AHDAR: Sekali Duduk Sekali Baca

Ekspetasi X nilai

leave a comment »

Kenapa seseorang mau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan? Salah satu jawabannya adalah karena orang itu beranggapan bahwa dia mampu mengerjakannya. Coba tanyakan pertanyaan ini ke sebagian orang: Apakah anda mau mendaki puncak gunung Everest? tentu sebagian besar akan menjawab tidak karena itu mustahil dilakukan. “Uh, dibayar berapapun aku tak akan mau”, demikian mungkin jawaban kita. Sama halnya dengan jawaban seorang salesmen yang dikasih target untuk menjual sekian ribu produk dalam waktu satu bulan. Ujug-ujug menerima pekerjaan ini, si sales barangkali lebih memilih berhenti dari pekerjaannya daripada dipaksa untuk memenuhi target yang mustahil dicapai. “lebih baik aku berhenti saja, bos ku sudah gila !”

Secara naluriah kita mempunyai sebuah ’sense’ yang mengukur kemampuan apakah kita akan mampu melakukan sebuah ‘action’ atau tidak. Bandura menamakannya self-efficacy. Rasionalitas kita juga bermain disini. Secara rasio, tak mungkin rasanya menjual barang sebegitu banyak dalam waktu sebulan. Kita bisa menghitung-hitung berapa jumlah target konsumen yang ada dan berapa pula kemampuan kita untuk memenuhi target tsb.

Suatu hari, saya menantang seorang rekan kerja saya untuk berteriak sekuat-kuatnya di ruangan kerja.

Dia lantas bertanya: why?

Saya jawab: can you do it?

dia balas: of course not, why should I do it?

saya balas bertanya: why shouldn’t you do it?

dia heran, “what for anto, people will think I am crazy, you know?”

Saya yakin teman saya tentu mampu untuk berteriak, tapi dia tak melakukannya karna ‘berteriak’ di kantor itu tidak ada nilainya sama sekali. Utilitasnya rendah. Malah mendatangkan malu saja.

Dari illustrasi – illustrasi ini, kita dapat mengambil kesimpulan bawah Ekspetasi dan Nilai adalah dua faktor utama yang menentukan kesanggupan kita untu berbuat atau bertindak. Dalam contoh yang diberikan, kedua faktor ini tidak saling mempengaruhi. Dalam bahasa ‘Experimental research“, ekspetasi dan nilai hanyalah sebuah ‘main effect’ dari sebuah action. Sebagai illustrasi, ekspetasi rekan saya bahwa dia mampu berteriak keras-keras di ruangan dia, ternyata tidak mempengaruhi ‘value’ dari kegiatan berteriak itu, makanya dia menolak melakukannya.

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan menarik adalah apakah ekspetasi dan value saling mempengaruhi? jika iya, bagaimana?

Selanjutnya lagi, terserah anda, selamat berpikir.

Written by ahdar

November 7, 2006 at 4:47 pm

Posted in psikologi sosial

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.