Archive for February 23rd, 2007
Hedgehox atau Fox?
Beberapa waktu lalu, teman-teman mahasiswa PhD mengorganisir acara one-day workshop tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah doktor, riset, dan karir selepas dari training doktor. Karena sibuk mengerjakan penelitian, saya hanya bisa mengikuti sesi siang selepas makan siang. Sesi itu difasilitasi oleh seorang asisten profesor (AP) dari departemen organisasi. Fokus materi yang disampaikannya adalah apakah anda seorang hedgehox atau fox?
Hedgehox dan fox adalah dua jenis hewan yang mempunyai karakter yang saling bertolak belakang-sebuah fragmen yang dikenalkan pertama kali oleh seorang sastrawan yunani kuno, Archilocus: “the fox knows many things, but the hedgehox knows one big thing” *
Sebelum sesi dimulai, peserta harus mengisi kuisioner yang berisi berbagai pertanyaan yang bisa mengungkapkan apakah seseorang itu hedgehox atau fox.
Hasil kuisioner sungguh diluar dugaan AP. Dari 30-an mahasiswa doktor yang hadir ternyata sang hedgehox cuma 7 orang, selebihnya adalah si rubah fox. Hasil ini mencengangkan dan diluar dugaan saya, kata AP. Dijelaskannya, untuk menjadi seorang peneliti, profil yang pas adalah hedgehox bukan fox. Dan pendidikan doktor esensinya adalah menciptakan seorang hedgehox yang andal menggali lubang ilmu lebih dalam, meretas jalan di rongga-rongga tanah agar dikemudian hari pekerjaan penggalian ilmu bisa diteruskan dengan kontinu. Nah, seharusnya para mahasiswa doktor yang mengisi angket ini adalah para hedgehox penggali yang ulet bukan fox yang generalis lebar dan cuma bermain-main di permukaan saja.
Saya sendiri siang itu sedikit merasa aneh karena dari tujuh orang hedgehox, saya termasuk diantaranya. Padahal, melihat track record studi sebelumnya, saya seharusnya seorang fox. Barangkali ketika mengisi angket, saya teringat masa lalu saya yang tak pernah serius menetap di satu bidang ilmu. Sekarang sudah kapok.
Di akhir sesi, AP memberikan sebuah tip yang cukup penting : seorang hedgehox harus dibimbing oleh profesor yang hedgehox, dan fox tentu saja butuh seorang hedgehox untuk menggali lubang riset yang lebih dalam.
Saya menoleh ke kolega jerman yang duduk di samping saya. Saya katakan padanya dengan suara lirih seperti berbisik: saya seorang hedgehox yang dibimbing oleh seorang fox. What should I do? tanyaku.
Dia menjawab pelan: the fox is also with me. We have the same problem.
* http://berlin.wolf.ox.ac.uk/lists/onib/crowderrev.pdf
Menulis buku, membangun kepakaran(?)
Bermula dari ketercengangan saya (baca:tercengang negatif) ngintip diskusi soal keilmuan di sebuah milis (indonesia), menggelitik saya untuk menuliskan perasaan resah saya disini. Semula tulisan resah ini saya beri judul: Being a fake guru with a bounded unethical behavior. Tetapi karena takut jadi sok-sok an, saya ganti dengan judul diatas.
Membaca lalu lintas diskusi di milis tsb, membuat saya tercengang karena jawaban yang diberikan oleh key person (kp) di milist tersebut seperti jauh panggang dari api. Anehnya si kp dengan pede meladeni penanya dengan posisi seolah-olah betul-betul master di bidangnya. Padahal sebetulnya jawaban yang diberikan kp itu seperti sekenanya saja. Di ujung pertanyaan selalu ada kalimat: itu sudah dibahas di buku saya, diterbitkan oleh penerbit anu dan bisa dijumpai di toko anu. Maksudnya mungkin ini bagian dari promosi buku yang dia tulis. Saya bisa memberikan penilain tentang kualitas jawaban kp karena saya mempunyai beberapa resources sebagai pembanding.
Mungkin karena kp sudah menulis buku yang sangat laris tentang bidang itu sehingga dengan sendirinya image kepakaran terbangun dan melekat dengan sendirinya.Kata menulis saya tulis miring karena menulis bisa diartikan menerjemahkan dari buku asing alias comot sana comot sini.
Harus saya akui, atas nama inseminasi ilmu, praktek semacam ini sah-sah saja karena indonesia belum lah taraf knowledge producer. Yang saya masalahkan sebetulnya adalah bagaimana seharusnya sang penulis mensikapi proses inseminasi ini. Harusnya penulis berterus terang bahwa produk yang dia hasilkan adalah karya rangkuman dari berbagai sumber yang dia permudah dalam penyampaiannya. Dan ada bagian-bagian yang dia sendiri belum paham betul. Eh kalau begitu, kenapa nulis buku ?
Ketika saya menceritakan kepada rekan saya melalui chat, dia tertawa. “Contoh seperti ini, tidak satu dua di negeri pancasila. Di bidang saya juga ada.”
Melalui buku yang ditulis, menurut saya kp berhasil membangun image kepakaran terhadap dirinya karena pasar seperti katak dibawah tempurung (bounded): tidak mempunyai cukup kemampuan untuk bisa memberikan penilaian dan tidak mempunyai akses terhadap informasi untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk memberikan penilaian. Akibatnya judgment dari pasar menjadi bias.
Dalam kasus ini image bisa terbangun karena (1) pasar mengandalkan satu-satunya cue (petunjuk) yang mereka punyai dalam memberikan penilaiain yakni attribut profesor yang dipunyai kp, (2) produk buku yang dikeluarkan kp adalah salah satu-satunya yang ada di pasar (fast-mover advantage), (3) kp mempunyai image di bidang lain (mis manajemen) yang bisa ditransfer ke bidang lain karena konsumen tidak bisa menjelaskan dengan jelas keterkaitan antara bidang-bidang tsb. Sebagai contoh, karena ilmu manajemen organisasi, pemasaran, akuntansi, keuangan bisa di glue dalam satu pohon ilmu manajemen. Sehingga, mempunya label di organisasi, membuka peluang laris jika menulis buku pemasaran. Barangkali begitu, untuk konsumen yang mempunyai low-involvement dalam bidang tsb. Faktor lain yang tak kalah pentingnya menggerek image penulis buku tsb adalah jika buku serupa tidak ada di pasaran. Sehingga keberadaan satu-satunya buku itu dipasaran dianggap sebagai justifikasi bahwa penulis is the only person with the highest competency.
Agar penilaiain dari konsumen tidak menjadi bias dalam kasus yang saya tulis diatas, konsumen harus membuka wawasan dirinya untuk mencari informasi sebanyak-banyak berkaitan dengan bidang yang diminati. Carilah nama orang-orang yang betul-betul key person di bidangnya. Biasanya, mereka-mereka ini mempunyai sifat altruism yang lumayan tinggi. Mereka tidak butuh terkenal lagi. Sering saya dapati mereka menyediakan paper-paper karya mereka di situs-situs mereka yang bisa diunduh.
Berbeda dengan sebagian peneliti di Indonesia, menulis buku, bukanlah cita-cita utama dari peneliti barat. Kompetensi mereka dinilai bukan dari buku yang mereka tulis,tapi dari kuantitas dan kualitas jurnal yang mereka publish melalui proses blind-review. Identitas peneliti dikenal dari topik yang secara kontinu mereka tulis di jurnal. Rata-rata dari mereka barulah mulai menulis buku setelah mendapatkan rekognisi dari komunitas akademik atau ketika kegiatan riset mulai menurun, atau ketika menginjak usia pensiun sehingga banyak waktu untuk merekapitulasi ilmu.
Baru-baru ini, saya mengunjungi situs Max Bazerman*, pakar rational negotiation dari Harvard university. Di situsnya Bazerman menyediakan form untuk pemesanan paper-papernya. Saya klik lah beberapa paper untuk membuktikan apakah Bazerman betul-betul serius. Kurang dari sejam, saya menerima imel dari sekretaris si prof: these are the papers, enjoy !
Pengalaman ini membuktikan bahwa knowledge begitu bertebaran di internet yang bisa diraup dan disebarkan kapan saja. Kuncinya cuma satu, kemampuan bahasa inggris. Tapi sementara itu pula, sebagian oknum memandang peluang ini dengan cara-caranya sendiri, entah untuk maksud apa.
Barangkali memang judul tulisan ini seharusnya: Being a fake guru with a bounded unethical behavior
*http://www.people.hbs.edu/mbazerman/