Archive for May 13th, 2006
Karya “RE” dan “TOO”
Sekarang adalah zamannya para pakar ilmu sosial ramai-ramai menuliskan kata “rethinking” (RE) di judul-judul buku dan paper-paper ilmiah mereka. Hal ini menyiratkan tentang adanya kebutuhan untuk mengkaji ulang suatu teori atau wacana keilmuan.Bisa jadi teori itu tidak popular lagi, atau bertentangan dengan fenomena kekinian alias usang dan kuno. Dengan proses RE ini, ilmuwan sosial berharap posisi ilmu dan peran mereka di masyarakat lebih jelas. Ini disebabkan karena masalah kekinian sangat kompleks, tantangan semakin besar. Suatu masalah menuntut penanganan dari berbagai disiplin kepakaran. Kerjasama lintas bidang dengan ilmuwan di bidang ilmu lain menjadi keharusan.Oleh karena itu wajar, RE menjadi suatu kebutuhan. Tetapi pada prinsipnya RE baru bisa dilakukan setelah ada penciptaan. Proposisi ini berlaku mutlak. Tidak ada rethinking untuk suatu teori atau wacana yang belum ada.Seperti adagium lama, setelah tesa tentu ada antitesa. Setelah suatu wacana diciptakan dan dipakai, tentu ada masa untuk menganalisa ulang kembali.
Selain rethinking, ilmuwan sosial ternyata juga gemar meneliti soal “the origins of” (TOO). Judul karya ilmiah yang monumental dengan judul ini tentu adalah the origin of species nya Darwin.Pengecualian untuk karya Darwin ini, untuk wacana yang sama, RE dan TOO adalah two-sides of the same coin. Yang pertama adalah bersifat tinjauan historis atau perunutan ulang untuk meletakkan sejarah dengan benar termasuk memberikan pengakuan kepada penemu teori dan pengembang teori yang sebenarnya. Sedangkan rethinking adalah proses menggugat, memposisikan kembali, dan mencari arah baru yang dilakukan secara dinamis dan maju. TOO adalah proses mundur dan menjernihkan jejak masa lampau. TOO menghasilkan pemahaman sejarah, sedangkan RE menghasilkan pemahaman baru untuk menghasilan teori dan wacana yang lebih canggih.
Sebagai illustrasi kegunaan TOO, mari kita ambil contoh bidang psychology. Salah satu paper yang dimuat di British Journal of Psychology di edisi tahun 1983 berjudul “Wilhelm Wundt (1832-1920) and the origins of psychology as an experimental and social science”. Pemuatan paper TOO ini di jurnal psikologi bergengsi menyiratkan pengakuan bahwa Wilhelm Wundt lah yang paling berjasa meletakkan psikologi sebagai salah satu bidang ilmu sosial. Bukan William James, misalnya, seorang psikolog yang masyur yang malah pernah menulis artikel dengan judul “The principles of Psychology” pada tahun 1890.Walaupun demikian, kedua William ini sama-sama ditengarai sebagai dua bapak psikologi.
Karya ilmiah yang memuat “Rethinking of Psychology” muncul pada tahun 1995, diterbitkan oleh penerbit bergengsi SAGE Publications . Karya ini adalah buku kumpulan paper-paper yang pernah diterbitkan di jurnal internasional. Seperti yang ditulis oleh editor buku ini di pengantarnya, buku ini mengklaim sebagai kumpulan karya dari ilmuwan psikologi yang menawarkan psikologi perspektif baru yang lebih komprehensif yakni menggabungkan aliran experimental, cognitive dan positivist. Benar tidaknya? aku tidak tahu karena aku tidak menguasai ketiga sub bidang psikologi ini.
Tentu contoh yang serupa bisa ditemui di bidang keilmuan lain.
Proses RE bisa kita amati di wacana-wacana yang berkembang di publik dan di ruang-ruang perkuliahan. Tapi sayangnya proses RE ini tidak dibarengi dengan TOO yang matang sehingga memungkinan terjadinya ‘lack of understanding’ terhadap wacana yang dibahas. Sebagai contoh, dalam suatu perkuliahan, seorang dosen yang tidak menguasai sejarah Indonesia berkata kita harus rethinking Indonesian national identity. Mungkin yang dimaksudkan si dosen tepatnya adalah kita harus menelusuri kembali identitas nasional Indonesia. Bagaimana mungkin bisa memberikan pemikiran ulang yang benar dengan analisa yang tajam tentang identitas nasional suatu bangsa, jika sejarah tentang asal-muasal terbentuknya identitas nasional itu saja buta. So, what is the definition of the indonesian national identity?
Suatu catatan penting yang saya tekankan di tulisan ini adalah pada kenyataannya, sebuah karya dengan judul RE banyak terjebak kepada pemolesan di kulit luarnya saja alias tidak menawarkan apa-apa-apa atau sesuatu yang baru. Karya-karya ini hanyalah wacana dan pola lama dengan kemasan yang baru.
Demikian juga RE sebagai suatu proses yang diklaim sebagai sebuah pemikiran ulang, terlepas apakah proses itu nantinya diberi judul dengan RE atau tidak, juga banyak terjebak kepada pengulangan-pengulangan analisa sebelumnya. Kelemahannya terletak pada proses TOO yang tidak sempurna dipelajari. Sejarah yang kabur akan menghasilkan kesimpulan yang serampangan. Selanjutnya analisa masalah untuk perbaikan tidak berujung kepada solusi yang baik. Solusi yang baru bisa jadi hanya aksesori-aksesoris saja dari solusi yang lama yang sudah terbukti gagal. Karena untuk menghasilkan pemahaman yang baru yang superior dengan apa yang dipahami selama ini dipahami, proses RE mensyaratkan pemahaman TOO yang baik dan benar terlebih dahulu. Sedangkan yang menilai apakah TOO itu sudah berhasil atau tidak itu tergantung dari konsensus ilmuwan di bidang yang bersangkutan.Kalau tidak, proses RE akhirnya cuma bagian dari proses daur ulang pemikiran yang kembali ke titik nol.
nb.terima kasih untuk istriku yang telah menginspirasi penulisan artikel ringan dan singkat ini