tak ada masalah bagiku ini adalah replikasi dari kerjaan yang dulu. Betapa banyak eksperimen dari pemenang Nobel sekalipun yang dikerjakan ulang oleh peneliti-peneliti lain untuk mencek keabsahannya. Tak masalah juga jika kerja ini cuma sedikit lebihnya dari kerjaan yang dia contoh. Yang masalah bagiku adalah pujianku seolah-olah ditanggapi dengan sikap bahwa memang dia berhak untuk menerimanya. Dan terakhir, nilai 8 itu. Duh !
Angka patokan bisa menjebak !
Pertanyaan-pertanyaan berikut kesannya main-main: Pilihlah angka dari 1-100. Selanjutnya tebak apakah jumlah persentase negara Afrika yang bergabung dengan PBB kurang atau lebih dari angka itu. Pertanyaan lain:Tebal buku yang saya pegang ini adalah 150 halaman, kira-kira berapakah jarak antara Jakarta dengan New York.
Terkesan pertanyaan-pertanyan seperti hal yang sepele. Tetapi pada kenyataannya ini adalah pertanyaan sains yang serius dan sangat menarik. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini telah digunakan para peneliti psikologi untuk mendemonstrasikan suatu efek yang dinamakan dengan Anchoring effect (AE). Efek ini pertama kali dikenalkan ke komunitas riset oleh dua orang behavioral scientist ternama yakni Amos Tversky dan Daniel Kahneman (pemenang nobel ekonomi tahun 2002) dalam artikel yang diterbitkan di jurnal Science tahun 1974 dengan judul: Judgment under uncertainty: Heuristics and Biases.
Jadi apa sebenarnya AE ini?
Tversky dan Kahneman, dalam rangkaian experimen mereka mengajukan berbagai pertanyaan serupa kepada beberapa orang partisipan. Hasilnya sungguh mencengangkan. Jawaban-jawaban yang diberikan sangat dipengaruhi oleh angka yang terdapat di dalam pertanyaan-pertanyaan itu. Anehnya, angka-angka tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan inti pertanyaan. Tak ada hubungan bukan antara tebal buku dengan jarak Jakarta-New York? Secara tak sadar, angka itu ternyata telah dijadikan patokan untuk menerka jawaban.
Sejak artikel itu diterbitkan, sampai dewasa ini, AE menjadi salah satu topik riset yang hangat diteliti dikalangan behavioral scientists. Dalam kuliah Nobelnya-Kahneman menegaskan bahwa AE adalah salah satu bukti bahwa manusia itu adalah makhluk dengan rasio yang terbatas (bounded rationality)-menguatkan terminologi yang ditemukan oleh Herbert Simon tahun 1957. Karena bounded rationality ini maka manusia cenderung menggunakan jalan pintas (shortcut) dalam pengambilan keputusan.
Jalan pintas adalah cara yang gampang dan lazimnya tak perlu banyak energi dikeluarkan untuk itu. Itulah kecenderungan dasar sifat manusia.
Nampaknya, seusai eksperimen diberikan, ketika jawaban pertanyaan dikonfrontasikan kembali kepada partisipan, rata-rata dari mereka yakin bahwa jawaban mereka adalah jawaban yang benar !
pertanyaan kedua diatas- tebal buku dan jarak Jakarta-New York adalah contoh yang ekstrem karena angka 150 tidak ada di range satuan jarak antara Jakarta dan New York, selain itu tebal buku dan jarak tidak berada dalam content yang sama. Jadi kadang mungkin efek AE tak muncul. Kecuali kalau pertanyaan ini dimulai dengan angka 15.000, misalnya: saya barusan terbang dengan pesawat menempuh jarak 15000 km, kira-kira menurut anda, berapakah jarak Jakarta – New York? Ini adalah pertanyaan yang lazim dalam pembicaraan kita sehari-hari !
Secara definisi AE “involves forming an initial judgement or first impression (an anchor) and then shifting (adjusting) this judgement upward or downward depending on the implications of imagined possibilites ” (Tversky & Kahneman, 1974)
Kardes (2002) memberikan ilustrasi sederhana di bukunya bagaimana efek AE ini diterapkan oleh praktisi periklanan. Suatu iklan mengklaim bahwa brand mereka akan efektif digunakan 100 persen. Calon pembeli akan berpikir bahwa setiap saat digunakan, brand ini akan selalu efektif. Walaupun demikian, saat berpikiran seperti ini, ada perasaan tak percaya muncul: ah, mungkin tak 100 persen lah, barangkali kurang dari itu, kira-kira 90 persen saja mungkin. Nah masalahnya disitu. Konsumen ternyata meng-adjust angka 100 hanya sedikit kurang dari patokan ini. Padahal barangkali brand ini cuma efektif 50 persen saja.
Prediksi berdasarkan prediksi, demikian tulis Kardes.
“I am here for the champ, as a friend. I am nothing you want”
Memberikan wejangan sepertinya memang jadi budaya pejabat-pejabat Indonesia pada setiap acara bertatap muka dengan masyarakat Indonesia di luar negeri. Seolah-olah masyarakat butuh nasehat, butuh informasi, sekaligus buta perkembangan tanah air. Selain itu dari sisi psikologis sang pejabat, berbicara lebih enak rupanya dari mendengarkan. Resiko berbicara lebih kecil dari mendengarkan. Kalau mendengarkan telinga harus siap-siap merah menampung kritikan dan keluhan, sedangkan berbicara, asal tidak keseleo lidah,karir politik masih aman. Sekali porsi bertanya diperbanyak, sang pejabat berarti menggali lubang sendiri. Di kesempatan lain, masyarakat setempat bisa-bisa meminta porsi bertanya yang serupa.Jadi lebih baik menimalkan resiko. Stop kesempatan bertanya.Kalau tidak sulit sendiri nantinya.Buat masyarakat pendengar, siap-siap digurui, karena yang namanya wejangan itu cuma satu arah, dengan arahnya kebawah, seperti wejangan guru sekolah ke murid-muridnya yg baru belajar membaca buku.
aku pernah punya pengalaman terjebak mendengarkan wejangan seorang menteri yang cukup bikin pantat penat karena lamanya duduk.Ketika itu, aku menghadiri acara perpisahan dubes Muh.Yusuf di Mesjid Al Hikmah di Denhaag. Sebetulnya, tidak ada di agendakan sebelumnya bahwa pak menteri ini akan berwejang panjang. Semuanya kebetulan.
Pagi hari sebelum acara, pak menteri ini baru mendarat di schipol untuk transit beberapa jam sebelum pulang ke tanah air. Karena kebetulan hari mendaratnya sama dg hari perpisahan dubes, dibawa lah pak Menteri ini ke tempat acara oleh staf KBRI. Daripada 'berlangau' sendirian di wisma duta. Sesampai di mesjid, dipersilahkan sang menteri ini sama pembawa acara untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Begitulah sopan santun buat tamu penting.
Yang terjadi adalah pak Menteri ini (Sofyan Djalil) memberikan wejangan, pituah-pituah, dengan sekali-sekali mengulas sejarah indonesia dijajah belanda. Sebelum usai 1 jam berpidato, satu orang teman nampaknya sudah tak tahan. dia ingin berdiri untuk menginterupsi sang menteri. Niatnya diurungkan karena tak mau membikin acara yang aneh-aneh di mesjid Al-Hikmah. Selain itu, jangan-jangan para jamaah yang lain malah menyukai pidato hambar sang menteri ini.
Terakhir,setelah SATU JAM bicara, pak menteri menutup pidatonya dengan pesan khusus buat mahasiswa di luar negeri: baik-baiklah belajar, gunakan kesempatan sebaik-baiknya disini.
saya tak abis pikir waktu itu.Kemana sifat arif sang menteri ini. Jelas hari itu adalah harinya dubes Pak Muhammad Yusuf. Dia lah seharusnya yang jadi 'King' di hari perpisahan dia itu.Malah di pidatonya, pak menteri ini tak ada memberikan 'credit' satupun buat sang calon mantan dubes yg berusia jauh dari sang menteri.
Di acara hari itu saya mengharapkan suasana penghargaan yang hangat buat dubes dari masyarakat Indonesia. Harusnya ada acara salam-salaman buat dubes di akhir acara. Layaknya perpisahan purna bakti. Ini bukan karena dekatnya hubungan dubes dengan PPI Maastricht-organisasi yang berjasa mendekatkan hubungan dubes dengan kaum 'terhalang pulang'. tapi aku pikir Pak Yusuf cukup pantas mendapatkan itu karena kepemimpinannya selama ini, terlepas dari rasa ketidakpuasan masyarakat dengan pelayanan KBRI.
Di tengah pidato sang menteri, disela kegelisahan pak Dubes menunggu wejangan usai.Pak Yusuf melirik saya dan melambai agar saya duduk mendekat ke dia yang lagi menyender di dinding mesjid. Pasti dubes menanyakan soal acara perpisahan dia dengan kawan-kawan "kaum terhalang pulang" yang semula direncanakan akan diadakan oleh PPI Maastricht.
Dalam kesempatan bisik-bisk dengan dubes. Saya ceritakan sebuah kisah di hari kemenangan petinju legendaris Muhammad Ali. Saat itu Ali lagi dikerubungi sama fans-fansnya mengelukan kemenangan dia atas Joe Frazier. Disampingnya ada Malcolm X,tokoh nation of Islam yang waktu itu lagi sedang 'naik-daun'. Tiba-tiba dari kerumunan masa yang mengelilingi Ali, seorang wartawan bertanya lantang ke arah Malcolm-X: "Brother Minister, what is your vision for the future of the nation of Islam?"
Malcom- X menjawab dengan tenang. "I am here for the champ, as a friend. I am nothing you want"
Membaca Buku dari A sampai Z
Salah satu obsesi ku yang belum kesampaian adalah membaca suatu buku non fiksi dari lembar pertama sampai lembar terakhir, mengerjakan semua soal-soal di buku tersebut dan mengerti se mengertinya. Niat untuk melakukannya selalu ada. Tetapi sulit sekali untuk konsisten membaca lembar demi lembar dan mengerti. Mungkin karena untuk tetap konsisten ini butuh daya serap yang tinggi dan ketahanan konsentrasi yang luar biasa. Sepertinya aku belum masuk tipe manusia golongan ini.
Salah salah satu buku yang berhasil aku baca dari A sampai Z adalah buku tentang LISREL-salah satu teknik di ilmu statisik-karangan Adamantios Diamantopoulos yang diterbitkan oleh SAGE publication. Level buku ini kira-kira di tingkat pengantar. Betul-betul suatu buku pengantar. Sub judulnya saja adalah “a guide for uninitiated”. Jadi jangan disamakan dengan buku-buku statisika dan matematika dengan embel-embel “Introduction” yang mengecoh pembacanya. Buku-buku semacam ini biasanya ada di tingkat lanjutan. Ambil contoh buku “An Introduction to Probability Theory and Its Applications vol I” karangan William Feller-cetakan 1950- yang mustahil bisa dipahami seorang undergraduate kecuali kalau dia adalah seorang Feller !
Keberhasilanku membaca buku untuk uninitiated ini lebih disebabkan oleh materi di buku ini sudah dipelajari di buku lain. Selain ukuran buku ini cukup tipis sehingga lebih mudah untuk ditamatkan membacanya. Jadi belum pantas lah prestasi ini dibanggakan.
Sejarah mencatat beberapa ilmuwan besar yang di awal-awal penemuan jati diri mereka pernah membaca paling kurang satu buku sampai habis. Seorang Kovaleskaya-matematikawan wanita dari Rusia-di umur 11 tahun, membaca abis sebuah kopian buku Aljabar. buku ini dibacanya malam-malam menjelang tidur karena ayahnya masih melarang Kovaleskaya kecil menyukai matematika. Setahun kemudian setelah dia menamatkan buku ini, dia menamatkan satu buku lagi. Kali ini buku fisika yang dipinjami oleh tetangganya yang profesor Fisika. Uniknya, untuk mengerti konsep sinus-salah satu materi buku ini, dengan caranya sendiri Kovaleskaya malah me reinventing metode yang telah ditemukan berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Seorang pemain sirkus- imigran asal Italia dan mantan drop-out dari sekolah menengah sangat tergila-gila dengan trik permainan kartu dan dadu. Setelah berkelana selama 2 tahun di sirkus, suatu hari Persi Diaconis memutuskan untuk mengambil sekolah malam di suatu college di kota New York. Tujuan utamanya kembali ke bangku sekolah cuma satu: mengerti buku karangan Willam Feller ! Saya tidak tahu apa Persi benar-benar membaca Feller sampai selesai, tapi yang saya tahu adalah saat ini Persi adalah professor statisika dan matematika di Stanford University. Cerita ini bisa dibaca di buku Lady Tasting Tea karangan David Salzburg.
Jarang memang orang bisa menamatkan suatu buku sains dari lembar pertama sampai lembar terakhir. Tak terkecuali buku sains dengan nuansa populer sekalipun. Buku “theory of everything”nya Stephen Hawkings adalah sebuah best seller beberapa tahun lalu. Tapi diakui Hawkings sendiri, mungkin bisa diitung dengan jari berapa orang yang membacanya sampai habis dan mengerti isinya.
Nah, apakah anda atau anak anda berhasil menamatkan buku sains kelas “berat” dari lembar A sampai Z. Jika benar, kemungkinan besar anda atau anak anda adalah calon ilmuwan besar !
Karya “RE” dan “TOO”
Sekarang adalah zamannya para pakar ilmu sosial ramai-ramai menuliskan kata “rethinking” (RE) di judul-judul buku dan paper-paper ilmiah mereka. Hal ini menyiratkan tentang adanya kebutuhan untuk mengkaji ulang suatu teori atau wacana keilmuan.Bisa jadi teori itu tidak popular lagi, atau bertentangan dengan fenomena kekinian alias usang dan kuno. Dengan proses RE ini, ilmuwan sosial berharap posisi ilmu dan peran mereka di masyarakat lebih jelas. Ini disebabkan karena masalah kekinian sangat kompleks, tantangan semakin besar. Suatu masalah menuntut penanganan dari berbagai disiplin kepakaran. Kerjasama lintas bidang dengan ilmuwan di bidang ilmu lain menjadi keharusan.Oleh karena itu wajar, RE menjadi suatu kebutuhan. Tetapi pada prinsipnya RE baru bisa dilakukan setelah ada penciptaan. Proposisi ini berlaku mutlak. Tidak ada rethinking untuk suatu teori atau wacana yang belum ada.Seperti adagium lama, setelah tesa tentu ada antitesa. Setelah suatu wacana diciptakan dan dipakai, tentu ada masa untuk menganalisa ulang kembali.
Selain rethinking, ilmuwan sosial ternyata juga gemar meneliti soal “the origins of” (TOO). Judul karya ilmiah yang monumental dengan judul ini tentu adalah the origin of species nya Darwin.Pengecualian untuk karya Darwin ini, untuk wacana yang sama, RE dan TOO adalah two-sides of the same coin. Yang pertama adalah bersifat tinjauan historis atau perunutan ulang untuk meletakkan sejarah dengan benar termasuk memberikan pengakuan kepada penemu teori dan pengembang teori yang sebenarnya. Sedangkan rethinking adalah proses menggugat, memposisikan kembali, dan mencari arah baru yang dilakukan secara dinamis dan maju. TOO adalah proses mundur dan menjernihkan jejak masa lampau. TOO menghasilkan pemahaman sejarah, sedangkan RE menghasilkan pemahaman baru untuk menghasilan teori dan wacana yang lebih canggih.
Sebagai illustrasi kegunaan TOO, mari kita ambil contoh bidang psychology. Salah satu paper yang dimuat di British Journal of Psychology di edisi tahun 1983 berjudul “Wilhelm Wundt (1832-1920) and the origins of psychology as an experimental and social science”. Pemuatan paper TOO ini di jurnal psikologi bergengsi menyiratkan pengakuan bahwa Wilhelm Wundt lah yang paling berjasa meletakkan psikologi sebagai salah satu bidang ilmu sosial. Bukan William James, misalnya, seorang psikolog yang masyur yang malah pernah menulis artikel dengan judul “The principles of Psychology” pada tahun 1890.Walaupun demikian, kedua William ini sama-sama ditengarai sebagai dua bapak psikologi.
Karya ilmiah yang memuat “Rethinking of Psychology” muncul pada tahun 1995, diterbitkan oleh penerbit bergengsi SAGE Publications . Karya ini adalah buku kumpulan paper-paper yang pernah diterbitkan di jurnal internasional. Seperti yang ditulis oleh editor buku ini di pengantarnya, buku ini mengklaim sebagai kumpulan karya dari ilmuwan psikologi yang menawarkan psikologi perspektif baru yang lebih komprehensif yakni menggabungkan aliran experimental, cognitive dan positivist. Benar tidaknya? aku tidak tahu karena aku tidak menguasai ketiga sub bidang psikologi ini.
Tentu contoh yang serupa bisa ditemui di bidang keilmuan lain.
Proses RE bisa kita amati di wacana-wacana yang berkembang di publik dan di ruang-ruang perkuliahan. Tapi sayangnya proses RE ini tidak dibarengi dengan TOO yang matang sehingga memungkinan terjadinya ‘lack of understanding’ terhadap wacana yang dibahas. Sebagai contoh, dalam suatu perkuliahan, seorang dosen yang tidak menguasai sejarah Indonesia berkata kita harus rethinking Indonesian national identity. Mungkin yang dimaksudkan si dosen tepatnya adalah kita harus menelusuri kembali identitas nasional Indonesia. Bagaimana mungkin bisa memberikan pemikiran ulang yang benar dengan analisa yang tajam tentang identitas nasional suatu bangsa, jika sejarah tentang asal-muasal terbentuknya identitas nasional itu saja buta. So, what is the definition of the indonesian national identity?
Suatu catatan penting yang saya tekankan di tulisan ini adalah pada kenyataannya, sebuah karya dengan judul RE banyak terjebak kepada pemolesan di kulit luarnya saja alias tidak menawarkan apa-apa-apa atau sesuatu yang baru. Karya-karya ini hanyalah wacana dan pola lama dengan kemasan yang baru.
Demikian juga RE sebagai suatu proses yang diklaim sebagai sebuah pemikiran ulang, terlepas apakah proses itu nantinya diberi judul dengan RE atau tidak, juga banyak terjebak kepada pengulangan-pengulangan analisa sebelumnya. Kelemahannya terletak pada proses TOO yang tidak sempurna dipelajari. Sejarah yang kabur akan menghasilkan kesimpulan yang serampangan. Selanjutnya analisa masalah untuk perbaikan tidak berujung kepada solusi yang baik. Solusi yang baru bisa jadi hanya aksesori-aksesoris saja dari solusi yang lama yang sudah terbukti gagal. Karena untuk menghasilkan pemahaman yang baru yang superior dengan apa yang dipahami selama ini dipahami, proses RE mensyaratkan pemahaman TOO yang baik dan benar terlebih dahulu. Sedangkan yang menilai apakah TOO itu sudah berhasil atau tidak itu tergantung dari konsensus ilmuwan di bidang yang bersangkutan.Kalau tidak, proses RE akhirnya cuma bagian dari proses daur ulang pemikiran yang kembali ke titik nol.
nb.terima kasih untuk istriku yang telah menginspirasi penulisan artikel ringan dan singkat ini
sayur lodeh
|
Sayur Lodeh Sumber: Majalah Jelita Januari 2001 |
|
| Bahan-Bahan: | |
| 50 gm sengkuang 50 gm lobak merah 50 gm kubis bulat 50 gm kacang panjang 50 gm terung panjang 50 ml minyak 2 biji kelapa, dijadikan santan 2 batang serai, dititik 2 biji tauhu, dipotong dadu 50 gm tempe, dipotong dadu dan digoreng |
3 biji cili merah, dibelah empat 3 biji cili hijau, dibelah empat Garam secukup rasaBahan kisar: 50 gm bawang merah 5 biji cili api 20 gm kunyit hidup 50 gm udang kering |
| Cara: | |
| Potong memanjang semua sayur. Cuci bersih dan sejat. Panaskan minyak di dalam periuk. Tumis bahan kisar hingga naik wangi. Masukkan santan, serai dan semua sayur. Apabila mendidih masukkan garam secukup rasa. Biar seketika dan angkat. | |
| Cadangan Hidangan: | |
| Hidangkan bersama lontong atau nasi impit. | |