Apakah teh bagus untuk anda?
Is tea good for you? sebagai seorang penggemar minum teh, tentu pertanyaan ini sangat menggelitik saya. Apakah sih khasiatnya minum teh? walau pernah saya baca tentang khasiat teh dari majalah-majalah populer yang pernah saya baca bahwa teh bisa mencegah kanker, tetapi rasanya belum puas kalau belum menemukan bukti ini langsung dari hasil-hasil penelitan yang dipublikasikan di jurnal-jurnal sains. Apakah benar, sekian puluh penelitian yang meneliti khasiat teh, akan menghasilkan kesimpulan yang sama bahwa teh memang manjur mencegah kanker?
Ketika saya sedang belajar meta-analysis – suatu teknik statistik untuk mensintesa hasil-hasil riset yang pernah dilakukan untuk suatu topik tertentu- dan mencari artikel yang berhubungan dengan metode kuantitatif ini, google mendamparkan saya di sebuah blog, alamatnya http://heingartner.com/blog/ Di blog ini, si penulisnya dengan rajin melaporkan hasil-hasil studi meta analisis di bidang obat-obatan, kesehatan dan psikologi yang pernah dipublikasikan oleh berbagai jurnal ilmiah. Tulisan si penulis ini untuk suatu topik yang dibahas singkat-singkat saja, cukup melaporkan topik meta analisisnya apa, lantas kesimpulan akhirnya apa.
Kenapa meta analysis menjadi sangat penting? Bayangkan jika ada seribu riset dilakukan untuk mengetahui apakah ada efek dari meminum teh terhadap kesehatan jantung, kalau iya, lantas seberapa besarkah pengaruhnya itu?. Bayangkan bahwa studi tentang ini dilakukan oleh para peneliti yang berbeda dengan metodologi riset yang bervariasi dan dengan karakteristik sampel yang beranekaragam (gender, ras, umur, dsb) . Bisa dimaklumi bahwa keseribu riset ini akan melaporkan hasil yang berbeda-beda. Mungkin ada yang menyimpulkan bahwa teh memang berkhasiat mencegah kanker, mungkin juga ada sebagian peneliti yang menemukan pengaruh teh, tetapi dengan efek yang tak seberapa. Dan mungkin beberapa penelitian ini menemukan bahwa sama sekali tak ada hubungannya minum teh dengan kesehatan jantung. Untuk hasil yang terakhir, bayangkan suatu penelitian dimana sampel yang diteliti adalah memang orang-orang yang mempunyai riwayat penyakit jantung turunan. Dijamin, pengaruh teh terhadap pencegahan penyakit jantung adalah nol. Disebabkan oleh adanya berbagai variasi dari kesimpulan hasil-hasil penelitian ini lah teknik meta-analysis menjadi sangat penting. Metode ini bisa menjawab keraguan kita, dalam contoh ini apakah teh benar-benar berkhasiat terhadap kesehatan jantung.
Nama meta-analysis (kadang ditulis dengan meta-analytic) diberikan oleh Gene V. Glass (http://glass.ed.asu.edu/gene/), seorang educational psychologist, di tahun 1976, ketika saat itu beliau masih menjadi dosen di University of Colorado at Boulder. Sebetulnya, jauh sebelumnya, teknik ini sudah dilakukan oleh salah seorang Godfather statistika abad ini, Karl Pearson.
Pearson ditengarai sebagai orang pertama yang melakukan meta-analysis ini pada tahun 1904. Pearson tak melabelkana apapun terhadap teknik ini. Barangkali, bagi orang sekaliber Pearson, meta-analysis hanyalah salah satu dari sekian banyak metode statistik, yang bagi dia sangat mudah dikerjakan. Waktu itu Pearson ingin mengetahui seberapa besar pengaruh inokulasi untuk melawan cacar. Pearson menyimpulkan bahwa pengaruh pemberian inokulasi terhadap cacar sangat signifikan. Karena jasa Pearson inilah, mungkin kita tak ragu lagu lagi sekarang untuk divaksinasi.
Dewasa ini tidak terhitung banyaknya penelitian-penelitan meta-analysis, seperti di bidang psikologi, marketing, sosiologi, psychoterapi, manajemen, ekonomi, politik, dsb.
Di blog seperti yang saya sebutkan di alinea kedua tulisan ini, saya baca bahwa teh memang bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung dan kanker, selain itu juga menyehatkan gigi. Kesimpulan ini dihasilkan dari studi literatur dengan teknik meta analisis dari paper-paper ilmiah yang meneliti topik ini dari tahun 1990-2004 . Hasil meta analisis ini dipublikasikan di Journal of Clinical Nutrition (http://www.nature.com/ejcn/journal/vaop/ncurrent/abs/1602489a.htm).
Setelah membaca hasil penelitian ini, dengan mantap saya berkata kepada diri saya sendiri:
Yes, I am a tea drinker.