Archive for the ‘diari’ Category
Situs karir akademik
Milton Friedman dan Free to Choose
Tahun 1980, Milton Friedman-pemenang hadiah Nobel ekonomi- membawakan TV series yang berjudul Free to Choose. Series ini diproduksi ulang kembali tahun 1990. What surprise me, pembuka series ini adalah Arnold Suasana Seger. Look smart, apa karna ini ya orang milih dia jadi gubernur California
Kuliah Istimewa Selten
Peserta yang hadir di ruangan yang letaknya dibawah Mensa (restoran universitas) itu kira-kira 35 orang. Tidak ada pimpinan universitas terlihat, tidak juga pimpinan fakultas, tidak juga para profesor senior di fakultas dan jurusan. Peserta yang hadir didominasi oleh dosen dan mahasiswa doktor dari satu departemen saja: ekonomi kuantitatif.
Mata saya menyapu ruangan begitu cepat. Ada beberapa bangku yang masih kosong di bagian kanan ruangan. Di bagian belakang deretan bangku yang kosong itu, seorang mahasiwa berwajah oriental duduk dengan santai. Di belakang orang ini, seorang Belanda yang cukup saya kenal duduk dengan kedua tangannya menopang dagu dengan sikut menekan meja. Saya merasakan suasana yang sangat biasa dan monoton. Begitulah kesan yang saya tangkap sembari berjalan menuju bangku di belakang melewati moderator yang sedang memperkenalkan sang pembicara pagi ini. Tidak ada kesan istimewa. Padahal pembicara di kolokium rutin yang diadakan research school pagi ini adalah salah seorang pemenang hadiah nobel. Pasti, beberapa orang pintar di fakultas ini pernah punya mimpi meraih perhargaan paling bergensi ini.
Bapak tua yang sedang bersiap-siap memberikan kuliah itu bernama Reinhard Selten. Oleh karena nama besarnya lah saya nekad untuk menyaksikan kuliahnya walau saya sangat buta dengan bidang ilmu beliau,bahkan untuk level introduction sekalipun. Ingat namanya orang pasti ingat nama John Nash. Ingat John Nash, pasti ingat filem Beautiful Minds. Selten dengan John Nash berbagi hadiah nobel di bidang ekonomi pada tahun 1994. Tidak ada filem holywood untuk Selten. Selten tidak mengidap schizoprenia seperti Nash. Karena setengah yahudi, Selten pernah menjadi refugee karena kekejaman Nazi Hitler. Tapi mungkin itu belum cukup menarik untuk di film kan. Saingan Selten cukup banyak kalau tema ini yang dijual.
Tahun 2002, prof. Ariel Rubinstein dari Tel Aviv university datang berceramah ke Tilburg. Sebelum dia datang, gaungnya sudah terasa. Jauh hari para calon peserta diberikan kuisioner yang disiapkan Ariel. Maksudnya, hasil dari survey tsb akan dibahasnya saat dia memberikan kuliah. Saya masih ingat, ruangan yang disiapkan buat dia sangat besar. Peserta yang datang sangat membludak. Beberapa orang malah duduk lesehan di anak tangga menuju podium. Waktu itu saya hampir tak mendapatkan tempat duduk. Prof Ariel ini adalah peneliti terkemuka di bidang Game Theory. Di kuliahnya baru saya tahu bahwa dia termasuk salah seorang yang menominasikan John Nash untuk meraih Nobel pada tahun 1994 itu.
Kolokium Selten segera dimulai.
Selten tidak berbicara Game Theory dan ekonomi. Ini mengejutkan bagi saya karena diluar dugaan. Tema kuliah Selten adalah bagaimana sebuah kata tercipta. Linguistik dan Game theory ! Di slide pertama Selten, dijelaskan bahwa kata bisa tercipta melalui dua proses: secara kognitif dan melalui interaksi sosial. Untuk berinteraksi, syarat utama yang harus dipenuhi adalah adanya sender dan receiver. Hal terakhir inilah fokus kuliah pagi ini.
Hampir satu jam berlalu. Kolokium hampir selesai. Tidak banyak yang bisa saya cerna di kuliah Selten. Otak saya tidak sanggup rasanya mengikuti kuliahnya secara keseluruhan. Terlalu detail.Sesi tanya jawab sudah dimulai. Cuma ada tiga penanya.
Tetapi saya masih bersyukur ada satu yang saya ingat dari slidenya.
“It is good for a leader to send messages in constant codes to reduce misunderstanding among receivers”.
Kalimat yang sederhana dan mengandung pesan moral. Gaungnya terasa lain karna yang mengucapkannya adalah Reinhard Selten.
Hedgehox atau Fox?
Beberapa waktu lalu, teman-teman mahasiswa PhD mengorganisir acara one-day workshop tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah doktor, riset, dan karir selepas dari training doktor. Karena sibuk mengerjakan penelitian, saya hanya bisa mengikuti sesi siang selepas makan siang. Sesi itu difasilitasi oleh seorang asisten profesor (AP) dari departemen organisasi. Fokus materi yang disampaikannya adalah apakah anda seorang hedgehox atau fox?
Hedgehox dan fox adalah dua jenis hewan yang mempunyai karakter yang saling bertolak belakang-sebuah fragmen yang dikenalkan pertama kali oleh seorang sastrawan yunani kuno, Archilocus: “the fox knows many things, but the hedgehox knows one big thing” *
Sebelum sesi dimulai, peserta harus mengisi kuisioner yang berisi berbagai pertanyaan yang bisa mengungkapkan apakah seseorang itu hedgehox atau fox.
Hasil kuisioner sungguh diluar dugaan AP. Dari 30-an mahasiswa doktor yang hadir ternyata sang hedgehox cuma 7 orang, selebihnya adalah si rubah fox. Hasil ini mencengangkan dan diluar dugaan saya, kata AP. Dijelaskannya, untuk menjadi seorang peneliti, profil yang pas adalah hedgehox bukan fox. Dan pendidikan doktor esensinya adalah menciptakan seorang hedgehox yang andal menggali lubang ilmu lebih dalam, meretas jalan di rongga-rongga tanah agar dikemudian hari pekerjaan penggalian ilmu bisa diteruskan dengan kontinu. Nah, seharusnya para mahasiswa doktor yang mengisi angket ini adalah para hedgehox penggali yang ulet bukan fox yang generalis lebar dan cuma bermain-main di permukaan saja.
Saya sendiri siang itu sedikit merasa aneh karena dari tujuh orang hedgehox, saya termasuk diantaranya. Padahal, melihat track record studi sebelumnya, saya seharusnya seorang fox. Barangkali ketika mengisi angket, saya teringat masa lalu saya yang tak pernah serius menetap di satu bidang ilmu. Sekarang sudah kapok.
Di akhir sesi, AP memberikan sebuah tip yang cukup penting : seorang hedgehox harus dibimbing oleh profesor yang hedgehox, dan fox tentu saja butuh seorang hedgehox untuk menggali lubang riset yang lebih dalam.
Saya menoleh ke kolega jerman yang duduk di samping saya. Saya katakan padanya dengan suara lirih seperti berbisik: saya seorang hedgehox yang dibimbing oleh seorang fox. What should I do? tanyaku.
Dia menjawab pelan: the fox is also with me. We have the same problem.
* http://berlin.wolf.ox.ac.uk/lists/onib/crowderrev.pdf
Belajar “Discovering Psychology”
Discovering Psychology merupakan salah satu acara PBS-TV series yang diramu dan dibawakan oleh prof psikologi dari Stanford, Philip Zimbardo-mantan presiden AMA (American Psychological Assocation) bertujuan untuk memasyarakatkan psikologi. Dibaca dari deskripsi program di website yang memuatnya, seri ini di produksi AMA pada tahun 1990 dan 2001.
Ada 26 tema yang dibahas dengan durasi sekitar 30 menit per tema, mulai dari psychology sebagai ilmu, brain, emotion, judgement, sampai ke cross-cultural psychology.
Walau di level pengantar, seri ini menurut saya sangat menarik karena di setiap temanya bisa kita simak langsung penjelasan dari key researchers di tema ybs. Sungguh menarik bukan, mendengarkan paparan suatu teori atau konsep-konsep dari sang penemunya sendiri. Dan diantara dari mereka ini sudah menjadi legenda di dunia psikologi.
Barusan saya nonton tema judgement and decision making. Di acara ini beberapa maha guru yang diwawancarai Philip adalah: Amos Tversky dan Daniel Kahneman dengan Heuristics nya, Irving Janis dengan Group Negotiation, Max Bazerman dengan rational negotiation, dan Leon Festinger sang empu Cognitive Dissonance.
Seri gratis gratis ini bisa diliat di alamat dibawah dengan terlebih dulu sign-up ke website ybs.
http://www.learner.org/resources/series138.html?pop=yes&vodid=558891&pid=1502#
Online Readings in Cross-Cultural Psychology
Online readings ini berisi kumpulan paper dengan berbagai topik di bidang cross-cultural psychology-salah satu cabang ilmu psikologi yang membahas aspek budaya dan psikologi
http://www.ac.wwu.edu/~culture/contents_complete.htm
atau
A celebration for a new life
Tanggal 12 Nov 2006, hari minggu malam jam 23.06, Alhamdulillah, Ilham Idraki Ahmad lahir di rumah sakit AZM Maastricht.
———————————-
* A celebration for a new life *
Any attemps to eliminate a human life should be condemned
because killing one man is the same as killing the entire humankind
A new life should be celebrated
because when the time we are all die
life and our paths will still exists
because of the new souls.
~ahdar
Kabar dari Gorrie
Tulisan itu berjudul : Kabar dari Gorrie, tertera di salah satu halaman pada seksi ppik 1996-1997, di situs http://baikoeni.multiply.com . Siapa lagi penulisnya kalau bukan, Mak Efri. Sejak tahun 1998, bermula di kamp Cibubur, staf KBRI Brunei Darussalam ini aku panggil dengan sebutan Mamak.Sebutan ini aku lekatkan karena dia lah satu-satunya peserta dari Sumatera Barat waktu itu dan pembawaannya yang memang seperti “angku panghulu” alias ninik mamak awak, kepala suku dari turunan Minang yang ada di Cibubur saat itu.Sedangkan saya adalah utusan dari propinsi Jawa Barat. Sejak sama-sama jadi peserta program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada, persahabatan kami berlanjut sampai sekarang. Setelah 10 tahun berlalu, sejuta kenangan di program itu dibongkar kembali oleh Mak Efri. Mengejutkan ! karena ternyata segala catatan-catatan hariannya masih rapi tersimpan. Entah angin apa yang membawa, sebagian catatan-catatan itu ditempelkan Mak Efri di websitenya. Kata orang Minang, “coki kitö” pun terbuka. Yang lebih mengejutkan, lagi sebuah foto yang saya sendiri sudah lupa, ditempel Efri di websitenya. Foto ini bisa diliat disini. Saya lagi mengendarai traktor. Di belakangnya ibu angkat saya, sedang membenamkan biji bawang ke tanah.Foto itu diambil pada awal musim gugur tahun 1996, di sebuah kampung peternakan bernama Gorrie, sekitar 20 menit dari kota kecil Listowel, di propinsi Ontario, Kanada.
Hidup sebagai petani dadakan di Gorrie ternyata tidak mudah. Ada 100 ekor domba di peternakan orang tua angkat saya. Luas tanah penggembalaan di samping rumah, adalah 100 acres. Kami cuma berempat di rumah. Ibu dan bapak angkat, saya, dan counterpart Geoff yang berasal dari NewFoundland-propinsi di ujung timur Kanada. Bagi Geoff, pekerjaan di ladang adalah menyenangkan.Tidak bagi saya yang rikih. Saya stress. Cuaca musim dingin disana sangatlah dingin. Kadang saya masih bekerja di barn (kandang), di suhu -10,pernah sampai -20. Darah segar meleleh dari hidung. Telinga dan jari seperti ditusuk-tusuk, padahal pakaian yang saya kenakan sudah berlapis lima. Sekarang saya tahu, bahwa saat itu saya sedang diintai oleh Frostbite, seperti yang banyak dialami para pendaki gunung es Everest itu.
Pekerjaan saya sangat rutinitas.Pagi2 buta sekali,saya harus memberikan susu kepada beberapa anak domba, trus memberi makan kawanan itik dan ayam. Setelah selesai barulah, mengurusi kandang. Selalu ada kerjaan. Saya merasa tertekan hebat. Daya adaptasi saya kalah cepat dengan beban dan tantangan yang saya terima. Harusnya saya tak menderita tekanan seperti ini. Saya sudah menjalani masa perploncoan di ITB yang katanya keras dan sadis. Tetapi, sekeras-kerasnya perploncoan, tamparan alam lebih keras lagi. Mau mundur dari program malu rasanya. Di kala tertekan seperti ini, Mak Efri lah yang saya jadikan tempat curhat. Dia dan dan grupnya tinggal di kota Goderich, cukup jauh dari Gorrie. Curhat saya ke Efri pertama-tama hidup di desa Gorrie, propinsi Ontario, Canada bisa dibaca ditulisan dia yang berjudul: Kabar dari Gorrie.
===
Kabar dari Gorrie (http:baikoeni.multiply.com)
Meskipun kami sibuk mengikuti kegiatan di tempat kerja maupun menyelenggarakan EAD, namun hubungan komunikasi dengan sesama teman
Indonesia masih berlanjut. Komunikasi saya dengan Ahmad Daryanto yang tinggal di Gorrie, Listowel cukup intensif. Sebagai sesama Anak Minang yang jauh di perantauan kami saling berbagi cerita. Beberapa pucuk
surat saya kirimkan kepada Anto dan bahkan dia sempat berkomunikasi langsung melalui telpon seraya mengabarkan sedang mengirim
surat yang dilampiri beberapa foto. Surat pertamanya tertanggal Gorrie, 2 Oktober 1996 (Malam Kamih). Ditulis dalam suasana sedikit sedih karena workplacementnya tidak seperti yang diharapan. Dia kerja di peternakan dan pertanian orang tyua angkat sendiri. Berkat curhat dengan PL-nya akhirnya Anto ditempatkan juga di sekolah. Suratnya ditulis dalam bahasa Minang dan sepertinya kami “meratapi” nasib yang terpasah jauh di negeri orang. Awal kehidupan berjinak-jinak sebagai “anak dagang sangsai”.
Ini suratnya:
Gorrie, 2 Oktober 1996 (Malam Kamih) Baa kaba Mamak di sinan? Lai sehaik-sehaik sajo? Iyo bana sanang hati Ambo ko ah, manarimo surek dari Angku, Mamak. Baa ka indak? Sadang awak bamanuang-manuang mangana kampuang… eh datang surek dari konco. Baa… tu?Awak ko kan alah marantau jauh kini ko, Mak. Bak kato pantun urang kito: Daripado den lalu di Jam Gadang Elok di Janjang Ampek PuluahDaripado bansaik den baok pulangElok den marantau jauh……. (Kampuang Mamak bana ko mah…???) Iko kan carito e… ha..ha…Mandanga carito Mamak dalam surek nan kapatang nantun, iyo sanang bana Mamak nampaknyo. Apolai tingga se batigo jo jando. Babahayo tu mah…. Inyo kijok-e beko, apolai mandanga karajo Mamak tu… iyo banyak tantangan dan faedahnyo tu… mah… Amin.Ambo di siko indak tingga di Listowel doh… tapi di Gorrie kiro-kiro 15 menit dari Listowel. Ambo tingga di farm, jadi karajo jo urang gaek ambo. Inyo indak punyo anak doh, hanyo duo ikua anjiang, saratuih biri-biri, tigo ikua kambiang, ditambah bamacam-macam ladang sayuran. Di siko langang se, awal mulo ambo sempat komplain ka PL. Pucuak dicinto ulam tibo… mulai Senin patang, urang tua ambo nan laki-laki karajo ka lua kota. Inyo maambiak karajo lain. Soalnyo disiko indak ado nan kadikarajoan lai. Salain tiok hari Kamih kito mambagian hasia ladang ka konsumen di Kichener (labih kurang 75 km dari siko). Jadi satiok hari Kamih, ambo ka sinan. Dan ambo kini tiok hari Senin-Selasa karajo jadi asisten guru di Listowel Central Public School untuk grade 7 dan 8. Hari Rabu dan Kamih karajo di Ladang asyik juo. Duo minggu nan lalu ambo basobok jo Rila dan Sylvie di farm. Mungkin inyo lai bacarito ka Angku.Baa kaba kawan nan lain? Si Pipit, Achong, Lili, Deti, Gusti. Ondeh… iyo panek pulo tangan ambo, Mak!Alamaik ambo:
Anto c/o Richard+Deb DuimeningRR # 2,
Gorrie, OntarioNOG1X0
PS: Oi, Mak !, Capek baleh surek ambo ko. Kalau indak putuih kito badunsanak……
Dalam suratnya tertanggal 4 Oktober 1996, Ahmad Daryanto merasa gembira menerima surat saya yang saya tulis bercerita gaya sastra klasik Minangkabau. Di dalamnya saya selipkan berbagai pantun, mamang dan bumbu sastra klasik. Dia merasa senang membacanya karena mengingatkan ketika dia terlibat dalam pementasan randai “Anggun Nan Tongga” di Unit Kesenian Minangkabau – Institut Teknologi Bandung (ITB). Ahmad Daryanto bekerja di ladang peternakan milik orang tua angkatnya. Sepertinya dia kurang senang karena tidak banyak bergaul dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Orang tua angkatnya memelihara kambing, domba dan kuda. Setiap hari dia “bergembala” ternak dan bilamana ada pesanan, ternak itupun dibawa ke rumah pemotongan. Disamping itu, setiap tiga minggu sekali dia bekerja di sekolah membantu guru. Untunglah dia berkesempatan mengunjungi berbagai universitas di sekitar Listowel seperti University of Waterloo dan Guelph of University.
Gorrie, 4 Oktober 1996
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Ambo baru mambuka foto-foto di Kanada ko bana mah, Mamak. Iyo takajuik ambo mambaco surek Mamak. Mangko, kato partamu, surek Mamak tuh iyo sabana “Mamak”. Baa ka indak, kato-katonyo saroman bana jo urang saisuak.. he.. he… Tapi iko di Kanada ko bak nantun…. Kato kaduo, takuik ambo jo Mamak kalau Mamak indak marilaan ambo dunia akhiraik. Apolai ka putuih pulo badunsanak. Ah iyo abih ambo.Indak ado bagai doh, surek Mamak tuh kanai pijak kaki jawi sabab disiko nan ado kambiang nyoh, atau biri-biri, indak kabau bagai doh… ha..ha.. jaan berang …. Jan bangih pulo. Indak ado niaik ambo coitu… iko lah tibo surek ambo.Ambo kini karajo di sekolah 3 kali saminggu. Hari Kamih di farm tapi dek musim dingin lai indak sabanyak nan patang-patang ko. Patangko bisa sampai jam 8 bagai. Hari Rabu bisuak kito di group study tour ka University of Waterloo. Hari Jumaik malam “culture show”. Disiko latihan lai lancar-lancar sajo, tapi kadang-kadang sakik gigi juo ambo mancaliak bule-bule tuh. Baa ka indak kadang-kadang bak joinyo sajo. O..Mak. Salamaik ! Kabanyo “culture show” angku lancar bana. Kok untuang ambo ingin sukses pulo. Baa Tari Rantak tuh.. Lai maantak-antai, ndak?. Untuak “culture show” hari Jumaik ko, Ambo manari piriang untuak pambukaan, jaipongan jo si Anet, Saman, Quebec dance… ampek tari. Lupo ambo caritoan. Saminggu nan lalu, Sabtu sampai Minggu, Ambo lalok di Guelph karano ambo ikuik workshop pertanian di Guelph of University. Ambo ikuik jo si Getmi dan tigo bule. Itu se barito nan baru-baru ko dari Ambo. Tangan lah panek. Mato alah mangantuak. Ah badan iyo alah litak. Cukuik di siko se. Jo kirim salam ka kawan-kawan. Rila, Pipit, Achong, Deti, Gusti, Lili jo bule-bule bagai. Kalau indak Mamak baleh capek, tapaso beko putuih awak ba “Mamak-Kamanakan”.
Salam, Anto PS: Iko iyo sabana ambo tulih tgl ampek antah baa dek karano sibuk (ceilah..) ampia lupo ambo….
Buka bersama
Mikey is cool. Ternyata acara buka puasa bersama di rumah baru di shoot oleh Mikey. Kami baru tahu setelah Frank dan anaknya Laura datang ke rumah sore malam takbiran tadi. Shooting ala Mikey ini dapat dilihat di
http://www.youtube.com/watch?v=nzUpsKWLQm8
Thanks Mikey !
verloskamer (bag. 1)
Sirene meraung-raung mendekati bus no.1 jurusan de Heer.Ara sedang kepayahan menahan kesal karena sedari tadi bus yg ditumpangi terjebak macet lebih 1 jam di markt. Secarik kertas dari dokter di tas kecil Ara berisikan sebuah tulisan yang sangat penting:verloskamer. Ya, ara harus segera dibawa ke kamar bersalin.Ini untuk memastikan kenapa ada bercak darah sejak jam 5 kemaren.
“Bercaknya persis dengan bercak pas di hari pertama menstruasi”.Ara menjelaskan ke dokter Wolfs dalam bahasa inggris tadi pagi di ruangan praktiknya.
“I hate to hear that there is a bleeding in the 6 months of pregnancy”, kata dokter Wolfs sembari menghela nafas yang panjang . Dokter Belanda ini sangat ramah dan penuh humor kepada pasiennya. Jarang sekali wajah khawatir dia pasang. Kali ini raut wajahnya sedikit tegang. Jam hampir menunjukkan pukul 10.30 pagi. Ini hari jumat.kalau bleeding ara tidak segera diketahui penyebabnya, bisa jadi fatal.
“I will call the gynecologist to know what we should do”.
Aku dan Ara saling berpandangan.sejurus kemudian berusaha memasang kuping kencang-kencang untuk menangkap apa isi percakapan dokter dengan gyncologist Academische Ziekenhuis Maastricht. Sayang, dengan kemampuan bahasa Belanda kami yang pas-pasan, tak banyak yang bisa kami tangkap.Huisart Wolfs meletakkan gagang telpon kemudian mengambil memo di mejanya dan berkata.
“You have to go to the hospital right away. A gynecologist will examine you in the delivery room or in dutch,it means verloskamer”, dokter Worlfs menyerahkan memo itu kepada kami.
“Kenapa istriku harus dibawa ke verloskamer dok?”,tanyaku heran.
“yes, because there, they have a complete set of equipment to check what is the cause of the bleeding”, terang dokter Worlf. Dia melanjutkan. Verlos itu artinya pelepasan,maknanya bukan melepaskan bayi saja, tetapi juga melepaskan segala kekhawatiran yang melanda,seperti yang dialami Ara sekarang. Kalau penyebab bleedingnya sudah kita ketahui, Ara akan tenang kan? dokter Worlfs mulai tersenyum.
Sejurus kemudian kami pun berkelakar dan tertawa ketika dokter Wolfs menceritakan pengalaman dia diundang oleh tetangganya yang Arab. “I dont know my host because what I see only her eyes covered with a black veil”. Kami tidak tahu kenapa dokter Wolfs tiba-tiba menceritakan ini. Mungkin karena dia liat jilbab Ara yang seperti jilbab umumnya muslim di Indonesia yang dia rasa berbeda dengan jilbab tetangganya itu.
Dokter Wolfs menghantarkan kami sampai ke pintu luar dan menyalami kami, “Good luck !”. Jarang sekali dokter-dokter di Indonesia mau menghantarkan tamunya ke depan pintu seperti dokter Belanda ini.
Kami berjalan ke arah halte Emmaplein melalui jalan tempat tinggal kami sendiri. 10 menit kemudian kami sudah sampai, dan syukur 10 menit berikutnya bus no 1 jurusan de Heer pun datang.Bus penuh dengan penumpang.Mungkin semua pada mau ke markt karena hari jumat ini adalah hari pasar.
Sesuatu yang tidak kami perkirakan sebelumnya pun terjadi. Ketika bus berada di sebuah pengkolan di jalan utama di Markt, bus tiba-tiba tidak bisa bergerak. Macet total !
Kami menduga kemacetan ini tidak akan berlangsung lama. Ah, paling cuma karena ini hari pasar dan pembeli pada bandel melintasi jalan untuk berbelanja ke kios-kios di seberang jalan. Kami kecele. Ini sudah lebih setengah jam, bus masih tidak beringsut di tempatnya. Aneh bin ajaibnya, si sopir malah menambah penumpang.
Seorang bapak tua berkacama mendatangi kami yang duduk persis di belakang sopir. Dalam bahasa Belanda dia berkata:saya mau duduk disini, ini tempat duduk buat orang seperti saya.Dia lantas menunjuk ke sebuah tulisan di kaca bis dekat duduk Ara: Bestemming voor Invaliden (tempat duduk buat orang yang invalid). Aku duduk di sebelah Ara dan tepat berada di depan orang itu. Aku balas permintaannya dalam bahasa inggris,aku harap dia mengerti perkataanku:she is bleeding.Dia balas: Ik ook (saya juga). Entah dia mengerti atau tidak maksud perkataanku,aku berkata lagi pada si meneer:zij is zwanger ! sambil memutarkan tangan kiriku ke arah depan memperagakan perut buncit orang hamil. Dia pun ngacir ke belakang mencari tempat duduk lain. Aneh bener nih orang batinku.
Ara mulai gelisah hebat “fleknya keluar lagi dame”, katanya lirih. Aku yang dari tadi tenang, mulai gelisah. Belum ada tanda-tanda bus bergerak maju. Yang bikin kesal, bus berlawanan arah dengan bus kami, malah tambah menambah kemacetan. Bukannya bus ini melaju terus, malah menaikkan penumpang dan si sopir membuka kaca jendela busnya berkelakar dengan sopir bis yang kami tumpangi. Penumpang di belakangku-kayaknya orang Vietnam melihat kejadian ini dan ikut2an memasang muka kesal,sama seperti mukaku ini. Penumpang-penumpang yang lain pun mulai menggerutu, malah satu dua anak-anak muda mulai turun dengan membawa koper dan ransel mereka yang terlihat berat. Mungkin mereka harus mengejar trein.
“dame,kok lama bener bis ini,aku gak tahan lagi”
aku menoleh ke Ara,”Ra,sabar ya, sebentar lagi bus jalan kok”. Ara terus menundukkan kepalanya. Matanya memandang lantai bus,sekali-kali mendongak keluar melihat kemacetan yang terjadi. Air mata mengalir deras turun membahasi jilbabnya. Kedua tangannya terkatup rapat dikepit di kedua lututnya.Aku gelisah betul dan sangat iba melihat istri yang aku nikahi setahun yang lalu ini. Proses pernikahanku dengan Ara sangat cepat.Pertama kali aku melihat Ara di hidupku adalah saat teman2 PPI (persatuan pelajar indonesia) berjualan di taman kota Maastricht di hari ulang tahun Ratu Belanda, 30 April 2005.Seminggu kemudian aku uraikan maksudku untuk menikahinya. Ara mengangguk.Tiga bulan kemudian,tepatnya tanggal 21 Agustus, kita menikah di Lampung dan seminggu sesudah itu aku sudah berada lagi di Maastricht.Sedangkan Ara tinggal di Den Haag, melanjutkan studi masternya. Sebulan yang lalu Ara pindah ke Maastricht,setelah hampir 11 bulan kami pisah kota.
Posisi dudukku sudah gak karuan. Satu kaki menginjak lantai bis,kaki kiri menjuntai di bangku.”Aku akan ngomong ke sopir bahwa istriku ini harus dibawa segera ke verloskamer !”, aku membulatkan tekad dalam hati.Aku keluarkan memo sakti dokter dari tas tangan Ara.
Tiba-tiba dari arah belakang, bu Selly (namanya aku ketahui kemudian) muncul dan berjalan ke arah sopir bus kami.”sopir, berapa lami lagi ini kami nunggu?”tanyanya dalam bahasa Belanda yang super lancar.
“Eh, mbak sampai kapan nih bus ngetem. istriku ini bloeding,kami tadi dari huisart.kata huisart, gak normal di usia kehamilan 6 bulan terjadi bloeding”.kataku ke mbak Selly dalam bahasa indonesia,karena aku yakin mbak ini orang indonesia.Tadi aku liat dia duduk di samping mbak Metty yang aku kenal.
“aaaah,bleeding???kok gak ngomong dari tadi, eh aku Selly,temannya mbak Metti”.
“aku anto” balasku cepat.
Mbak Selly langsung ngomong ke sopir.yang aku tangkap dia ngomong..bloeding ..bloeding. Mendengar ini,si sopir keliatannya bereaksi panik dan melihat ke arah Ara yang lagi nangis. Penumpang2 di sekitar kami pun mulai sadar dengan apa yang terjadi di deretan depan.
“dia mau ke rumah sakit”, kata mbak Selly ke sopir. Aku keluarkan memo dokter Wolfs,dengan muka lugu aku liatkan tulisan dokter…verloskamer !
Sopir mulai gelisah hebat. Dia panggil polisi yang lagi berada di perempatan menertibkan kemacetan..bloeding..bloeding. Si polisi dengan sigap naik ke bis dan mendekati Ara…Wah gawat ini. dia lantas berlari keluar dan memberitahukan teman polisi dia yang lain.
Ajaib ! bis mulai melaju,kemacetan tiba-tiba sirna. Semua kendaraan yang berlawanan arah dengan bis kami ke pinggir semua.
bersambung…