Archive for the ‘ota’ Category
Sir Francis Galton
Galton, wafat 1911, adalah salah seorang peletak dasar ilmu statistik. Dikenal sebagai orang yg pertama kali menemukan konsep korelasi dan regression toward the mean.
The Collected Published Work of Galton can be found here:
The story of ‘Lemons’
His paper was about “Market for Lemons”. Well, some people may like apples than lemons, but who cares, they are just fruits.
1. June of 1967 , Akerlof-a newly awarded PhD, sent the lemons to The American Economic Review.
result: we did not publish papers on subjects of such triviality (editor)
2. Upon rejection, the lemons was sent to another journal at the same year: The Review of Economic Studies
result: the Review did not publish papers on topics of such triviality.
3. Another try, the lemons went to the Journal of Political Economy.
result:” if this paper was correct, economics would be different”. again, a clear rejection from the journal editor.
After all of these rejections, Akerlof’s reaction was “I may have despaired, but I did not give up”
4. Finally,
*Akerlof, George A., “The Market for ‘Lemons’: Quality Uncertainty and the Market Mechanism.” Quarterly Journal of Economics, 84(3), pp. 488-500, 1970.
AND..
The Market for ‘Lemons,’ , a 13-page paper written during George Akerlor’s first year as assistant professor at Berkeley in 1966-1967 was the paper that led him awarded the Nobel prize in Economics in 2001. The paper concerns how horse traders respond to the natural question: “if he wants to sell that horse, do I really want to buy it?”
(http://nobelprize.org/nobel_prizes/economics/articles/akerlof/index.html)
Stetoskop dan sweater tebal
Musim panas tahun 2003, saya pulang ke Indonesia. Tepatnya berlibur ke kota tercinta. Akibat kondisi badan yang cukup lelah setelah menempuh perjalanan panjang antara Belanda dan Indonesia,ditambah lagi dengan beda cuaca kedua negara yang cukup drastis, saya kena demam panas. Badan rasanya panas dingin, beberapa hari itu saya selalu memakai sweater tebal,padahal udara luar cukup panas.Saya mencoba bertahan untuk tidak pergi ke dokter. Sakit seperti ini di Belanda tergolong ringan,paling-paling dokter akan menyarankan untuk beristirahat yang banyak dan minum jus jeruk banyak-banyak. Oleh karena itu saya selalu menghindari minum obat untuk sakit yg ringan seperti ini. Saya takut nantinya kalau ke dokter,akan diberi antibiotik !
Karena desakan orang tua, akhirnya saya memutuskan pergi ke dokter spesialis. Begitulah,kebebasan yang dipunyai di Indonesia, orang sakit bisa langsung ke spesialis tanpa perlu datang ke dokter umum. Yang penting, duit tebal tersedia.
Saya dipersilakan masuk oleh perawat. Di dalam ruangan prakter si dokter spesialis yang juga professor ini sudah ada beberapa pasien menunggu giliran. Sekilas, rasanya privasi pasien tidak ada karena percakapan antara pasien dengan dokter bisa didengar. Giliran saya diperiksa pun tiba.
“Sakit apa?” tanya dokter. “demam dan pilek” balasku.
Si dokter langsung memasang stetoskop ditelinganya dan menempelkan alat sensor untuk memeriksaku. Mula-mula alat itu ditempel-tempelkan di dadaku kemudian ke punggungku. Dari tadi, sweater tebal masih saya pakai. Entah apa yang didengar dokter ini dari stetoskopnya.
“Sudah” kata si dokter.
Pemeriksaan rupanya sudah selesai. Dokter beranjak ke meja tulisnya untuk menuliskan resep.
“Ini resepnya bisa ditebus di apotik depan!”
Menulis buku, membangun kepakaran(?)
Bermula dari ketercengangan saya (baca:tercengang negatif) ngintip diskusi soal keilmuan di sebuah milis (indonesia), menggelitik saya untuk menuliskan perasaan resah saya disini. Semula tulisan resah ini saya beri judul: Being a fake guru with a bounded unethical behavior. Tetapi karena takut jadi sok-sok an, saya ganti dengan judul diatas.
Membaca lalu lintas diskusi di milis tsb, membuat saya tercengang karena jawaban yang diberikan oleh key person (kp) di milist tersebut seperti jauh panggang dari api. Anehnya si kp dengan pede meladeni penanya dengan posisi seolah-olah betul-betul master di bidangnya. Padahal sebetulnya jawaban yang diberikan kp itu seperti sekenanya saja. Di ujung pertanyaan selalu ada kalimat: itu sudah dibahas di buku saya, diterbitkan oleh penerbit anu dan bisa dijumpai di toko anu. Maksudnya mungkin ini bagian dari promosi buku yang dia tulis. Saya bisa memberikan penilain tentang kualitas jawaban kp karena saya mempunyai beberapa resources sebagai pembanding.
Mungkin karena kp sudah menulis buku yang sangat laris tentang bidang itu sehingga dengan sendirinya image kepakaran terbangun dan melekat dengan sendirinya.Kata menulis saya tulis miring karena menulis bisa diartikan menerjemahkan dari buku asing alias comot sana comot sini.
Harus saya akui, atas nama inseminasi ilmu, praktek semacam ini sah-sah saja karena indonesia belum lah taraf knowledge producer. Yang saya masalahkan sebetulnya adalah bagaimana seharusnya sang penulis mensikapi proses inseminasi ini. Harusnya penulis berterus terang bahwa produk yang dia hasilkan adalah karya rangkuman dari berbagai sumber yang dia permudah dalam penyampaiannya. Dan ada bagian-bagian yang dia sendiri belum paham betul. Eh kalau begitu, kenapa nulis buku ?
Ketika saya menceritakan kepada rekan saya melalui chat, dia tertawa. “Contoh seperti ini, tidak satu dua di negeri pancasila. Di bidang saya juga ada.”
Melalui buku yang ditulis, menurut saya kp berhasil membangun image kepakaran terhadap dirinya karena pasar seperti katak dibawah tempurung (bounded): tidak mempunyai cukup kemampuan untuk bisa memberikan penilaian dan tidak mempunyai akses terhadap informasi untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk memberikan penilaian. Akibatnya judgment dari pasar menjadi bias.
Dalam kasus ini image bisa terbangun karena (1) pasar mengandalkan satu-satunya cue (petunjuk) yang mereka punyai dalam memberikan penilaiain yakni attribut profesor yang dipunyai kp, (2) produk buku yang dikeluarkan kp adalah salah satu-satunya yang ada di pasar (fast-mover advantage), (3) kp mempunyai image di bidang lain (mis manajemen) yang bisa ditransfer ke bidang lain karena konsumen tidak bisa menjelaskan dengan jelas keterkaitan antara bidang-bidang tsb. Sebagai contoh, karena ilmu manajemen organisasi, pemasaran, akuntansi, keuangan bisa di glue dalam satu pohon ilmu manajemen. Sehingga, mempunya label di organisasi, membuka peluang laris jika menulis buku pemasaran. Barangkali begitu, untuk konsumen yang mempunyai low-involvement dalam bidang tsb. Faktor lain yang tak kalah pentingnya menggerek image penulis buku tsb adalah jika buku serupa tidak ada di pasaran. Sehingga keberadaan satu-satunya buku itu dipasaran dianggap sebagai justifikasi bahwa penulis is the only person with the highest competency.
Agar penilaiain dari konsumen tidak menjadi bias dalam kasus yang saya tulis diatas, konsumen harus membuka wawasan dirinya untuk mencari informasi sebanyak-banyak berkaitan dengan bidang yang diminati. Carilah nama orang-orang yang betul-betul key person di bidangnya. Biasanya, mereka-mereka ini mempunyai sifat altruism yang lumayan tinggi. Mereka tidak butuh terkenal lagi. Sering saya dapati mereka menyediakan paper-paper karya mereka di situs-situs mereka yang bisa diunduh.
Berbeda dengan sebagian peneliti di Indonesia, menulis buku, bukanlah cita-cita utama dari peneliti barat. Kompetensi mereka dinilai bukan dari buku yang mereka tulis,tapi dari kuantitas dan kualitas jurnal yang mereka publish melalui proses blind-review. Identitas peneliti dikenal dari topik yang secara kontinu mereka tulis di jurnal. Rata-rata dari mereka barulah mulai menulis buku setelah mendapatkan rekognisi dari komunitas akademik atau ketika kegiatan riset mulai menurun, atau ketika menginjak usia pensiun sehingga banyak waktu untuk merekapitulasi ilmu.
Baru-baru ini, saya mengunjungi situs Max Bazerman*, pakar rational negotiation dari Harvard university. Di situsnya Bazerman menyediakan form untuk pemesanan paper-papernya. Saya klik lah beberapa paper untuk membuktikan apakah Bazerman betul-betul serius. Kurang dari sejam, saya menerima imel dari sekretaris si prof: these are the papers, enjoy !
Pengalaman ini membuktikan bahwa knowledge begitu bertebaran di internet yang bisa diraup dan disebarkan kapan saja. Kuncinya cuma satu, kemampuan bahasa inggris. Tapi sementara itu pula, sebagian oknum memandang peluang ini dengan cara-caranya sendiri, entah untuk maksud apa.
Barangkali memang judul tulisan ini seharusnya: Being a fake guru with a bounded unethical behavior
*http://www.people.hbs.edu/mbazerman/
Apakah teh bagus untuk anda?
Is tea good for you? sebagai seorang penggemar minum teh, tentu pertanyaan ini sangat menggelitik saya. Apakah sih khasiatnya minum teh? walau pernah saya baca tentang khasiat teh dari majalah-majalah populer yang pernah saya baca bahwa teh bisa mencegah kanker, tetapi rasanya belum puas kalau belum menemukan bukti ini langsung dari hasil-hasil penelitan yang dipublikasikan di jurnal-jurnal sains. Apakah benar, sekian puluh penelitian yang meneliti khasiat teh, akan menghasilkan kesimpulan yang sama bahwa teh memang manjur mencegah kanker?
Ketika saya sedang belajar meta-analysis – suatu teknik statistik untuk mensintesa hasil-hasil riset yang pernah dilakukan untuk suatu topik tertentu- dan mencari artikel yang berhubungan dengan metode kuantitatif ini, google mendamparkan saya di sebuah blog, alamatnya http://heingartner.com/blog/ Di blog ini, si penulisnya dengan rajin melaporkan hasil-hasil studi meta analisis di bidang obat-obatan, kesehatan dan psikologi yang pernah dipublikasikan oleh berbagai jurnal ilmiah. Tulisan si penulis ini untuk suatu topik yang dibahas singkat-singkat saja, cukup melaporkan topik meta analisisnya apa, lantas kesimpulan akhirnya apa.
Kenapa meta analysis menjadi sangat penting? Bayangkan jika ada seribu riset dilakukan untuk mengetahui apakah ada efek dari meminum teh terhadap kesehatan jantung, kalau iya, lantas seberapa besarkah pengaruhnya itu?. Bayangkan bahwa studi tentang ini dilakukan oleh para peneliti yang berbeda dengan metodologi riset yang bervariasi dan dengan karakteristik sampel yang beranekaragam (gender, ras, umur, dsb) . Bisa dimaklumi bahwa keseribu riset ini akan melaporkan hasil yang berbeda-beda. Mungkin ada yang menyimpulkan bahwa teh memang berkhasiat mencegah kanker, mungkin juga ada sebagian peneliti yang menemukan pengaruh teh, tetapi dengan efek yang tak seberapa. Dan mungkin beberapa penelitian ini menemukan bahwa sama sekali tak ada hubungannya minum teh dengan kesehatan jantung. Untuk hasil yang terakhir, bayangkan suatu penelitian dimana sampel yang diteliti adalah memang orang-orang yang mempunyai riwayat penyakit jantung turunan. Dijamin, pengaruh teh terhadap pencegahan penyakit jantung adalah nol. Disebabkan oleh adanya berbagai variasi dari kesimpulan hasil-hasil penelitian ini lah teknik meta-analysis menjadi sangat penting. Metode ini bisa menjawab keraguan kita, dalam contoh ini apakah teh benar-benar berkhasiat terhadap kesehatan jantung.
Nama meta-analysis (kadang ditulis dengan meta-analytic) diberikan oleh Gene V. Glass (http://glass.ed.asu.edu/gene/), seorang educational psychologist, di tahun 1976, ketika saat itu beliau masih menjadi dosen di University of Colorado at Boulder. Sebetulnya, jauh sebelumnya, teknik ini sudah dilakukan oleh salah seorang Godfather statistika abad ini, Karl Pearson.
Pearson ditengarai sebagai orang pertama yang melakukan meta-analysis ini pada tahun 1904. Pearson tak melabelkana apapun terhadap teknik ini. Barangkali, bagi orang sekaliber Pearson, meta-analysis hanyalah salah satu dari sekian banyak metode statistik, yang bagi dia sangat mudah dikerjakan. Waktu itu Pearson ingin mengetahui seberapa besar pengaruh inokulasi untuk melawan cacar. Pearson menyimpulkan bahwa pengaruh pemberian inokulasi terhadap cacar sangat signifikan. Karena jasa Pearson inilah, mungkin kita tak ragu lagu lagi sekarang untuk divaksinasi.
Dewasa ini tidak terhitung banyaknya penelitian-penelitan meta-analysis, seperti di bidang psikologi, marketing, sosiologi, psychoterapi, manajemen, ekonomi, politik, dsb.
Di blog seperti yang saya sebutkan di alinea kedua tulisan ini, saya baca bahwa teh memang bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung dan kanker, selain itu juga menyehatkan gigi. Kesimpulan ini dihasilkan dari studi literatur dengan teknik meta analisis dari paper-paper ilmiah yang meneliti topik ini dari tahun 1990-2004 . Hasil meta analisis ini dipublikasikan di Journal of Clinical Nutrition (http://www.nature.com/ejcn/journal/vaop/ncurrent/abs/1602489a.htm).
Setelah membaca hasil penelitian ini, dengan mantap saya berkata kepada diri saya sendiri:
Yes, I am a tea drinker.
Eloquence
Eloquence is the paintings of the thought ~ Blaise Pascal
“I am here for the champ, as a friend. I am nothing you want”
Memberikan wejangan sepertinya memang jadi budaya pejabat-pejabat Indonesia pada setiap acara bertatap muka dengan masyarakat Indonesia di luar negeri. Seolah-olah masyarakat butuh nasehat, butuh informasi, sekaligus buta perkembangan tanah air. Selain itu dari sisi psikologis sang pejabat, berbicara lebih enak rupanya dari mendengarkan. Resiko berbicara lebih kecil dari mendengarkan. Kalau mendengarkan telinga harus siap-siap merah menampung kritikan dan keluhan, sedangkan berbicara, asal tidak keseleo lidah,karir politik masih aman. Sekali porsi bertanya diperbanyak, sang pejabat berarti menggali lubang sendiri. Di kesempatan lain, masyarakat setempat bisa-bisa meminta porsi bertanya yang serupa.Jadi lebih baik menimalkan resiko. Stop kesempatan bertanya.Kalau tidak sulit sendiri nantinya.Buat masyarakat pendengar, siap-siap digurui, karena yang namanya wejangan itu cuma satu arah, dengan arahnya kebawah, seperti wejangan guru sekolah ke murid-muridnya yg baru belajar membaca buku.
aku pernah punya pengalaman terjebak mendengarkan wejangan seorang menteri yang cukup bikin pantat penat karena lamanya duduk.Ketika itu, aku menghadiri acara perpisahan dubes Muh.Yusuf di Mesjid Al Hikmah di Denhaag. Sebetulnya, tidak ada di agendakan sebelumnya bahwa pak menteri ini akan berwejang panjang. Semuanya kebetulan.
Pagi hari sebelum acara, pak menteri ini baru mendarat di schipol untuk transit beberapa jam sebelum pulang ke tanah air. Karena kebetulan hari mendaratnya sama dg hari perpisahan dubes, dibawa lah pak Menteri ini ke tempat acara oleh staf KBRI. Daripada 'berlangau' sendirian di wisma duta. Sesampai di mesjid, dipersilahkan sang menteri ini sama pembawa acara untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Begitulah sopan santun buat tamu penting.
Yang terjadi adalah pak Menteri ini (Sofyan Djalil) memberikan wejangan, pituah-pituah, dengan sekali-sekali mengulas sejarah indonesia dijajah belanda. Sebelum usai 1 jam berpidato, satu orang teman nampaknya sudah tak tahan. dia ingin berdiri untuk menginterupsi sang menteri. Niatnya diurungkan karena tak mau membikin acara yang aneh-aneh di mesjid Al-Hikmah. Selain itu, jangan-jangan para jamaah yang lain malah menyukai pidato hambar sang menteri ini.
Terakhir,setelah SATU JAM bicara, pak menteri menutup pidatonya dengan pesan khusus buat mahasiswa di luar negeri: baik-baiklah belajar, gunakan kesempatan sebaik-baiknya disini.
saya tak abis pikir waktu itu.Kemana sifat arif sang menteri ini. Jelas hari itu adalah harinya dubes Pak Muhammad Yusuf. Dia lah seharusnya yang jadi 'King' di hari perpisahan dia itu.Malah di pidatonya, pak menteri ini tak ada memberikan 'credit' satupun buat sang calon mantan dubes yg berusia jauh dari sang menteri.
Di acara hari itu saya mengharapkan suasana penghargaan yang hangat buat dubes dari masyarakat Indonesia. Harusnya ada acara salam-salaman buat dubes di akhir acara. Layaknya perpisahan purna bakti. Ini bukan karena dekatnya hubungan dubes dengan PPI Maastricht-organisasi yang berjasa mendekatkan hubungan dubes dengan kaum 'terhalang pulang'. tapi aku pikir Pak Yusuf cukup pantas mendapatkan itu karena kepemimpinannya selama ini, terlepas dari rasa ketidakpuasan masyarakat dengan pelayanan KBRI.
Di tengah pidato sang menteri, disela kegelisahan pak Dubes menunggu wejangan usai.Pak Yusuf melirik saya dan melambai agar saya duduk mendekat ke dia yang lagi menyender di dinding mesjid. Pasti dubes menanyakan soal acara perpisahan dia dengan kawan-kawan "kaum terhalang pulang" yang semula direncanakan akan diadakan oleh PPI Maastricht.
Dalam kesempatan bisik-bisk dengan dubes. Saya ceritakan sebuah kisah di hari kemenangan petinju legendaris Muhammad Ali. Saat itu Ali lagi dikerubungi sama fans-fansnya mengelukan kemenangan dia atas Joe Frazier. Disampingnya ada Malcolm X,tokoh nation of Islam yang waktu itu lagi sedang 'naik-daun'. Tiba-tiba dari kerumunan masa yang mengelilingi Ali, seorang wartawan bertanya lantang ke arah Malcolm-X: "Brother Minister, what is your vision for the future of the nation of Islam?"
Malcom- X menjawab dengan tenang. "I am here for the champ, as a friend. I am nothing you want"
Membaca Buku dari A sampai Z
Salah satu obsesi ku yang belum kesampaian adalah membaca suatu buku non fiksi dari lembar pertama sampai lembar terakhir, mengerjakan semua soal-soal di buku tersebut dan mengerti se mengertinya. Niat untuk melakukannya selalu ada. Tetapi sulit sekali untuk konsisten membaca lembar demi lembar dan mengerti. Mungkin karena untuk tetap konsisten ini butuh daya serap yang tinggi dan ketahanan konsentrasi yang luar biasa. Sepertinya aku belum masuk tipe manusia golongan ini.
Salah salah satu buku yang berhasil aku baca dari A sampai Z adalah buku tentang LISREL-salah satu teknik di ilmu statisik-karangan Adamantios Diamantopoulos yang diterbitkan oleh SAGE publication. Level buku ini kira-kira di tingkat pengantar. Betul-betul suatu buku pengantar. Sub judulnya saja adalah “a guide for uninitiated”. Jadi jangan disamakan dengan buku-buku statisika dan matematika dengan embel-embel “Introduction” yang mengecoh pembacanya. Buku-buku semacam ini biasanya ada di tingkat lanjutan. Ambil contoh buku “An Introduction to Probability Theory and Its Applications vol I” karangan William Feller-cetakan 1950- yang mustahil bisa dipahami seorang undergraduate kecuali kalau dia adalah seorang Feller !
Keberhasilanku membaca buku untuk uninitiated ini lebih disebabkan oleh materi di buku ini sudah dipelajari di buku lain. Selain ukuran buku ini cukup tipis sehingga lebih mudah untuk ditamatkan membacanya. Jadi belum pantas lah prestasi ini dibanggakan.
Sejarah mencatat beberapa ilmuwan besar yang di awal-awal penemuan jati diri mereka pernah membaca paling kurang satu buku sampai habis. Seorang Kovaleskaya-matematikawan wanita dari Rusia-di umur 11 tahun, membaca abis sebuah kopian buku Aljabar. buku ini dibacanya malam-malam menjelang tidur karena ayahnya masih melarang Kovaleskaya kecil menyukai matematika. Setahun kemudian setelah dia menamatkan buku ini, dia menamatkan satu buku lagi. Kali ini buku fisika yang dipinjami oleh tetangganya yang profesor Fisika. Uniknya, untuk mengerti konsep sinus-salah satu materi buku ini, dengan caranya sendiri Kovaleskaya malah me reinventing metode yang telah ditemukan berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Seorang pemain sirkus- imigran asal Italia dan mantan drop-out dari sekolah menengah sangat tergila-gila dengan trik permainan kartu dan dadu. Setelah berkelana selama 2 tahun di sirkus, suatu hari Persi Diaconis memutuskan untuk mengambil sekolah malam di suatu college di kota New York. Tujuan utamanya kembali ke bangku sekolah cuma satu: mengerti buku karangan Willam Feller ! Saya tidak tahu apa Persi benar-benar membaca Feller sampai selesai, tapi yang saya tahu adalah saat ini Persi adalah professor statisika dan matematika di Stanford University. Cerita ini bisa dibaca di buku Lady Tasting Tea karangan David Salzburg.
Jarang memang orang bisa menamatkan suatu buku sains dari lembar pertama sampai lembar terakhir. Tak terkecuali buku sains dengan nuansa populer sekalipun. Buku “theory of everything”nya Stephen Hawkings adalah sebuah best seller beberapa tahun lalu. Tapi diakui Hawkings sendiri, mungkin bisa diitung dengan jari berapa orang yang membacanya sampai habis dan mengerti isinya.
Nah, apakah anda atau anak anda berhasil menamatkan buku sains kelas “berat” dari lembar A sampai Z. Jika benar, kemungkinan besar anda atau anak anda adalah calon ilmuwan besar !
Karya “RE” dan “TOO”
Sekarang adalah zamannya para pakar ilmu sosial ramai-ramai menuliskan kata “rethinking” (RE) di judul-judul buku dan paper-paper ilmiah mereka. Hal ini menyiratkan tentang adanya kebutuhan untuk mengkaji ulang suatu teori atau wacana keilmuan.Bisa jadi teori itu tidak popular lagi, atau bertentangan dengan fenomena kekinian alias usang dan kuno. Dengan proses RE ini, ilmuwan sosial berharap posisi ilmu dan peran mereka di masyarakat lebih jelas. Ini disebabkan karena masalah kekinian sangat kompleks, tantangan semakin besar. Suatu masalah menuntut penanganan dari berbagai disiplin kepakaran. Kerjasama lintas bidang dengan ilmuwan di bidang ilmu lain menjadi keharusan.Oleh karena itu wajar, RE menjadi suatu kebutuhan. Tetapi pada prinsipnya RE baru bisa dilakukan setelah ada penciptaan. Proposisi ini berlaku mutlak. Tidak ada rethinking untuk suatu teori atau wacana yang belum ada.Seperti adagium lama, setelah tesa tentu ada antitesa. Setelah suatu wacana diciptakan dan dipakai, tentu ada masa untuk menganalisa ulang kembali.
Selain rethinking, ilmuwan sosial ternyata juga gemar meneliti soal “the origins of” (TOO). Judul karya ilmiah yang monumental dengan judul ini tentu adalah the origin of species nya Darwin.Pengecualian untuk karya Darwin ini, untuk wacana yang sama, RE dan TOO adalah two-sides of the same coin. Yang pertama adalah bersifat tinjauan historis atau perunutan ulang untuk meletakkan sejarah dengan benar termasuk memberikan pengakuan kepada penemu teori dan pengembang teori yang sebenarnya. Sedangkan rethinking adalah proses menggugat, memposisikan kembali, dan mencari arah baru yang dilakukan secara dinamis dan maju. TOO adalah proses mundur dan menjernihkan jejak masa lampau. TOO menghasilkan pemahaman sejarah, sedangkan RE menghasilkan pemahaman baru untuk menghasilan teori dan wacana yang lebih canggih.
Sebagai illustrasi kegunaan TOO, mari kita ambil contoh bidang psychology. Salah satu paper yang dimuat di British Journal of Psychology di edisi tahun 1983 berjudul “Wilhelm Wundt (1832-1920) and the origins of psychology as an experimental and social science”. Pemuatan paper TOO ini di jurnal psikologi bergengsi menyiratkan pengakuan bahwa Wilhelm Wundt lah yang paling berjasa meletakkan psikologi sebagai salah satu bidang ilmu sosial. Bukan William James, misalnya, seorang psikolog yang masyur yang malah pernah menulis artikel dengan judul “The principles of Psychology” pada tahun 1890.Walaupun demikian, kedua William ini sama-sama ditengarai sebagai dua bapak psikologi.
Karya ilmiah yang memuat “Rethinking of Psychology” muncul pada tahun 1995, diterbitkan oleh penerbit bergengsi SAGE Publications . Karya ini adalah buku kumpulan paper-paper yang pernah diterbitkan di jurnal internasional. Seperti yang ditulis oleh editor buku ini di pengantarnya, buku ini mengklaim sebagai kumpulan karya dari ilmuwan psikologi yang menawarkan psikologi perspektif baru yang lebih komprehensif yakni menggabungkan aliran experimental, cognitive dan positivist. Benar tidaknya? aku tidak tahu karena aku tidak menguasai ketiga sub bidang psikologi ini.
Tentu contoh yang serupa bisa ditemui di bidang keilmuan lain.
Proses RE bisa kita amati di wacana-wacana yang berkembang di publik dan di ruang-ruang perkuliahan. Tapi sayangnya proses RE ini tidak dibarengi dengan TOO yang matang sehingga memungkinan terjadinya ‘lack of understanding’ terhadap wacana yang dibahas. Sebagai contoh, dalam suatu perkuliahan, seorang dosen yang tidak menguasai sejarah Indonesia berkata kita harus rethinking Indonesian national identity. Mungkin yang dimaksudkan si dosen tepatnya adalah kita harus menelusuri kembali identitas nasional Indonesia. Bagaimana mungkin bisa memberikan pemikiran ulang yang benar dengan analisa yang tajam tentang identitas nasional suatu bangsa, jika sejarah tentang asal-muasal terbentuknya identitas nasional itu saja buta. So, what is the definition of the indonesian national identity?
Suatu catatan penting yang saya tekankan di tulisan ini adalah pada kenyataannya, sebuah karya dengan judul RE banyak terjebak kepada pemolesan di kulit luarnya saja alias tidak menawarkan apa-apa-apa atau sesuatu yang baru. Karya-karya ini hanyalah wacana dan pola lama dengan kemasan yang baru.
Demikian juga RE sebagai suatu proses yang diklaim sebagai sebuah pemikiran ulang, terlepas apakah proses itu nantinya diberi judul dengan RE atau tidak, juga banyak terjebak kepada pengulangan-pengulangan analisa sebelumnya. Kelemahannya terletak pada proses TOO yang tidak sempurna dipelajari. Sejarah yang kabur akan menghasilkan kesimpulan yang serampangan. Selanjutnya analisa masalah untuk perbaikan tidak berujung kepada solusi yang baik. Solusi yang baru bisa jadi hanya aksesori-aksesoris saja dari solusi yang lama yang sudah terbukti gagal. Karena untuk menghasilkan pemahaman yang baru yang superior dengan apa yang dipahami selama ini dipahami, proses RE mensyaratkan pemahaman TOO yang baik dan benar terlebih dahulu. Sedangkan yang menilai apakah TOO itu sudah berhasil atau tidak itu tergantung dari konsensus ilmuwan di bidang yang bersangkutan.Kalau tidak, proses RE akhirnya cuma bagian dari proses daur ulang pemikiran yang kembali ke titik nol.
nb.terima kasih untuk istriku yang telah menginspirasi penulisan artikel ringan dan singkat ini
Playboy diributkan? dan brand image
Playboy diributkan? aku mungkin sudah pikun atau entah ada desiran dari mana jadi lupa.
seorang penjaga toko kamera menyapaku di pintu masuk tokonya di sudut kota enschede, beberapa tahun lalu.
“indonesia ya?”.
“iya”, jawabku enteng.
“oh, anda bawa barang belanjaan, baru beli sepatu baru ya”.
“iya” kataku lagi, mulai agak serius dengan sapaan beruntun ini. terus aku lanjutkan,
“sepatu ini made in Indonesia lho”.
Penjaga berkumis dan gendut ini berkata,”ya, made by cheap labor”, trus dia tertawa terkekeh,”aku aku ogah beli, karena itu eksploitasi anak”, timpal dia.
aku melongo.
beberapa tahun kemudian..
playboy pun merangsek masuk ke indonesia awal maret 2006. Pro dan kontra bermunculan. Keberatan utama yang kontra adalah singkat saja bahwa ini adalah majalah porno. Yang pro berkata, porno dan tidak porno adalah relatif.Otakmu saja yang pikirannya jorok! toh playboy ini sama saja dengan majalah lainnya, eh malah mereka lebih porno dari playboy indonesia ini.
Peristiwa sepatu di Enschede menggores di benakku. Image yang dibangun tentang produk ternyata sudah cukup untuk membuat si penjaga toko itu untuk mengurungkan niatnya beli sepatu made in indonesia, dengan alasan eksploitasi anak.
Nampaknya ada pengaruh dari brand image terhadap purchase intention. Ternyata memang hubungan ini sudah menjadi temuan lumrah dan robust di marketing literature.
Definisi brand image adalah “all the associations that consumers connect with the brand…” (Batra & Homer, 2004). Aaker (1997) sebelumnya lebih spektakuler lagi, dia mengatakan bahwa brands mempunyai ciri-ciri personalit sama halnya dengan manusia. Jadi brand A bisa dibilang gagah, brand B itu sangat lembut dan gentle, brand C yang itu sangat sombong keliatannya. tiga titik dibelakang dari definisi brand image seperti yang dituliskan diatas adalah ” including but going beyond brand personality associations”. Jadi brand image ini lebih dahsyat dari brand personality.
Aku mulai mengamati berita-berita di koran-koran soal penolakan playboy.Kesimpulanku, sampai saat ini tak ada yang tegas rupanya menjadikan konsep brand image untuk menyerang playboy. Kita sama tahu image yang melekat pada playboy ini adalah porno, exploitasi wanita, seksi, selera rendah (bisa diteruskan). Deretan-deretan image ini melekat ke playboy karena begitulah majalah itu di barat sana. Ini bukan hal yang baru lagi.
Sayangnya kita semua tak seperti penjaga toko kamera itu. Brand image saja sudah cukup baginya untuk menolak membeli sepatu
Untuk kasus playboy, terserah apa isinya, apakah cuma memuat gambar seekor ayam di kandang kambing atau tikus di kandang monyet-selama masih berlabel Playboy, sudah cukup rasanya sebagai alasan penolakan. Kalau tidak, gantilah mereknya dengan majalah hewan.