AHDAR: Sekali Duduk Sekali Baca

Archive for July 2007

Milton Friedman dan Free to Choose

without comments

Tahun 1980, Milton Friedman-pemenang hadiah Nobel ekonomi- membawakan TV series yang berjudul Free to Choose. Series ini diproduksi ulang kembali tahun 1990. What surprise me, pembuka series ini adalah Arnold Suasana Seger. Look smart, apa karna ini ya orang milih dia jadi gubernur California :D

http://www.ideachannel.tv/

Written by ahdar

July 31, 2007 at 9:56 pm

Posted in diari

Mau Untung Malah Jadi Buntung

without comments

Salah satu illustrasi cerita yang sering didiskusikan di dunia “Behavioral Science” adalah prisoner dilemma, ditemukan oleh seorang pakar matematika W. Tucker. Ceritanya begini:

Dua orang penjahat baru saja ditangkap polisi, kemudian ditempatkan di dua ruang interogasi yang terpisah. Satu sama lain tidak bisa saling berkomunikasi. Keduanya terancam untuk diinapkan di hotel prodeo atas kejahatan yang mereka lakukan. Pada saat interogasi mereka dihadapkan pada pilihan berikut:

Satu. Jika salah satu dari mereka mengaku sedangkan yang lainnya bungkam, maka yang mengaku akan dibebaskan. Sedangkan satunya akan meringkuk 20 tahun di penjara.

Dua. Jika masing-masing mengakui perbuatannya, mereka akan dikenakan hukuman 5 tahun penjara.

Tiga. Jika keduanya memilih tetap bungkam, maka masing-masing dihukum 1 tahun penjara.

Dari persoalan pelik yang mereka hadapi ini, solusi yang paling aman adalah sama-sama diam karena ancaman hukuman hanya 1 tahun untuk keduanya. Tetapi siapa yang bisa percaya kalau kawan si penjahat satunya juga diam? Namun jika yang satu berkicau sedangkan yang satunya lagi diam, yang terakhir akan meringkuk 20 tahun di penjara. Tetapi jika salah seorang berharap dia dilepaskan dengan mengakui perbuatannya dan berharap temannya diam, ada kemungkinan justru dia akan kena 5 tahun penjara kalau ternyata temannya ini juga mengaku. Dalam keadaan seperti ini, mau untung malah jadi buntung.

Prisoner dilemma adalah satu contoh dari bentuk Commitment problems. Karakteristik dari masalah ini adalah: orang bisa dapat hasil terbaik jika mereka mempunyai komitmen untuk melakukan sesuatu cara yang berlawanan dengan keinginan dia.Dari contoh diatas, jika kedua penjahat itu berkomitmen untuk tetap bungkam, maka keduanya dapat hukuman yang lebih ringan daripada jika salah seorang dari mereka mengakui perbuatannya. Jadi masalah utamanya adalah tidak adanya trust antara mereka keduanya.

Written by ahdar

July 11, 2007 at 8:34 pm

Posted in psikologi sosial

Stetoskop dan sweater tebal

without comments

Musim panas tahun 2003, saya pulang ke Indonesia. Tepatnya berlibur ke kota tercinta. Akibat kondisi badan yang cukup lelah setelah menempuh perjalanan panjang antara Belanda dan Indonesia,ditambah lagi dengan beda cuaca kedua negara yang cukup drastis, saya kena demam panas. Badan rasanya panas dingin, beberapa hari itu saya selalu memakai sweater tebal,padahal udara luar cukup panas.Saya mencoba bertahan untuk tidak pergi ke dokter. Sakit seperti ini di Belanda tergolong ringan,paling-paling dokter akan menyarankan untuk beristirahat yang banyak dan minum jus jeruk banyak-banyak. Oleh karena itu saya selalu menghindari minum obat untuk sakit yg ringan seperti ini. Saya takut nantinya kalau ke dokter,akan diberi antibiotik !

Karena desakan orang tua, akhirnya saya memutuskan pergi ke dokter spesialis. Begitulah,kebebasan yang dipunyai di Indonesia, orang sakit bisa langsung ke spesialis tanpa perlu datang ke dokter umum. Yang penting, duit tebal tersedia.

Saya dipersilakan masuk oleh perawat. Di dalam ruangan prakter si dokter spesialis yang juga professor ini sudah ada beberapa pasien menunggu giliran. Sekilas, rasanya privasi pasien tidak ada karena percakapan antara pasien dengan dokter bisa didengar. Giliran saya diperiksa pun tiba.

“Sakit apa?” tanya dokter. “demam dan pilek” balasku.

Si dokter langsung memasang stetoskop ditelinganya dan menempelkan alat sensor untuk memeriksaku. Mula-mula alat itu ditempel-tempelkan di dadaku kemudian ke punggungku. Dari tadi, sweater tebal masih saya pakai. Entah apa yang didengar dokter ini dari stetoskopnya.

“Sudah” kata si dokter. 

Pemeriksaan rupanya sudah selesai.   Dokter beranjak ke meja tulisnya untuk menuliskan resep.

“Ini resepnya bisa ditebus di apotik depan!”

Written by ahdar

July 9, 2007 at 1:59 pm

Posted in ota