Archive for the ‘pengambilan keputusan’ Category
Contoh Sunk Cost Efek
Ada yang menarik dari pernyataan Gubernur Riau, Ismeth Abdullah ketika menjawab pertanyaan wartawan setelah menghadap SBY (Detikcom, 16 April 2006). Berkaitan dengan berbagai desakan agar IPDN dibubarkan, Gubernur mengatakan bahwa Riau tetap akan mengirimkan wakilnya untuk menjadi mahasiswa IPDN karena “…investasi mendirikan IPDN mahal sekali”.
Pernyataan ini mengingatkan saya kepada salah satu eksperimen tentang Sunk Cost efek oleh Arkes & Blumer (1985). Menurut teori ini manusia cenderung untuk meneruskan rencana yang telah mereka usahakan karena investasi (waktu,tenaga, uang) yang telah dikeluarkan sudah demikian banyak walaupun ada alternatif lain yang tersedia yang hasilnya mungkin lebih menjanjikan.
Berbicara soal ketidakpastian: Angka atau Kata-Kata
Hidup selalu penuh ketidakpastian. Mulai dari bangun pagi sampai tertidur lelap malam hari, setiap orang selalu berhadapan dengan ketidakpastian: Apakah hari ini akan hujan? apakah saya akan lulus ujian minggu depan ini? Apakah barang yang saya beli ini akan berfungsi dengan baik.
Ada dua cara untuk mengkomunikasikan ketidakpastian ini kepada orang lain. Pertama, dengan menggunakan angka. Sebagai contoh, seorang analis dapat mengkomunikasikan peluang bisnis kepada seorang calon investor seperti ini: perusahaan ini berkemungkinan 80% untuk mengalahkan pesaingnya. Cara kedua adalah dengan menggunakan bahasa verbal. Sebagai contoh, Perusahan yang anda lirik ini, pada tahun depan, sepertinya akan mengalahkan pesaingnya.
Mengandalkan salah satu cara untuk mengkomunikasikan ketidakpastian ini bisa fatal. Dalam contoh diatas, kata “sepertinya” seolah-olah diinterpretasikan sebagai peluang 80%. Tentu saja ini tidaklah benar. Sebagian orang mungkin memaknai kata “sepertinya” dengan peluang 50% atau 95%. Konon kabarnya peristiwa meledaknya pesawat ulang alik Challenger beberapa tahun silam diakibatkan oleh kesalahan interpretasi seperti ini antara engineer NASA dengan pihak manajemen mengenai soal kebocoran di tanki bahan bakar pesawat.
Sebagian orang lebih senang memakai angka untuk menyatakan ketidakpastian, tetapi pada umumnya orang lebih suka memakai kata-kata daripada angka. Alasannya mungkin karena kata-kata lebih rasional dan alamiah. Saya sendiri termasuk ke kategori yang pertama alias lebih suka menyatakan keragu-raguan saya dengan angka.
Kalau saya ditanya apakah saya akan tetap konsisten menulis di blog ini, mungkin saya akan jawab: kemungkinannya 99%!
Banjir dan Confidence Interval
Banjir telah merendam sebagian Jakarta. Beberapa hari ini air telah surut perlahan-lahan, menyisakan lumpur dan kepedihan yang memilukan karna nyawa dan harta benda yang telah dirampas oleh air. Indonesia adalah jagonya telat. Setelah kejadian tersadar sebentar, lantas tak lama kemudian menjadi pikun. Padahal kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 2002 lampau. Saat itu diramalkan banjir akan kembali merendam jakarta 5 tahun mendatang.
Mari kita kembali ke tahun 2002. Di tahun itu, kejadian banjir jakarta di tahun 2005 adalah suatu kejadian yang tak pasti. Manusia bukan Tuhan. Karenanya yang bisa dilakukan manusia adalah mengira-ngira dengan ilmu yang ada. Kalau kita tanya penduduk Jakarta di tahun 2002 itu, seberapa yakinkah mereka bahwa jakarta akan direndam air yang demikian dahsyat pada tahun 2005 nanti? tak seorang pun yang bisa menjawab dengan pasti.
Menurut ilmu statistik, keyakinan tak pernah eksak, tetapi mempunyai peluang akan kebenarannya, makanya ada konsep ‘confidence interval‘. Untuk mencapai tingkat yakin, manusia perlu mengukur. Setiap pengukuran pasti mengandung kesalahan. Resiko yang mau diambil manusia untukĀ menerima kesalahan ini tercermin ke dalam confidence interval.
Confidence interval yang populer dipakai adalah 95% yang artinya jika return period banjir adalah 5 tahunan dengan tingkat keyakinan 95%, berarti diharapkan setiap 5 tahun sekali banjir bisa terjadi dengan peluang 95%.
Mengartikan confidence interval 95% ini teryata tak semudah dibayangkan. Kerapkali konsep confidence interval ini membingungkan mahasiswa yang baru belajar statistik, tak terkecuali dosen-dosen yang sudah mengajarkan statistik bertahun-tahun. Lazim kita dengar bahwa 95% diinterpretasikan sebagai keyakinan subjektif: saya yakin sebesar 95% bahwa banjir terjadi 5 tahun lagi. Pernyataan seperti ini tentu membingungkan. Kalau begitu, apa bedanya yakin 95% dengan 96% atau dengan 99%?
Kita tak perlu minder dengan ketidakyakinan kita ini.Konsep confidence interval berhubungan dengan konsep probabilitas. Statisticians pun sampai saat ini terpecah kedalam dua aliran dalam mengartikannya. Aliran pertama berpendapat confidence interval ini mengandung arti frekuensi: 95% dari semua kejadian banjir adalah banjir 5 tahunan itu. Aliran kedua, memandang peluang kejadian sebagai ‘subjective probability‘. Perspektif ini disebut juga dengan Bayesian approach. Bagi mereka, confidence interval 95% adalah betul-betul derjat keyakinan mereka: my degree of belief is 95% !.
Perdebatan antara frequentist dan bayesianist tak akan ada habis-habisnya. Dewasa ini, perdebatan antara mereka bukan lagi sebuah perdebatan matematis, tetapi lebih sebagai debat di tataran filosofis. Kita tunggu saja akhir dari diskursus mereka.
Tak ada kalah menang dalam debat sebuah ilmu. Hanya sejarah yang akan membuktikan siapa yang lebih mendekati kebenaran. Biarkan saya dan anda menjadi frequentist atau bayesianist, suka-suka kita, tak ada yang melarang. Tetapi cobalah menerka-nerka jawaban pertanyaan ini. jika jakarta tetap banjir 5 tahun lagi, apakah pemerintah kita itu frequentist atau bayesianist? Tanyakanlah ke lumpur yang bergoyang.
Angka patokan bisa menjebak !
Pertanyaan-pertanyaan berikut kesannya main-main: Pilihlah angka dari 1-100. Selanjutnya tebak apakah jumlah persentase negara Afrika yang bergabung dengan PBB kurang atau lebih dari angka itu. Pertanyaan lain:Tebal buku yang saya pegang ini adalah 150 halaman, kira-kira berapakah jarak antara Jakarta dengan New York.
Terkesan pertanyaan-pertanyan seperti hal yang sepele. Tetapi pada kenyataannya ini adalah pertanyaan sains yang serius dan sangat menarik. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini telah digunakan para peneliti psikologi untuk mendemonstrasikan suatu efek yang dinamakan dengan Anchoring effect (AE). Efek ini pertama kali dikenalkan ke komunitas riset oleh dua orang behavioral scientist ternama yakni Amos Tversky dan Daniel Kahneman (pemenang nobel ekonomi tahun 2002) dalam artikel yang diterbitkan di jurnal Science tahun 1974 dengan judul: Judgment under uncertainty: Heuristics and Biases.
Jadi apa sebenarnya AE ini?
Tversky dan Kahneman, dalam rangkaian experimen mereka mengajukan berbagai pertanyaan serupa kepada beberapa orang partisipan. Hasilnya sungguh mencengangkan. Jawaban-jawaban yang diberikan sangat dipengaruhi oleh angka yang terdapat di dalam pertanyaan-pertanyaan itu. Anehnya, angka-angka tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan inti pertanyaan. Tak ada hubungan bukan antara tebal buku dengan jarak Jakarta-New York? Secara tak sadar, angka itu ternyata telah dijadikan patokan untuk menerka jawaban.
Sejak artikel itu diterbitkan, sampai dewasa ini, AE menjadi salah satu topik riset yang hangat diteliti dikalangan behavioral scientists. Dalam kuliah Nobelnya-Kahneman menegaskan bahwa AE adalah salah satu bukti bahwa manusia itu adalah makhluk dengan rasio yang terbatas (bounded rationality)-menguatkan terminologi yang ditemukan oleh Herbert Simon tahun 1957. Karena bounded rationality ini maka manusia cenderung menggunakan jalan pintas (shortcut) dalam pengambilan keputusan.
Jalan pintas adalah cara yang gampang dan lazimnya tak perlu banyak energi dikeluarkan untuk itu. Itulah kecenderungan dasar sifat manusia.
Nampaknya, seusai eksperimen diberikan, ketika jawaban pertanyaan dikonfrontasikan kembali kepada partisipan, rata-rata dari mereka yakin bahwa jawaban mereka adalah jawaban yang benar !
pertanyaan kedua diatas- tebal buku dan jarak Jakarta-New York adalah contoh yang ekstrem karena angka 150 tidak ada di range satuan jarak antara Jakarta dan New York, selain itu tebal buku dan jarak tidak berada dalam content yang sama. Jadi kadang mungkin efek AE tak muncul. Kecuali kalau pertanyaan ini dimulai dengan angka 15.000, misalnya: saya barusan terbang dengan pesawat menempuh jarak 15000 km, kira-kira menurut anda, berapakah jarak Jakarta – New York? Ini adalah pertanyaan yang lazim dalam pembicaraan kita sehari-hari !
Secara definisi AE “involves forming an initial judgement or first impression (an anchor) and then shifting (adjusting) this judgement upward or downward depending on the implications of imagined possibilites ” (Tversky & Kahneman, 1974)
Kardes (2002) memberikan ilustrasi sederhana di bukunya bagaimana efek AE ini diterapkan oleh praktisi periklanan. Suatu iklan mengklaim bahwa brand mereka akan efektif digunakan 100 persen. Calon pembeli akan berpikir bahwa setiap saat digunakan, brand ini akan selalu efektif. Walaupun demikian, saat berpikiran seperti ini, ada perasaan tak percaya muncul: ah, mungkin tak 100 persen lah, barangkali kurang dari itu, kira-kira 90 persen saja mungkin. Nah masalahnya disitu. Konsumen ternyata meng-adjust angka 100 hanya sedikit kurang dari patokan ini. Padahal barangkali brand ini cuma efektif 50 persen saja.
Prediksi berdasarkan prediksi, demikian tulis Kardes.