AHDAR: Sekali Duduk Sekali Baca

Archive for November 2006

Apakah teh bagus untuk anda?

without comments

Is tea good for you? sebagai seorang penggemar minum teh, tentu pertanyaan ini sangat menggelitik saya. Apakah sih khasiatnya minum teh? walau pernah saya baca tentang khasiat teh dari majalah-majalah populer yang pernah saya baca bahwa teh bisa mencegah kanker, tetapi rasanya belum puas kalau belum menemukan bukti ini langsung dari hasil-hasil penelitan yang dipublikasikan di jurnal-jurnal sains. Apakah benar, sekian puluh penelitian yang meneliti khasiat teh, akan menghasilkan kesimpulan yang sama bahwa teh memang manjur mencegah kanker?

Ketika saya sedang belajar meta-analysis – suatu teknik statistik untuk mensintesa hasil-hasil riset yang pernah dilakukan untuk suatu topik tertentu- dan mencari artikel yang berhubungan dengan metode kuantitatif ini, google mendamparkan saya di sebuah blog, alamatnya http://heingartner.com/blog/ Di blog ini, si penulisnya dengan rajin melaporkan hasil-hasil studi meta analisis di bidang obat-obatan, kesehatan dan psikologi yang pernah dipublikasikan oleh berbagai jurnal ilmiah. Tulisan si penulis ini untuk suatu topik yang dibahas singkat-singkat saja, cukup melaporkan topik meta analisisnya apa, lantas kesimpulan akhirnya apa.

Kenapa meta analysis menjadi sangat penting? Bayangkan jika ada seribu riset dilakukan untuk mengetahui apakah ada efek dari meminum teh terhadap kesehatan jantung, kalau iya, lantas seberapa besarkah pengaruhnya itu?. Bayangkan bahwa studi tentang ini dilakukan oleh para peneliti yang berbeda dengan metodologi riset yang bervariasi dan dengan karakteristik sampel yang beranekaragam (gender, ras, umur, dsb) . Bisa dimaklumi bahwa keseribu riset ini akan melaporkan hasil yang berbeda-beda. Mungkin ada yang menyimpulkan bahwa teh memang berkhasiat mencegah kanker, mungkin juga ada sebagian peneliti yang menemukan pengaruh teh, tetapi dengan efek yang tak seberapa. Dan mungkin beberapa penelitian ini menemukan bahwa sama sekali tak ada hubungannya minum teh dengan kesehatan jantung. Untuk hasil yang terakhir, bayangkan suatu penelitian dimana sampel yang diteliti adalah memang orang-orang yang mempunyai riwayat penyakit jantung turunan. Dijamin, pengaruh teh terhadap pencegahan penyakit jantung adalah nol. Disebabkan oleh adanya berbagai variasi dari kesimpulan hasil-hasil penelitian ini lah teknik meta-analysis menjadi sangat penting. Metode ini bisa menjawab keraguan kita, dalam contoh ini apakah teh benar-benar berkhasiat terhadap kesehatan jantung.

Nama meta-analysis (kadang ditulis dengan meta-analytic) diberikan oleh Gene V. Glass (http://glass.ed.asu.edu/gene/), seorang educational psychologist, di tahun 1976, ketika saat itu beliau masih menjadi dosen di University of Colorado at Boulder. Sebetulnya, jauh sebelumnya, teknik ini sudah dilakukan oleh salah seorang Godfather statistika abad ini, Karl Pearson.

Pearson ditengarai sebagai orang pertama yang melakukan meta-analysis ini pada tahun 1904. Pearson tak melabelkana apapun terhadap teknik ini. Barangkali, bagi orang sekaliber Pearson, meta-analysis hanyalah salah satu dari sekian banyak metode statistik, yang bagi dia sangat mudah dikerjakan. Waktu itu Pearson ingin mengetahui seberapa besar pengaruh inokulasi untuk melawan cacar. Pearson menyimpulkan bahwa pengaruh pemberian inokulasi terhadap cacar sangat signifikan. Karena jasa Pearson inilah, mungkin kita tak ragu lagu lagi sekarang untuk divaksinasi.

Dewasa ini tidak terhitung banyaknya penelitian-penelitan meta-analysis, seperti di bidang psikologi, marketing, sosiologi, psychoterapi, manajemen, ekonomi, politik, dsb.

Di blog seperti yang saya sebutkan di alinea kedua tulisan ini, saya baca bahwa teh memang bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung dan kanker, selain itu juga menyehatkan gigi. Kesimpulan ini dihasilkan dari studi literatur dengan teknik meta analisis dari paper-paper ilmiah yang meneliti topik ini dari tahun 1990-2004 . Hasil meta analisis ini dipublikasikan di Journal of Clinical Nutrition (http://www.nature.com/ejcn/journal/vaop/ncurrent/abs/1602489a.htm).

Setelah membaca hasil penelitian ini, dengan mantap saya berkata kepada diri saya sendiri:

Yes, I am a tea drinker.

Written by ahdar

November 11, 2006 at 9:43 pm

Posted in ota

Kabar dari Gorrie

without comments

antocanadatraktor.jpg Tulisan itu berjudul : Kabar dari Gorrie, tertera di salah satu halaman pada seksi ppik 1996-1997, di situs http://baikoeni.multiply.com . Siapa lagi penulisnya kalau bukan, Mak Efri. Sejak tahun 1998, bermula di kamp Cibubur, staf KBRI Brunei Darussalam ini aku panggil dengan sebutan Mamak.Sebutan ini aku lekatkan karena dia lah satu-satunya peserta dari Sumatera Barat waktu itu dan pembawaannya yang memang seperti “angku panghulu” alias ninik mamak awak, kepala suku dari turunan Minang yang ada di Cibubur saat itu.Sedangkan saya adalah utusan dari propinsi Jawa Barat. Sejak sama-sama jadi peserta program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada, persahabatan kami berlanjut sampai sekarang. Setelah 10 tahun berlalu, sejuta kenangan di program itu dibongkar kembali oleh Mak Efri. Mengejutkan ! karena ternyata segala catatan-catatan hariannya masih rapi tersimpan. Entah angin apa yang membawa, sebagian catatan-catatan itu ditempelkan Mak Efri di websitenya. Kata orang Minang, “coki kitö” pun terbuka. Yang lebih mengejutkan, lagi sebuah foto yang saya sendiri sudah lupa, ditempel Efri di websitenya. Foto ini bisa diliat disini. Saya lagi mengendarai traktor. Di belakangnya ibu angkat saya, sedang membenamkan biji bawang ke tanah.Foto itu diambil pada awal musim gugur tahun 1996, di sebuah kampung peternakan bernama Gorrie, sekitar 20 menit dari kota kecil Listowel, di propinsi Ontario, Kanada.

Hidup sebagai petani dadakan di Gorrie ternyata tidak mudah. Ada 100 ekor domba di peternakan orang tua angkat saya. Luas tanah penggembalaan di samping rumah, adalah 100 acres. Kami cuma berempat di rumah. Ibu dan bapak angkat, saya, dan counterpart Geoff yang berasal dari NewFoundland-propinsi di ujung timur Kanada. Bagi Geoff, pekerjaan di ladang adalah menyenangkan.Tidak bagi saya yang rikih. Saya stress. Cuaca musim dingin disana sangatlah dingin. Kadang saya masih bekerja di barn (kandang), di suhu -10,pernah sampai -20. Darah segar meleleh dari hidung. Telinga dan jari seperti ditusuk-tusuk, padahal pakaian yang saya kenakan sudah berlapis lima. Sekarang saya tahu, bahwa saat itu saya sedang diintai oleh Frostbite, seperti yang banyak dialami para pendaki gunung es Everest itu.

Pekerjaan saya sangat rutinitas.Pagi2 buta sekali,saya harus memberikan susu kepada beberapa anak domba, trus memberi makan kawanan itik dan ayam. Setelah selesai barulah, mengurusi kandang. Selalu ada kerjaan. Saya merasa tertekan hebat. Daya adaptasi saya kalah cepat dengan beban dan tantangan yang saya terima. Harusnya saya tak menderita tekanan seperti ini. Saya sudah menjalani masa perploncoan di ITB yang katanya keras dan sadis. Tetapi, sekeras-kerasnya perploncoan, tamparan alam lebih keras lagi. Mau mundur dari program malu rasanya. Di kala tertekan seperti ini, Mak Efri lah yang saya jadikan tempat curhat. Dia dan dan grupnya tinggal di kota Goderich, cukup jauh dari Gorrie. Curhat saya ke Efri pertama-tama hidup di desa Gorrie, propinsi Ontario, Canada bisa dibaca ditulisan dia yang berjudul: Kabar dari Gorrie.

===

Kabar dari Gorrie (http:baikoeni.multiply.com)

Meskipun kami sibuk mengikuti kegiatan di tempat kerja maupun menyelenggarakan EAD, namun hubungan komunikasi dengan sesama teman
Indonesia masih berlanjut. Komunikasi saya dengan Ahmad Daryanto yang tinggal di Gorrie, Listowel cukup intensif. Sebagai sesama Anak Minang yang jauh di perantauan kami saling berbagi cerita. Beberapa pucuk
surat saya kirimkan kepada Anto dan bahkan dia sempat berkomunikasi langsung melalui telpon seraya mengabarkan sedang mengirim
surat yang dilampiri beberapa foto.
Surat pertamanya tertanggal Gorrie, 2 Oktober 1996 (Malam Kamih). Ditulis dalam suasana sedikit sedih karena workplacementnya tidak seperti yang diharapan. Dia kerja di peternakan dan pertanian orang tyua angkat sendiri. Berkat curhat dengan PL-nya akhirnya Anto ditempatkan juga di sekolah. Suratnya ditulis dalam bahasa Minang dan sepertinya kami “meratapi” nasib yang terpasah jauh di negeri orang. Awal kehidupan berjinak-jinak sebagai “anak dagang sangsai”.

Ini suratnya:

Gorrie, 2 Oktober 1996 (Malam Kamih) Baa kaba Mamak di sinan? Lai sehaik-sehaik sajo? Iyo bana sanang hati Ambo ko ah, manarimo surek dari Angku, Mamak. Baa ka indak? Sadang awak bamanuang-manuang mangana kampuang… eh datang surek dari konco. Baa… tu?Awak ko kan alah marantau jauh kini ko, Mak. Bak kato pantun urang kito: Daripado den lalu di Jam Gadang Elok di Janjang Ampek PuluahDaripado bansaik den baok pulangElok den marantau jauh……. (Kampuang Mamak bana ko mah…???) Iko kan carito e… ha..ha…Mandanga carito Mamak dalam surek nan kapatang nantun, iyo sanang bana Mamak nampaknyo. Apolai tingga se batigo jo jando. Babahayo tu mah…. Inyo kijok-e beko, apolai mandanga karajo Mamak tu… iyo banyak tantangan dan faedahnyo tu… mah… Amin.Ambo di siko indak tingga di Listowel doh… tapi di Gorrie kiro-kiro 15 menit dari Listowel. Ambo tingga di farm, jadi karajo jo urang gaek ambo. Inyo indak punyo anak doh, hanyo duo ikua anjiang, saratuih biri-biri, tigo ikua kambiang, ditambah bamacam-macam ladang sayuran. Di siko langang se, awal mulo ambo sempat komplain ka PL. Pucuak dicinto ulam tibo… mulai Senin patang, urang tua ambo nan laki-laki karajo ka lua kota. Inyo maambiak karajo lain. Soalnyo disiko indak ado nan kadikarajoan lai. Salain tiok hari Kamih kito mambagian hasia ladang ka konsumen di Kichener (labih kurang 75 km dari siko). Jadi satiok hari Kamih, ambo ka sinan. Dan ambo kini tiok hari Senin-Selasa karajo jadi asisten guru di Listowel Central Public School untuk grade 7 dan 8. Hari Rabu dan Kamih karajo di Ladang asyik juo. Duo minggu nan lalu ambo basobok jo Rila dan Sylvie di farm. Mungkin inyo lai bacarito ka Angku.Baa kaba kawan nan lain? Si Pipit, Achong, Lili, Deti, Gusti. Ondeh… iyo panek pulo tangan ambo, Mak!Alamaik ambo:

Anto c/o Richard+Deb DuimeningRR # 2,
Gorrie, Ontario
NOG1X0

PS: Oi, Mak !, Capek baleh surek ambo ko. Kalau indak putuih kito badunsanak……

Dalam suratnya tertanggal 4 Oktober 1996, Ahmad Daryanto merasa gembira menerima surat saya yang saya tulis bercerita gaya sastra klasik Minangkabau. Di dalamnya saya selipkan berbagai pantun, mamang dan bumbu sastra klasik. Dia merasa senang membacanya karena mengingatkan ketika dia terlibat dalam pementasan randai “Anggun Nan Tongga” di Unit Kesenian Minangkabau – Institut Teknologi Bandung (ITB). Ahmad Daryanto bekerja di ladang peternakan milik orang tua angkatnya. Sepertinya dia kurang senang karena tidak banyak bergaul dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Orang tua angkatnya memelihara kambing, domba dan kuda. Setiap hari dia “bergembala” ternak dan bilamana ada pesanan, ternak itupun dibawa ke rumah pemotongan. Disamping itu, setiap tiga minggu sekali dia bekerja di sekolah membantu guru. Untunglah dia berkesempatan mengunjungi berbagai universitas di sekitar Listowel seperti University of Waterloo dan Guelph of University.

Gorrie, 4 Oktober 1996

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Ambo baru mambuka foto-foto di Kanada ko bana mah, Mamak. Iyo takajuik ambo mambaco surek Mamak. Mangko, kato partamu, surek Mamak tuh iyo sabana “Mamak”. Baa ka indak, kato-katonyo saroman bana jo urang saisuak.. he.. he… Tapi iko di Kanada ko bak nantun…. Kato kaduo, takuik ambo jo Mamak kalau Mamak indak marilaan ambo dunia akhiraik. Apolai ka putuih pulo badunsanak. Ah iyo abih ambo.Indak ado bagai doh, surek Mamak tuh kanai pijak kaki jawi sabab disiko nan ado kambiang nyoh, atau biri-biri, indak kabau bagai doh… ha..ha.. jaan berang …. Jan bangih pulo. Indak ado niaik ambo coitu… iko lah tibo surek ambo.Ambo kini karajo di sekolah 3 kali saminggu. Hari Kamih di farm tapi dek musim dingin lai indak sabanyak nan patang-patang ko. Patangko bisa sampai jam 8 bagai. Hari Rabu bisuak kito di group study tour ka University of Waterloo. Hari Jumaik malam “culture show”. Disiko latihan lai lancar-lancar sajo, tapi kadang-kadang sakik gigi juo ambo mancaliak bule-bule tuh. Baa ka indak kadang-kadang bak joinyo sajo. O..Mak. Salamaik ! Kabanyo “culture show” angku lancar bana. Kok untuang ambo ingin sukses pulo. Baa Tari Rantak tuh.. Lai maantak-antai, ndak?. Untuak “culture show” hari Jumaik ko, Ambo manari piriang untuak pambukaan, jaipongan jo si Anet, Saman, Quebec dance… ampek tari. Lupo ambo caritoan. Saminggu nan lalu, Sabtu sampai Minggu, Ambo lalok di Guelph karano ambo ikuik workshop pertanian di Guelph of University. Ambo ikuik jo si Getmi dan tigo bule. Itu se barito nan baru-baru ko dari Ambo. Tangan lah panek. Mato alah mangantuak. Ah badan iyo alah litak. Cukuik di siko se. Jo kirim salam ka kawan-kawan. Rila, Pipit, Achong, Deti, Gusti, Lili jo bule-bule bagai. Kalau indak Mamak baleh capek, tapaso beko putuih awak ba “Mamak-Kamanakan”.

Salam, Anto PS: Iko iyo sabana ambo tulih tgl ampek antah baa dek karano sibuk (ceilah..) ampia lupo ambo….

Written by ahdar

November 10, 2006 at 3:44 pm

Posted in diari

Ekspetasi X nilai

without comments

Kenapa seseorang mau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan? Salah satu jawabannya adalah karena orang itu beranggapan bahwa dia mampu mengerjakannya. Coba tanyakan pertanyaan ini ke sebagian orang: Apakah anda mau mendaki puncak gunung Everest? tentu sebagian besar akan menjawab tidak karena itu mustahil dilakukan. “Uh, dibayar berapapun aku tak akan mau”, demikian mungkin jawaban kita. Sama halnya dengan jawaban seorang salesmen yang dikasih target untuk menjual sekian ribu produk dalam waktu satu bulan. Ujug-ujug menerima pekerjaan ini, si sales barangkali lebih memilih berhenti dari pekerjaannya daripada dipaksa untuk memenuhi target yang mustahil dicapai. “lebih baik aku berhenti saja, bos ku sudah gila !”

Secara naluriah kita mempunyai sebuah ’sense’ yang mengukur kemampuan apakah kita akan mampu melakukan sebuah ‘action’ atau tidak. Bandura menamakannya self-efficacy. Rasionalitas kita juga bermain disini. Secara rasio, tak mungkin rasanya menjual barang sebegitu banyak dalam waktu sebulan. Kita bisa menghitung-hitung berapa jumlah target konsumen yang ada dan berapa pula kemampuan kita untuk memenuhi target tsb.

Suatu hari, saya menantang seorang rekan kerja saya untuk berteriak sekuat-kuatnya di ruangan kerja.

Dia lantas bertanya: why?

Saya jawab: can you do it?

dia balas: of course not, why should I do it?

saya balas bertanya: why shouldn’t you do it?

dia heran, “what for anto, people will think I am crazy, you know?”

Saya yakin teman saya tentu mampu untuk berteriak, tapi dia tak melakukannya karna ‘berteriak’ di kantor itu tidak ada nilainya sama sekali. Utilitasnya rendah. Malah mendatangkan malu saja.

Dari illustrasi – illustrasi ini, kita dapat mengambil kesimpulan bawah Ekspetasi dan Nilai adalah dua faktor utama yang menentukan kesanggupan kita untu berbuat atau bertindak. Dalam contoh yang diberikan, kedua faktor ini tidak saling mempengaruhi. Dalam bahasa ‘Experimental research“, ekspetasi dan nilai hanyalah sebuah ‘main effect’ dari sebuah action. Sebagai illustrasi, ekspetasi rekan saya bahwa dia mampu berteriak keras-keras di ruangan dia, ternyata tidak mempengaruhi ‘value’ dari kegiatan berteriak itu, makanya dia menolak melakukannya.

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan menarik adalah apakah ekspetasi dan value saling mempengaruhi? jika iya, bagaimana?

Selanjutnya lagi, terserah anda, selamat berpikir.

Written by ahdar

November 7, 2006 at 4:47 pm

Posted in psikologi sosial