Archive for May 23rd, 2006
Kebiasaan F-test
Temanku tertawa terpingkal-pingkal siang ini,ketika saya tanyakan kenapa dalam ANOVA kita menggunakan F-test untuk menguji hipotesis. Mungkin saking lucunya bagi dia, dia memanggil temannya yang lain, "hey,ini ada pertanyaan yang menarik". Lalu dia ulang kembali pertanyaanku dan dua-duanya lantas semakin riuh tertawa. Aku bengong.
Sedetik kemudian, aku baru paham. Sepertinya mereka beranggapan bawah pertanyaan ku ini sangat trivial ditanyakan. Tapi yang aku tahu, dua orang teman ini mempunyai latar belakang pendidikan di tradisi keilmuan yang jauh dari statistika dan matematika. Walaupun begitu, bisa saja bagi mereka ini adalah pertanyaan yang sepele.
Usai ketawanya abis, temen saya itu dengan wajah serius menjawab pertanyaan saya.
"ya, kita gunakan itu karena kita mau menguji apakah ada treatment effect dalam experimen yang kita lakukan".
Aku menggeleng.
"jawabannya tidak meyakinkan".
Dia selintas bingung. lantas melanjutkannya lagi,
"jika ada treatment effect tentu kurvanya akan skewed ke kanan, dan datar ke arah kiri"
Karena raut muka yang aku pasang, tetap tak berubah. Akhirnya dia menyerah. Temen ini sudah tahu kebiasaanku, kalau aku ada pertanyaan, itu sebetulnya bukan pertanyaan. Tapi adalah isyarat bahwa ada 'puzzle' baru yang ingin aku bagi dengannya.
"Oke, kalau kamu tahu, kasih tau saya ya".
Aku masuk ke kantor dia, mengambil spidol, berdiri di depan whiteboard, menghadap ke dia yang mengambil posisi duduk di kursi menghadapku. Aku mulai mencerocos.
"Sepertinya,sudah menjadi kebiasaan bagi kita bahwa kalau ANOVA itu pasti menggunakan F-test. Tapi kita lupa memikirkan, test ini datangnya dari mana. Buku-buku di level aplikasi yang kita pelajari tidak secara eksplisit menerangkannya. Mungkin pembaca dianggap sudah tahu. Mungkin juga, penulis buku itu beranggapan bahwa kalau pembaca ingin tahu itu,bukan buku ini yang harus dibaca, tapi buku yang lain yang lebih membahas teori". Karena kita menerima apa yang diutarakan oleh pengarang buku ini apa adanya, lambat laun kita malas memikirkan hal yang sepertinya lumrah. Lebih parah lagi, F-test adalah suatu tradisi yang telah dilakukan berulang-ulang untuk ANOVA. Kita pun tak perlu susah payah menghitungnya. Cukup dengan mengklik beberapa tombol di software, dalam hitungan detik, hasil didapat. Kenapa harus susah-susah.
Kebiasaan seperti ini akan mengaburkan fundamen atau konsep yang mendasari kenapa 'test' itu dilakukan. Ketika konsep dasar sudah kabur jangan harap bahwa kita bisa berkreatifitas mengembangkan metode yang sudah ada.
"Oke, siapa yang peduli dengan mengembangkan metode ini", timpal temanku ini, tak sabar.
"Kalau konsep dasar tak dipahami, kita bisa terjebak dalam menyimpulkan suatu masalah", jawabku mantap.Dalam hatiku, "jawabanku ini cukup umum, sepertinya". Dia tak mencecar jawabanku ini malah berujar.
"Cukup..cukup, so jawaban pertanyaan tadi apa?"
"Saya cuma akan memberikan hint secara tak langsung". Perhatikan apa yang saya tulis di whiteboard ini.
?=(MSbetween/df1)/(MSwithin/df2)
"Sengaja aku pakai tanda "?" di sebelah kiri, karena sudah menjadi kebiasaan kita untuk selalu menaruh tanda F. Seandainya textbook yang selalu kita baca tak menaruh tanda F, sekarang tugas mu menebak bentuk ini mirip dengan distribusi apa dan dari mana asalnya?"
Dia menggeleng. Spidol yang ada di tanganku mulai bergerak di whiteboard.
Dua menit kemudian dia tertawa puas. aku pun tertawa.
Ketika kembali ke ruanganku, aku berpikir: kebiasaan kita terhadap sesuatu ternyata bisa membentuk persepsi bahwa sesuatu itu adalah hal yang sepele. Padahal sebetulnya tidak.
Aku sudah berada di depan komputerku lalu mengiriminya sebuah imel dengan subjek:
"One puzzle a day, keep a nerd awake"
Dia memang nerd, sedang aku tidak.