AHDAR: Sekali Duduk Sekali Baca

Graduation Speech

leave a comment »

Satu setengah jam yang lalu aku masih berada di aula fakultas. Duduk di balkon menghadap para keluarga calon drs dan wisudawan. Ini kali yang kedua aku duduk di posisi ini. Pertama kali terjadi lebih dari setahun yang lalu. Penyebabnya sama. Aku harus memberikan pidato kesan-kesan selama membimbing mahasiswa ku dan setelah itu langsung memberikan ijazah ke yang bersangkutan. Pengalaman yang sungguh tak terlupakan. Seperti mimpi. Cita-cita masa kecilku menjadi kenyataan. Seorang melayu memberikan ijazah ke mahasiswa asing di fakultas asing di negeri yang juga asing. Apa yang ada di benak keluarga mahasiswa ini? aku tak begitu peduli sebetulnya. Apalagi dari deretan undangan ada kakek nenek yang pasti paham cerita pendudukan Hindia Belanda dulu.

Ah itu tak begitu penting. Tak perlu aku dramatisir. Speech ku tahun yang lalu itu sukses. Saat aku bacakan pidato yang aku sudah persiapkan sebelumnya, hadirin ketawa pas aku membacakan bagian yang lucu. Banyak memang kejadian yang aku ceritakan karena si mahasiswa hampir setahun mengerjakan thesisnya. Berarti setahun aku bimbing. Bagiku ini juga berarti  berkreasi dengan kemampuan bahasa inggris awak yang terbatas ini. Karena memang bahasa inggris ku kalah sama si mahasiswa. Tapi aku menang posisi. Aku supervisor, dia student ku. Kalau dia gak ngerti, aku cuek saja ngomong: kamu yang gak ngerti apanya? topik yang aku jelaskan atau bahasaku? Kalau masalahnya di bahasa ku, coba kamu jelaskan lagi dengan kata-katamu sendiri ! Kerjaan yang gampang. Tapi bagaimana mungkin akan dijelaskan ulang kalau pesannya gak sampai? Untung tak banyak kejadian seperti ini terjadi.

Sekarang aku akan membacakan dua speech. Dua mahasiswaku wisuda hari ini. Mempersiapkan pidato yang kedua sangat gampang karena aku begitu senang membimbing mahasiswa ini. Sebelum aku bimbing, dia sudah ditangani oleh supervisor lain selama 9 bulan. Karena supervisornya ini pindah kerja. Kerjaan membimbing dia dilimpahkan ke aku. Dari perasaan yang tak bersemangat karena sudah 9 bulan waktu terbuang, akhirnya aku rasa, aku berhasil membangkitkan semangat dia lagi melanjutkan kerja yang tersisa. Demikian yang terlihat dari cara kerja dan semangat dia.

Pidato yang pertama agak sukar di konsep. Masalahnya bukan di bahasa lagi, tapi perasaan. Selain tak ada memori berkesan yang akan diceritakan, aku barusan sadar bahwa aku sebetulnya sudah di 'kibuli dengan indah' oleh mahasiswa ini.

Aku baru tahu kemaren. Secara tak sengaja. Kerjaan student ku ini aku taruh di mejaku karena aku mau mengetik naskah pidato wisuda. Entah ada angin dari mana, rekan kerja yang ada di depan mejaku menoleh ke sampulnya. "Hey, that looks familiar to me".

Dia bergegas ke rak bukunya. Dan memperlihatkan sebuah thesis mahasiswa bertahun 4 tahun yang lalu. Covernya sangat mirip sekali. Aku ambil thesis itu, mencek daftar isinya. Sama ! aku cek salah satu bagian dari thesis mahasiswa ku yang aku puji-puji disidangnya-ide mu sangat cemerlang, praktis dan gampang diterapkan. Kamu dapat 8 ! Ternyata bagian ini juga ada disitu.

Tak ada masalah bagiku ini adalah replikasi dari kerjaan yang dulu. Betapa banyak eksperimen dari pemenang Nobel sekalipun yang dikerjakan ulang oleh peneliti-peneliti lain untuk mencek keabsahannya. Tak masalah juga jika kerja ini cuma sedikit lebihnya dari kerjaan yang dia contoh. Yang masalah bagiku adalah pujianku seolah-olah ditanggapi dengan sikap bahwa memang dia berhak untuk menerimanya. Dan terakhir, nilai 8 itu. Duh !

Written by ahdar

May 19, 2006 at 1:41 pm

Posted in diari

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.