Archive for June 2006
Mekanisme ‘Feelings’
Ketika mendengarkan simponi Mozart,perasaan kita menjadi nyaman dan enak. Ketika kita mendekat ke seorang pemimpin dan mendengarkan kata-katanya, hati menjadi terpukau lalu kita bilang bahwa dia mempunyai kharisma yang tinggi. Perasaan kita menuntun kita untuk mengevaluasi kehebatan musik si Mozart atau memberikan kesimpulan tentang kharisma sang pemimpin di mata pendukungnya.
Menurut para pakar psikologi, perasaan (feelings) adalah timbul sebagai respon dari objek. Walaupun demikian, feelings bisa juga timbul dari keadaan mood kita sendiri (insidentil).Sebagai contoh, ketika mood sedang bagus, kita jadi lebih ramah ke orang yang baru kita kenal-jadi bukan karena orang itu mood kita jadi baik tetapi sebaliknya. Ketika mood sedang jelek, karya seorang mahasiswa tidak ada bagus-bagusnya bagi seorang dosen.Yang terlihat cuma yang jelek-jeleknya saja.
Bahwa ada efek feelings terhadap evaluasi suatu objek sudah menjadi kesepakatan bagi para ahli. Yang masih samar-samar adalah mekanisme apa yang menyebabkan feelings bisa mempengaruhi evaluasi sesuatu. Prof Michael Tuan Pham (2004) dari Columbia university, mencoba memberikan jawabannya. Diterbitkan di Journal of Consumer Psychology tahun 2004, beliau mencoba merangkum mekanisme feelings berdasarkan hasil-hasil riset terdahulu dibidang ini.
Pertama. Feelings mempengaruhi pengambilan keputusan secara langsung melalui asosiasi. Proses ini terjadi secara otomatis, terjadinya di alam bawah sadar. Mekanisme ini seringkali disebut dengan affect-transfer. Ide dasarnya sama dengan classical conditioningnya Pavlov.Sebelum anjing eksperimennya diberi makan, Pavlov selalu membunyikan lonceng. Setelah itu baru makanan disodorkan. Setiap melihat makanan, terbit lah air liur si anjing (air liur ini ditampung Pavlov untuk diukur volumenya). Demikian terus yang dilakukan Pavlov. Sampai saat tertentu Pavlov menemukan bahwa, pas ketika lonceng dibunyikan, air liur si anjing sudah menetes-netes keluar padahal makanan belum ada disodorkan. Bunyi lonceng diasosiakan si anjing sebagai pertanda makanan akan datang. Demikian ide affect-transfer hampir serupa dengan prinsip classical conditioningnya Ivan Pavlov-pemenang nobel untuk fisiologi tetapi lebih terkenal dengan eksperimen anjingnya.
Kedua. feelings mempengaruhi evaluasi suatu objek secara tak langsung, ada variabel yang terdipengaruhi lebih dahulu. Ibaratnya sama dengan penjalaran panas melalui besi yang ujungnya kena api. Perasaan frustasi terhadap operator seluler menimbulkan persepsi bahwa operator itu tak becus melayani konsumen, “mereka memang tak bisa dipercaya”. Dalam hal ini feelings berhasil merubah persepsi kita terhadap objek.Rasa frustasi berkembang menjadi rasa tak percaya kepada si operator.Selanjutnya, kita menyimpulkan bahwa operator ini memang tak bonafid. Dalam kasus ini feeling mempengaruhi judgement melalui persepsi.
Ketiga. Feelings baru-baru ini dianggap sebagai salah satu bentuk informasi (feelings-as-information). Ide kontroversial ini dikemukakan oleh Schwartz dan Clore tahun 1983. Sejak kemunculan artikel-yang sudah dianggap klasik ini-riset tentang feelings sebagai sumber informasi berkembang pesat. Maksud dari teori ini adalah feelings bisa berfungsi sebagai pertanda adanya kesenangan terhadap sesuatu, kepuasaan terhadap kepemilikan, kepuasaan terhadap hidup, dan kesengsaraan.
Schwart dan Clore (1983) membuktikan di hari yang cerah yang membuat mood jadi lebih baik dan tingkat kepuasaan hidup pun serasa lebih baik. Feelings-as-information bisa juga dijadikan pertanda apakah suatu pekerjaan itu bisa dilakukan atau tidak.Seorang mahasiswa disodori sebuah topik untuk skripsinya. “How-do-I-feel about it?”. Si mahasiswa bertanya pada dirinya sendiri, kira-kira bagaimana feelings dia terhadap topik yang akan dikerjakan. “Rasanya berat pak, rasanya topik ini tidak cocok dengan saya”.
Walaupun ide feelings-as-information ini sangat cemerlang dan memperkaya khazanah penelitian psikologi, tapi masih banyak hal yang mesti dipertanyakan. Jika memang feelings adalah sebuah informasi tentu pengaruhnya terhadap judments akan sama dengan faktor lain yang sudah ditemukan mempengaruhi input informasi.
Diskusi tentang feelings masih berlangsung hangat di jurnal-jurnal psikologi. Mungkin pelajaran yang bisa kita petik dari scientific discovery ini adalah seorang pengambil keputusan tidak hanya harus pandai membaca feelings dirinya sendiri, tapi juga apa yang dirasakan oleh orang lain dan menginterpretasikannya dengan benar.
Bimbingannya besok saja ya, Pak !
Ketika matahari bersinar cerah, burung-burung berkicau, hidup terasa indah. Keesokan harinya, hujan deras tak henti-hentinya mengguyur bumi, awan hitam dan angin kencang menderu pertanda badai, hidup pun terasa seperti suram. Padahal tak ada banyak perubahan di hidup antara kedua hari itu,semuanya berjalan seperti sediakala, gaji tetap sama, pekerjaan yang itu-itu juga. Nah, kenapa kok perasaan terhadap hidup jadi berbeda selang dua hari ini?
“kenapa kamu tidak suka terhadap orang itu?” kata seorang perempuan pada temannya. “ah,aku lagi gak mood aja sekarang, jadi bawaannya semua jadi salah”.
Isen (1978) melakukan sebuah eksperimen sederhana untuk membuktikan bahwa penilaian (judgment) seseorang terhadap sesuatu memang dipengaruhi oleh mood yang dirasakannya saat itu. Sekelompok orang di jalan dihadiahi oleh Isen sebuah hadiah, kemudian mereka disodori sederatan pertanyaan tentang bagaimana tingkat kepuasaan mereka terhadap barang yang sudah mereka beli serta tingkat kepuasaan mereka terhadap hidup secara umum. Hasilnya seperti yang sudah kita duga di alinea awal ini. Kelompok orang yang diberi hadiah merasa lebih puas terhadap televisi dan radio mereka, dan hidup secara umum. Ketika sekelompok orang yang lain yang ditanya dengan pertanyaan serupa tetapi sebelumnya tidak dianugrahi hadiah, ternyata memberikan rating kepuasaan yang lebih rendah dari kelompok yang menerima hadiah.
Seorang mahasiswa teknik yang sedang menulis skripsi rupanya telah menarik hikmah dari eksperimen yang dilakukan Isen ini. Dia tak pernah membaca penelitian Isen yang diterbitkan di Journal of Personality and Psychology. Nasehatnya adalah: kalau aku mau menghadap pembimbing untuk bimbingan, aku harus tahu dulu apakah supervisor ku ini dalam keadaan mood yang baik.Kalau tidak, aku mungkin bisa memberinya hadiah seperti yang dilakukan Isen terhadap partisipan dalam eksperimennya. Tapi ini tentu tak etis dan bisa berarti penyuapan. Kalaupun tak ada yang bisa kulakukan, mungkin selama menghadap aku tak menambah kekeruhan hati yang sedang dialami si pembimbing.
Sang mahasiswa berdiri di depan pintu si pembimbing. Si dosen berkata, “percuma begadang nonton piala dunia semalam nih dik, kok Brasil bisa kalah ya”. Dia menghela nafas panjang pertanda kekecewaan yang mendalam. Matanya masih merah akibat begadang.
Dengan tergopoh-gopoh sang mahasiswa berkata, “O, maaf pak, ada yang ketinggalan, bimbingannya besok saja ya Pak!”
Antara Kenyataan dan Bayangan
Ibu yang marah pada anaknya yang suka berfoya-foya padahal kondisi keluarga sangat tak mampu, memarahi anaknya dengan kata-kata seperti ini “ingat kenyataan nak,janganlah terus hidup di dunia mimpi, cobalah kamu bedakan mana yang realita mana yang bayangan”. Dari perkataannya ini, si ibu seolah-olah menuduh anaknya tak bisa membedakan antara realita dengan mimpi. Baris kata si ibu yang terakhir ini sebetulnya telah menarik perhatian beberapa ilmuwan psikologi sejak dulu : Benarkah manusia mempunya kecendrungan untuk tidak bisa membedakan realita (real event) dan ilusi (imaginary event) ?.
Jawabannya adalah iya. Riset tentang ini pertama kali ditulis tahun 1977 (Alcohol and Human Memory) oleh Johnson dari universitas Stony Brook dan tahun 1981 berdua dengan Raye dari Barnard College, penelitian lanjutan dipublikasikan di Psychologial Review.
Menurut Johnson dan Raye (1981)-orang mengingat informasi bersumber kepada dua hal. Pertama sumber eksternal melalui proses persepsi dan yang kedua sumber internal melalui proses pemikiran, penalaran, dan imajinasi. Selanjutnya Johnson dan Raye mendefiniskan sebuah konsep yang dinamakan reality monitoring yakni suatu proses yang dipilih seseorang dalam menentukan apakah suatu informasi bersumber dari internal atau eksternal. Yang menarik dari konsep yang mereka temukan ini adalah kadangkala suatu kejadian yang cuma dibayangkan dalam pikiran hampir sama nyatanya dengan kejadian yang benar-benar terjadi “Imagined events are no less real than real events”. Akibatnya adalah seseorang bisa tidak mampu untu membedakan antara kenyataan dengan mimpi (confusion).
Bayangan yang selalu ada dalam benak si anak di cuplikan diatas adalah keluarganya cukup mampu. Pikirannya seolah-olah menuntun dia untuk bergaya hidup yang cuma cocok untuk orang kaya. Si anak mengalami kebingungan membedakan ilusi dan kenyataan. Seorang wanita berkata pada rekan kerjanya bahwa salah seorang tetangganya berpengarai buruk dan menceritakan betapa kacaunya sebuah pesta semalam. Si rekan kerja lantas membayangakan di pesta itu si tetangga pasti berteriak-teriak seenak perutnya di pesta itu dan bergosip ria menceritakan seseorang yang di tidak disukainya pada tamu-tamu lain.
Dalam hal ini, pikiran si anak dan si rekan kerja telah mengalahkan realita.
Kenapa hal ini bisa terjadi? proses apa yang mendasari ?akan bahas di kesempatan lain…
Nilai sesuatu
Apa yang membuat seseorang bisa menghargai sesuatu? Jawaban klasik dari pertanyaan ini adalah jika sesuatu itu dipandang oleh sebagian besar orang bahwa memang bernilai. Jawaban ini mengandung arti eksplisit bahwa nilai sesuatu itu tergantung dari ‘beliefs’ sekelompok orang (’socialized shared beliefs’, Merton 1957-sociologist in Higgins 2005). Sederhananya, ada sebuah kesepakatan yang terbentuk yang menentukan apakah sesuatu itu patut dihargai atau tidak. Emas bernilai tinggi karena semua orang percaya bahwa emas itu mempunya nilai intrinsik yang tinggi. Sesuatu yang sukar secara uang pun karena kesepakatan akan mempunyai nilai. Sebagai contoh, pemberian seseorang akan dihargai oleh penerima berapapun harganya karena pemberian dipercaya oleh masyarakat (tentu saja si penerima) sebagai sesuatu yang patut dihargai.
Jawaban kedua dari pertanyaan diatas adalah sesuatu itu bernilai karena berguna. Persoalannya adalah masalah kepuasaan dan kebutuhan (needs). Semua orang butuh air untuk hidup, walaupun mereka sepakat bahwa segalon air akan bernilai sangat rendah dari emas sebesar kerikil. Sepasang sepatu bola akan berharga sekali bagi seorang pemain bola daripada seorang pemain catur, begitupun sebaliknya satu papan catur lengkap dengan bidak-bidaknya akan berharga sekali bagi seorang pecatur.
Jawaban ketiga pertanyaan diatas berhubungan dengan penekanan nilai sebagai experience, yakni pengalaman hedonis yang berhubungan dengan kesenangan dan kesakitan (pleasure and pain)-sebuah pandangan yang sudah ada sejak jaman Yunani kuno. Pandangan ini ditulis dengan sederhana oleh Freud (1920) sebagai ‘people approach pleasure and avoid pain’. Sebuah barang akan bernilai jika dalam mendapatkannya ada unsur kesenangan dan akan kurang bernilai jika untuk mendapatkannya ada unsur kesakitan.Pandangan Freud inilah yang mendominasi pemahaman para peneliti psikologi tentang motivasi selama bertahun-tahun dan dikenal sebagai ‘basic motivational theorist’.
Memang tak ada yang salah dengan pandangan ini. Selain menjadi pijakan utama untuk menjelaskan motivasi, tentu ada pengecualian-pengecualian dimana adagium ini tidak berlaku.
Pertama, jika orang lebih menekankan tujuan jangka panjang daripada jangka pendek. Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Untuk mengejar kesenangan di masa depan, kadangkala memang pain harus di approach.
Kedua, orang meyakini bahwa pain memang bagian yang tak terelakkan untuk mendapatkan kesenangan sehingga ketika kesenangan itu sudah didapatkan orang akan cenderung mengurangi intensitas pain yang dirasakan dahulu. Seorang ibu yang merasakan kesakitan ketika melahirkan akan berkata, “aku tak merasakan sakit lagi ketika aku dengar tangisan pertama dari anakku”
Selain dari pengecualian-pengecualian ini, kelemahan dari adagium diatas adalah tak ada penjelasan dengan cara apa people approach pleasure and avoid pain. Dengan menjelaskan yang terakhir ini Tory Higgins-seorang profesor psikologi dari Columbia pada tahun 2000 menerima penghargaan for distinguished scientific contribution dari American Psychologist.
