Archive for April 2007
Kuliah Istimewa Selten
Peserta yang hadir di ruangan yang letaknya dibawah Mensa (restoran universitas) itu kira-kira 35 orang. Tidak ada pimpinan universitas terlihat, tidak juga pimpinan fakultas, tidak juga para profesor senior di fakultas dan jurusan. Peserta yang hadir didominasi oleh dosen dan mahasiswa doktor dari satu departemen saja: ekonomi kuantitatif.
Mata saya menyapu ruangan begitu cepat. Ada beberapa bangku yang masih kosong di bagian kanan ruangan. Di bagian belakang deretan bangku yang kosong itu, seorang mahasiwa berwajah oriental duduk dengan santai. Di belakang orang ini, seorang Belanda yang cukup saya kenal duduk dengan kedua tangannya menopang dagu dengan sikut menekan meja. Saya merasakan suasana yang sangat biasa dan monoton. Begitulah kesan yang saya tangkap sembari berjalan menuju bangku di belakang melewati moderator yang sedang memperkenalkan sang pembicara pagi ini. Tidak ada kesan istimewa. Padahal pembicara di kolokium rutin yang diadakan research school pagi ini adalah salah seorang pemenang hadiah nobel. Pasti, beberapa orang pintar di fakultas ini pernah punya mimpi meraih perhargaan paling bergensi ini.
Bapak tua yang sedang bersiap-siap memberikan kuliah itu bernama Reinhard Selten. Oleh karena nama besarnya lah saya nekad untuk menyaksikan kuliahnya walau saya sangat buta dengan bidang ilmu beliau,bahkan untuk level introduction sekalipun. Ingat namanya orang pasti ingat nama John Nash. Ingat John Nash, pasti ingat filem Beautiful Minds. Selten dengan John Nash berbagi hadiah nobel di bidang ekonomi pada tahun 1994. Tidak ada filem holywood untuk Selten. Selten tidak mengidap schizoprenia seperti Nash. Karena setengah yahudi, Selten pernah menjadi refugee karena kekejaman Nazi Hitler. Tapi mungkin itu belum cukup menarik untuk di film kan. Saingan Selten cukup banyak kalau tema ini yang dijual.
Tahun 2002, prof. Ariel Rubinstein dari Tel Aviv university datang berceramah ke Tilburg. Sebelum dia datang, gaungnya sudah terasa. Jauh hari para calon peserta diberikan kuisioner yang disiapkan Ariel. Maksudnya, hasil dari survey tsb akan dibahasnya saat dia memberikan kuliah. Saya masih ingat, ruangan yang disiapkan buat dia sangat besar. Peserta yang datang sangat membludak. Beberapa orang malah duduk lesehan di anak tangga menuju podium. Waktu itu saya hampir tak mendapatkan tempat duduk. Prof Ariel ini adalah peneliti terkemuka di bidang Game Theory. Di kuliahnya baru saya tahu bahwa dia termasuk salah seorang yang menominasikan John Nash untuk meraih Nobel pada tahun 1994 itu.
Kolokium Selten segera dimulai.
Selten tidak berbicara Game Theory dan ekonomi. Ini mengejutkan bagi saya karena diluar dugaan. Tema kuliah Selten adalah bagaimana sebuah kata tercipta. Linguistik dan Game theory ! Di slide pertama Selten, dijelaskan bahwa kata bisa tercipta melalui dua proses: secara kognitif dan melalui interaksi sosial. Untuk berinteraksi, syarat utama yang harus dipenuhi adalah adanya sender dan receiver. Hal terakhir inilah fokus kuliah pagi ini.
Hampir satu jam berlalu. Kolokium hampir selesai. Tidak banyak yang bisa saya cerna di kuliah Selten. Otak saya tidak sanggup rasanya mengikuti kuliahnya secara keseluruhan. Terlalu detail.Sesi tanya jawab sudah dimulai. Cuma ada tiga penanya.
Tetapi saya masih bersyukur ada satu yang saya ingat dari slidenya.
“It is good for a leader to send messages in constant codes to reduce misunderstanding among receivers”.
Kalimat yang sederhana dan mengandung pesan moral. Gaungnya terasa lain karna yang mengucapkannya adalah Reinhard Selten.
Contoh Sunk Cost Efek
Ada yang menarik dari pernyataan Gubernur Riau, Ismeth Abdullah ketika menjawab pertanyaan wartawan setelah menghadap SBY (Detikcom, 16 April 2006). Berkaitan dengan berbagai desakan agar IPDN dibubarkan, Gubernur mengatakan bahwa Riau tetap akan mengirimkan wakilnya untuk menjadi mahasiswa IPDN karena “…investasi mendirikan IPDN mahal sekali”.
Pernyataan ini mengingatkan saya kepada salah satu eksperimen tentang Sunk Cost efek oleh Arkes & Blumer (1985). Menurut teori ini manusia cenderung untuk meneruskan rencana yang telah mereka usahakan karena investasi (waktu,tenaga, uang) yang telah dikeluarkan sudah demikian banyak walaupun ada alternatif lain yang tersedia yang hasilnya mungkin lebih menjanjikan.