AHDAR: Sekali Duduk Sekali Baca

Archive for July 2006

and probably..he !

without comments

Originally uploaded by ahdar_2000.

20 weeks and 5 days old

Written by ahdar

July 19, 2006 at 8:25 pm

Posted in diari

for hasanul

without comments

Originally uploaded by ahdar_2000.

Written by ahdar

July 19, 2006 at 7:54 pm

Posted in garih

Anteseden kreatifitas=kerja keras+kontinuitas

without comments

Dalam seharian, kerapkali kita terlalu mudah untuk memberikan cap kreatif terhadap (karya) seseorang. Sebagai ilustrasi. Si Budi lama berkawan dengan si Amir. Tak pernah diliatnya bahwa si Amir ini bisa menulis puisi. Si Amir memang tak pernah menceritakannya ke Budi. Suatu hari, secara tak sengaja si Budi melihat sebuah postingan puisi si Amir di sebuah situs di internet. Secara spontan, dalam hatinya si Budi berkata,”kreatif sekali temanku rupanya, bagus sekali puisinya”.

Paling kurang ada dua penyebab pujian dari si Budi terhadap Amir ini. Pertama, informasi si amir bisa menulis puisi merupakan hal yang baru bagi si Budi. Budi rupanya kurang mengetahui secara lengkap aktivitas keseharian temannya ini. Barangkali inilah kali pertama si Budi mengetahui bahwa si Amir pandai merangkai kata. Karena hal ini suprise bagi si Budi dan diluar dugaannya, jadilah si amir mendapat prediket kreatif.

Penyebab kedua, Budi buta sama sekali tentang ilmu per-puisian dan merupakan sebuah kemampuan yang tidak dipunyainya.Oleh karena alasan ini, si Budi tak mempunyai “benchmark” yang kuat untuk menilai kualitas puisi si Amir. Patokan si Budi adalah dirinya sendiri. Dia banding-bandingkan si Amir dengan dirinya. Lama berkawan, menimbulkan kesan pada si Budi: rasanya tak jauh beda, cuman Amir bisa menulis puisi. Makanya spontan dia berkata: si Amir ini kreatif.

Berbeda dengan cara Budi melekatkan atribut kreatif pada karya temannya. Para ahli paling kurang mematok dua syarat utama. Syarat pertama adalah karya bisa disebut kreatif jika institusi pada ranah dimana karya itu berada, sepakat untuk melabelkan karya itu sebagai sebuah karya yang kreatif. Artinya, pendapat dari si Budi- yang tak pandai menulis sebuah puisi- belumlah bisa dijadikan acuan karya dan si Amir ini adalah kreatif. Seandainya pujian kreatif ini berasal dari para penyair, kritikus seni, barulah cap kreatif ini berhak disandang si Amir.

Syarat kedua adalah kreatifitas itu haruslah menawarkan suatu yang baru di ranah yang ditempatinya. Syarat ini memang berkesan sangat “high standard’. Satu karya baru dibilang kreatif jika ada keterbaruan yang ditawarkannya dan berhubungan dengan syarat yang pertama, keterbaruan ini harus diakui oleh para ahli di bidang ybs. Jadi, jika puisi si Amir hanya meniru-niru gaya penyair Rendra, maka sebutan kreatif belum layak disandang.Sungguh,syarat yang berat!

Dari dua syarat diatas, dapat kita petik bahwa kreativitas itu bukanlah proses yang datang tiba-tiba dari langit. Dua syarat kreatifitas diatas menyiratkan bahwa kreatifitas itu butuh kerja keras yang tekun dan terus-menerus.Daerah dimana kita berkarya harus didalami sehingga kita tahu kita dimana kekurangannya, tahu kita dimana ranah-ranah yang belum dijamah oleh orang lain, dan barulah kita bisa membuat karya yang menggeser patok-patok yang sudah ada.

Jadi, jika tiba-tiba seorang datang kepada anda dan mengklaim bahwa dia telah menemukan teori, tahan dulu pujian anda. Jika anda buta sama sekali dengan domain teori itu, bertanyalah kepada ahlinya. Tugas anda akan jauh lebih ringan jika anda menanyakannya ke dewan editor (editorial board) jurnal kelas dunia. Harusnya mereka tahu jawabannya !

Begitulah kriteria kreatif sesuai dengan standar para ahli. Duh…kapan kita bisa jadi kreatif kalau begitu?

Senada dengan Einstein, kreatifitas itu adalah 1% IQ dan selebihnya adalah kerja keras+kontinuitas.

Written by ahdar

July 11, 2006 at 9:24 pm

Posted in psikologi sosial