Archive for the ‘psikologi sosial’ Category
Mau Untung Malah Jadi Buntung
Salah satu illustrasi cerita yang sering didiskusikan di dunia “Behavioral Science” adalah prisoner dilemma, ditemukan oleh seorang pakar matematika W. Tucker. Ceritanya begini:
Dua orang penjahat baru saja ditangkap polisi, kemudian ditempatkan di dua ruang interogasi yang terpisah. Satu sama lain tidak bisa saling berkomunikasi. Keduanya terancam untuk diinapkan di hotel prodeo atas kejahatan yang mereka lakukan. Pada saat interogasi mereka dihadapkan pada pilihan berikut:
Satu. Jika salah satu dari mereka mengaku sedangkan yang lainnya bungkam, maka yang mengaku akan dibebaskan. Sedangkan satunya akan meringkuk 20 tahun di penjara.
Dua. Jika masing-masing mengakui perbuatannya, mereka akan dikenakan hukuman 5 tahun penjara.
Tiga. Jika keduanya memilih tetap bungkam, maka masing-masing dihukum 1 tahun penjara.
Dari persoalan pelik yang mereka hadapi ini, solusi yang paling aman adalah sama-sama diam karena ancaman hukuman hanya 1 tahun untuk keduanya. Tetapi siapa yang bisa percaya kalau kawan si penjahat satunya juga diam? Namun jika yang satu berkicau sedangkan yang satunya lagi diam, yang terakhir akan meringkuk 20 tahun di penjara. Tetapi jika salah seorang berharap dia dilepaskan dengan mengakui perbuatannya dan berharap temannya diam, ada kemungkinan justru dia akan kena 5 tahun penjara kalau ternyata temannya ini juga mengaku. Dalam keadaan seperti ini, mau untung malah jadi buntung.
Prisoner dilemma adalah satu contoh dari bentuk Commitment problems. Karakteristik dari masalah ini adalah: orang bisa dapat hasil terbaik jika mereka mempunyai komitmen untuk melakukan sesuatu cara yang berlawanan dengan keinginan dia.Dari contoh diatas, jika kedua penjahat itu berkomitmen untuk tetap bungkam, maka keduanya dapat hukuman yang lebih ringan daripada jika salah seorang dari mereka mengakui perbuatannya. Jadi masalah utamanya adalah tidak adanya trust antara mereka keduanya.
[ebook] Subjective Well Being
Salah satu topik hangat di dunia riset psikologi adalah segala hal yang berkaitan dengan BAHAGIA atau subjective well being. Pemakaian kata subjective di padanan kata terakhir menyiratkan bahwa bahagia itu adalah persoalan subjektif yang menyangkut persepsi perorangan, bukan objektif. Pembahasan seputar subjective well being ini memunculkan cabang ilmu baru di psikologi yakni ‘hedonic psychology’.
Beberapa pertanyaan mendasar yang mula-mula dibahas di domain ini adalah berkenaan dengan definisi bahagia itu sendiri dan bagaimana mengukurnya, serta menyelidiki faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bahagia dan apakah bahagia bisa itu diciptakan. Masih banyak lagi pertanyaan lain yang tak bisa dituliskan semuanya di tulisan ini.
Bagi orang awam, pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut diatas kedengarannya ganjil di telinga karena konsep bahagia sepertinya mudah didefinisikan dan malah kerap dikomunikasikan pada orang lain dalam kehidupan sehari-hari: “Tengoklah pasangan muda itu,betapa bahagianya mereka “, “aku merasa bahagia setelah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini”. Terlebih lagi, bagi individu yang religius, definisi bahagia mungkin baginya sudah sangat jelas karena ajaran agama itu sendiri sarat dengan konsep kebahagian.
Sebuah buku, berupa kumpulan papers tentang subjective well being ini yang ditulis oleh para peneliti top psikologi dapat diunduh di link berikut.
http://opus.bibliothek.uni-wuerzburg.de/volltexte/2007/2170/pdf/subjwellbeing.pdf
Ekspetasi X nilai
Kenapa seseorang mau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan? Salah satu jawabannya adalah karena orang itu beranggapan bahwa dia mampu mengerjakannya. Coba tanyakan pertanyaan ini ke sebagian orang: Apakah anda mau mendaki puncak gunung Everest? tentu sebagian besar akan menjawab tidak karena itu mustahil dilakukan. “Uh, dibayar berapapun aku tak akan mau”, demikian mungkin jawaban kita. Sama halnya dengan jawaban seorang salesmen yang dikasih target untuk menjual sekian ribu produk dalam waktu satu bulan. Ujug-ujug menerima pekerjaan ini, si sales barangkali lebih memilih berhenti dari pekerjaannya daripada dipaksa untuk memenuhi target yang mustahil dicapai. “lebih baik aku berhenti saja, bos ku sudah gila !”
Secara naluriah kita mempunyai sebuah ’sense’ yang mengukur kemampuan apakah kita akan mampu melakukan sebuah ‘action’ atau tidak. Bandura menamakannya self-efficacy. Rasionalitas kita juga bermain disini. Secara rasio, tak mungkin rasanya menjual barang sebegitu banyak dalam waktu sebulan. Kita bisa menghitung-hitung berapa jumlah target konsumen yang ada dan berapa pula kemampuan kita untuk memenuhi target tsb.
Suatu hari, saya menantang seorang rekan kerja saya untuk berteriak sekuat-kuatnya di ruangan kerja.
Dia lantas bertanya: why?
Saya jawab: can you do it?
dia balas: of course not, why should I do it?
saya balas bertanya: why shouldn’t you do it?
dia heran, “what for anto, people will think I am crazy, you know?”
Saya yakin teman saya tentu mampu untuk berteriak, tapi dia tak melakukannya karna ‘berteriak’ di kantor itu tidak ada nilainya sama sekali. Utilitasnya rendah. Malah mendatangkan malu saja.
Dari illustrasi – illustrasi ini, kita dapat mengambil kesimpulan bawah Ekspetasi dan Nilai adalah dua faktor utama yang menentukan kesanggupan kita untu berbuat atau bertindak. Dalam contoh yang diberikan, kedua faktor ini tidak saling mempengaruhi. Dalam bahasa ‘Experimental research“, ekspetasi dan nilai hanyalah sebuah ‘main effect’ dari sebuah action. Sebagai illustrasi, ekspetasi rekan saya bahwa dia mampu berteriak keras-keras di ruangan dia, ternyata tidak mempengaruhi ‘value’ dari kegiatan berteriak itu, makanya dia menolak melakukannya.
Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan menarik adalah apakah ekspetasi dan value saling mempengaruhi? jika iya, bagaimana?
Selanjutnya lagi, terserah anda, selamat berpikir.
Anteseden kreatifitas=kerja keras+kontinuitas
Dalam seharian, kerapkali kita terlalu mudah untuk memberikan cap kreatif terhadap (karya) seseorang. Sebagai ilustrasi. Si Budi lama berkawan dengan si Amir. Tak pernah diliatnya bahwa si Amir ini bisa menulis puisi. Si Amir memang tak pernah menceritakannya ke Budi. Suatu hari, secara tak sengaja si Budi melihat sebuah postingan puisi si Amir di sebuah situs di internet. Secara spontan, dalam hatinya si Budi berkata,”kreatif sekali temanku rupanya, bagus sekali puisinya”.
Paling kurang ada dua penyebab pujian dari si Budi terhadap Amir ini. Pertama, informasi si amir bisa menulis puisi merupakan hal yang baru bagi si Budi. Budi rupanya kurang mengetahui secara lengkap aktivitas keseharian temannya ini. Barangkali inilah kali pertama si Budi mengetahui bahwa si Amir pandai merangkai kata. Karena hal ini suprise bagi si Budi dan diluar dugaannya, jadilah si amir mendapat prediket kreatif.
Penyebab kedua, Budi buta sama sekali tentang ilmu per-puisian dan merupakan sebuah kemampuan yang tidak dipunyainya.Oleh karena alasan ini, si Budi tak mempunyai “benchmark” yang kuat untuk menilai kualitas puisi si Amir. Patokan si Budi adalah dirinya sendiri. Dia banding-bandingkan si Amir dengan dirinya. Lama berkawan, menimbulkan kesan pada si Budi: rasanya tak jauh beda, cuman Amir bisa menulis puisi. Makanya spontan dia berkata: si Amir ini kreatif.
Berbeda dengan cara Budi melekatkan atribut kreatif pada karya temannya. Para ahli paling kurang mematok dua syarat utama. Syarat pertama adalah karya bisa disebut kreatif jika institusi pada ranah dimana karya itu berada, sepakat untuk melabelkan karya itu sebagai sebuah karya yang kreatif. Artinya, pendapat dari si Budi- yang tak pandai menulis sebuah puisi- belumlah bisa dijadikan acuan karya dan si Amir ini adalah kreatif. Seandainya pujian kreatif ini berasal dari para penyair, kritikus seni, barulah cap kreatif ini berhak disandang si Amir.
Syarat kedua adalah kreatifitas itu haruslah menawarkan suatu yang baru di ranah yang ditempatinya. Syarat ini memang berkesan sangat “high standard’. Satu karya baru dibilang kreatif jika ada keterbaruan yang ditawarkannya dan berhubungan dengan syarat yang pertama, keterbaruan ini harus diakui oleh para ahli di bidang ybs. Jadi, jika puisi si Amir hanya meniru-niru gaya penyair Rendra, maka sebutan kreatif belum layak disandang.Sungguh,syarat yang berat!
Dari dua syarat diatas, dapat kita petik bahwa kreativitas itu bukanlah proses yang datang tiba-tiba dari langit. Dua syarat kreatifitas diatas menyiratkan bahwa kreatifitas itu butuh kerja keras yang tekun dan terus-menerus.Daerah dimana kita berkarya harus didalami sehingga kita tahu kita dimana kekurangannya, tahu kita dimana ranah-ranah yang belum dijamah oleh orang lain, dan barulah kita bisa membuat karya yang menggeser patok-patok yang sudah ada.
Jadi, jika tiba-tiba seorang datang kepada anda dan mengklaim bahwa dia telah menemukan teori, tahan dulu pujian anda. Jika anda buta sama sekali dengan domain teori itu, bertanyalah kepada ahlinya. Tugas anda akan jauh lebih ringan jika anda menanyakannya ke dewan editor (editorial board) jurnal kelas dunia. Harusnya mereka tahu jawabannya !
Begitulah kriteria kreatif sesuai dengan standar para ahli. Duh…kapan kita bisa jadi kreatif kalau begitu?
Senada dengan Einstein, kreatifitas itu adalah 1% IQ dan selebihnya adalah kerja keras+kontinuitas.
Mekanisme ‘Feelings’
Ketika mendengarkan simponi Mozart,perasaan kita menjadi nyaman dan enak. Ketika kita mendekat ke seorang pemimpin dan mendengarkan kata-katanya, hati menjadi terpukau lalu kita bilang bahwa dia mempunyai kharisma yang tinggi. Perasaan kita menuntun kita untuk mengevaluasi kehebatan musik si Mozart atau memberikan kesimpulan tentang kharisma sang pemimpin di mata pendukungnya.
Menurut para pakar psikologi, perasaan (feelings) adalah timbul sebagai respon dari objek. Walaupun demikian, feelings bisa juga timbul dari keadaan mood kita sendiri (insidentil).Sebagai contoh, ketika mood sedang bagus, kita jadi lebih ramah ke orang yang baru kita kenal-jadi bukan karena orang itu mood kita jadi baik tetapi sebaliknya. Ketika mood sedang jelek, karya seorang mahasiswa tidak ada bagus-bagusnya bagi seorang dosen.Yang terlihat cuma yang jelek-jeleknya saja.
Bahwa ada efek feelings terhadap evaluasi suatu objek sudah menjadi kesepakatan bagi para ahli. Yang masih samar-samar adalah mekanisme apa yang menyebabkan feelings bisa mempengaruhi evaluasi sesuatu. Prof Michael Tuan Pham (2004) dari Columbia university, mencoba memberikan jawabannya. Diterbitkan di Journal of Consumer Psychology tahun 2004, beliau mencoba merangkum mekanisme feelings berdasarkan hasil-hasil riset terdahulu dibidang ini.
Pertama. Feelings mempengaruhi pengambilan keputusan secara langsung melalui asosiasi. Proses ini terjadi secara otomatis, terjadinya di alam bawah sadar. Mekanisme ini seringkali disebut dengan affect-transfer. Ide dasarnya sama dengan classical conditioningnya Pavlov.Sebelum anjing eksperimennya diberi makan, Pavlov selalu membunyikan lonceng. Setelah itu baru makanan disodorkan. Setiap melihat makanan, terbit lah air liur si anjing (air liur ini ditampung Pavlov untuk diukur volumenya). Demikian terus yang dilakukan Pavlov. Sampai saat tertentu Pavlov menemukan bahwa, pas ketika lonceng dibunyikan, air liur si anjing sudah menetes-netes keluar padahal makanan belum ada disodorkan. Bunyi lonceng diasosiakan si anjing sebagai pertanda makanan akan datang. Demikian ide affect-transfer hampir serupa dengan prinsip classical conditioningnya Ivan Pavlov-pemenang nobel untuk fisiologi tetapi lebih terkenal dengan eksperimen anjingnya.
Kedua. feelings mempengaruhi evaluasi suatu objek secara tak langsung, ada variabel yang terdipengaruhi lebih dahulu. Ibaratnya sama dengan penjalaran panas melalui besi yang ujungnya kena api. Perasaan frustasi terhadap operator seluler menimbulkan persepsi bahwa operator itu tak becus melayani konsumen, “mereka memang tak bisa dipercaya”. Dalam hal ini feelings berhasil merubah persepsi kita terhadap objek.Rasa frustasi berkembang menjadi rasa tak percaya kepada si operator.Selanjutnya, kita menyimpulkan bahwa operator ini memang tak bonafid. Dalam kasus ini feeling mempengaruhi judgement melalui persepsi.
Ketiga. Feelings baru-baru ini dianggap sebagai salah satu bentuk informasi (feelings-as-information). Ide kontroversial ini dikemukakan oleh Schwartz dan Clore tahun 1983. Sejak kemunculan artikel-yang sudah dianggap klasik ini-riset tentang feelings sebagai sumber informasi berkembang pesat. Maksud dari teori ini adalah feelings bisa berfungsi sebagai pertanda adanya kesenangan terhadap sesuatu, kepuasaan terhadap kepemilikan, kepuasaan terhadap hidup, dan kesengsaraan.
Schwart dan Clore (1983) membuktikan di hari yang cerah yang membuat mood jadi lebih baik dan tingkat kepuasaan hidup pun serasa lebih baik. Feelings-as-information bisa juga dijadikan pertanda apakah suatu pekerjaan itu bisa dilakukan atau tidak.Seorang mahasiswa disodori sebuah topik untuk skripsinya. “How-do-I-feel about it?”. Si mahasiswa bertanya pada dirinya sendiri, kira-kira bagaimana feelings dia terhadap topik yang akan dikerjakan. “Rasanya berat pak, rasanya topik ini tidak cocok dengan saya”.
Walaupun ide feelings-as-information ini sangat cemerlang dan memperkaya khazanah penelitian psikologi, tapi masih banyak hal yang mesti dipertanyakan. Jika memang feelings adalah sebuah informasi tentu pengaruhnya terhadap judments akan sama dengan faktor lain yang sudah ditemukan mempengaruhi input informasi.
Diskusi tentang feelings masih berlangsung hangat di jurnal-jurnal psikologi. Mungkin pelajaran yang bisa kita petik dari scientific discovery ini adalah seorang pengambil keputusan tidak hanya harus pandai membaca feelings dirinya sendiri, tapi juga apa yang dirasakan oleh orang lain dan menginterpretasikannya dengan benar.
Bimbingannya besok saja ya, Pak !
Ketika matahari bersinar cerah, burung-burung berkicau, hidup terasa indah. Keesokan harinya, hujan deras tak henti-hentinya mengguyur bumi, awan hitam dan angin kencang menderu pertanda badai, hidup pun terasa seperti suram. Padahal tak ada banyak perubahan di hidup antara kedua hari itu,semuanya berjalan seperti sediakala, gaji tetap sama, pekerjaan yang itu-itu juga. Nah, kenapa kok perasaan terhadap hidup jadi berbeda selang dua hari ini?
“kenapa kamu tidak suka terhadap orang itu?” kata seorang perempuan pada temannya. “ah,aku lagi gak mood aja sekarang, jadi bawaannya semua jadi salah”.
Isen (1978) melakukan sebuah eksperimen sederhana untuk membuktikan bahwa penilaian (judgment) seseorang terhadap sesuatu memang dipengaruhi oleh mood yang dirasakannya saat itu. Sekelompok orang di jalan dihadiahi oleh Isen sebuah hadiah, kemudian mereka disodori sederatan pertanyaan tentang bagaimana tingkat kepuasaan mereka terhadap barang yang sudah mereka beli serta tingkat kepuasaan mereka terhadap hidup secara umum. Hasilnya seperti yang sudah kita duga di alinea awal ini. Kelompok orang yang diberi hadiah merasa lebih puas terhadap televisi dan radio mereka, dan hidup secara umum. Ketika sekelompok orang yang lain yang ditanya dengan pertanyaan serupa tetapi sebelumnya tidak dianugrahi hadiah, ternyata memberikan rating kepuasaan yang lebih rendah dari kelompok yang menerima hadiah.
Seorang mahasiswa teknik yang sedang menulis skripsi rupanya telah menarik hikmah dari eksperimen yang dilakukan Isen ini. Dia tak pernah membaca penelitian Isen yang diterbitkan di Journal of Personality and Psychology. Nasehatnya adalah: kalau aku mau menghadap pembimbing untuk bimbingan, aku harus tahu dulu apakah supervisor ku ini dalam keadaan mood yang baik.Kalau tidak, aku mungkin bisa memberinya hadiah seperti yang dilakukan Isen terhadap partisipan dalam eksperimennya. Tapi ini tentu tak etis dan bisa berarti penyuapan. Kalaupun tak ada yang bisa kulakukan, mungkin selama menghadap aku tak menambah kekeruhan hati yang sedang dialami si pembimbing.
Sang mahasiswa berdiri di depan pintu si pembimbing. Si dosen berkata, “percuma begadang nonton piala dunia semalam nih dik, kok Brasil bisa kalah ya”. Dia menghela nafas panjang pertanda kekecewaan yang mendalam. Matanya masih merah akibat begadang.
Dengan tergopoh-gopoh sang mahasiswa berkata, “O, maaf pak, ada yang ketinggalan, bimbingannya besok saja ya Pak!”
Antara Kenyataan dan Bayangan
Ibu yang marah pada anaknya yang suka berfoya-foya padahal kondisi keluarga sangat tak mampu, memarahi anaknya dengan kata-kata seperti ini “ingat kenyataan nak,janganlah terus hidup di dunia mimpi, cobalah kamu bedakan mana yang realita mana yang bayangan”. Dari perkataannya ini, si ibu seolah-olah menuduh anaknya tak bisa membedakan antara realita dengan mimpi. Baris kata si ibu yang terakhir ini sebetulnya telah menarik perhatian beberapa ilmuwan psikologi sejak dulu : Benarkah manusia mempunya kecendrungan untuk tidak bisa membedakan realita (real event) dan ilusi (imaginary event) ?.
Jawabannya adalah iya. Riset tentang ini pertama kali ditulis tahun 1977 (Alcohol and Human Memory) oleh Johnson dari universitas Stony Brook dan tahun 1981 berdua dengan Raye dari Barnard College, penelitian lanjutan dipublikasikan di Psychologial Review.
Menurut Johnson dan Raye (1981)-orang mengingat informasi bersumber kepada dua hal. Pertama sumber eksternal melalui proses persepsi dan yang kedua sumber internal melalui proses pemikiran, penalaran, dan imajinasi. Selanjutnya Johnson dan Raye mendefiniskan sebuah konsep yang dinamakan reality monitoring yakni suatu proses yang dipilih seseorang dalam menentukan apakah suatu informasi bersumber dari internal atau eksternal. Yang menarik dari konsep yang mereka temukan ini adalah kadangkala suatu kejadian yang cuma dibayangkan dalam pikiran hampir sama nyatanya dengan kejadian yang benar-benar terjadi “Imagined events are no less real than real events”. Akibatnya adalah seseorang bisa tidak mampu untu membedakan antara kenyataan dengan mimpi (confusion).
Bayangan yang selalu ada dalam benak si anak di cuplikan diatas adalah keluarganya cukup mampu. Pikirannya seolah-olah menuntun dia untuk bergaya hidup yang cuma cocok untuk orang kaya. Si anak mengalami kebingungan membedakan ilusi dan kenyataan. Seorang wanita berkata pada rekan kerjanya bahwa salah seorang tetangganya berpengarai buruk dan menceritakan betapa kacaunya sebuah pesta semalam. Si rekan kerja lantas membayangakan di pesta itu si tetangga pasti berteriak-teriak seenak perutnya di pesta itu dan bergosip ria menceritakan seseorang yang di tidak disukainya pada tamu-tamu lain.
Dalam hal ini, pikiran si anak dan si rekan kerja telah mengalahkan realita.
Kenapa hal ini bisa terjadi? proses apa yang mendasari ?akan bahas di kesempatan lain…
Nilai sesuatu
Apa yang membuat seseorang bisa menghargai sesuatu? Jawaban klasik dari pertanyaan ini adalah jika sesuatu itu dipandang oleh sebagian besar orang bahwa memang bernilai. Jawaban ini mengandung arti eksplisit bahwa nilai sesuatu itu tergantung dari ‘beliefs’ sekelompok orang (’socialized shared beliefs’, Merton 1957-sociologist in Higgins 2005). Sederhananya, ada sebuah kesepakatan yang terbentuk yang menentukan apakah sesuatu itu patut dihargai atau tidak. Emas bernilai tinggi karena semua orang percaya bahwa emas itu mempunya nilai intrinsik yang tinggi. Sesuatu yang sukar secara uang pun karena kesepakatan akan mempunyai nilai. Sebagai contoh, pemberian seseorang akan dihargai oleh penerima berapapun harganya karena pemberian dipercaya oleh masyarakat (tentu saja si penerima) sebagai sesuatu yang patut dihargai.
Jawaban kedua dari pertanyaan diatas adalah sesuatu itu bernilai karena berguna. Persoalannya adalah masalah kepuasaan dan kebutuhan (needs). Semua orang butuh air untuk hidup, walaupun mereka sepakat bahwa segalon air akan bernilai sangat rendah dari emas sebesar kerikil. Sepasang sepatu bola akan berharga sekali bagi seorang pemain bola daripada seorang pemain catur, begitupun sebaliknya satu papan catur lengkap dengan bidak-bidaknya akan berharga sekali bagi seorang pecatur.
Jawaban ketiga pertanyaan diatas berhubungan dengan penekanan nilai sebagai experience, yakni pengalaman hedonis yang berhubungan dengan kesenangan dan kesakitan (pleasure and pain)-sebuah pandangan yang sudah ada sejak jaman Yunani kuno. Pandangan ini ditulis dengan sederhana oleh Freud (1920) sebagai ‘people approach pleasure and avoid pain’. Sebuah barang akan bernilai jika dalam mendapatkannya ada unsur kesenangan dan akan kurang bernilai jika untuk mendapatkannya ada unsur kesakitan.Pandangan Freud inilah yang mendominasi pemahaman para peneliti psikologi tentang motivasi selama bertahun-tahun dan dikenal sebagai ‘basic motivational theorist’.
Memang tak ada yang salah dengan pandangan ini. Selain menjadi pijakan utama untuk menjelaskan motivasi, tentu ada pengecualian-pengecualian dimana adagium ini tidak berlaku.
Pertama, jika orang lebih menekankan tujuan jangka panjang daripada jangka pendek. Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Untuk mengejar kesenangan di masa depan, kadangkala memang pain harus di approach.
Kedua, orang meyakini bahwa pain memang bagian yang tak terelakkan untuk mendapatkan kesenangan sehingga ketika kesenangan itu sudah didapatkan orang akan cenderung mengurangi intensitas pain yang dirasakan dahulu. Seorang ibu yang merasakan kesakitan ketika melahirkan akan berkata, “aku tak merasakan sakit lagi ketika aku dengar tangisan pertama dari anakku”
Selain dari pengecualian-pengecualian ini, kelemahan dari adagium diatas adalah tak ada penjelasan dengan cara apa people approach pleasure and avoid pain. Dengan menjelaskan yang terakhir ini Tory Higgins-seorang profesor psikologi dari Columbia pada tahun 2000 menerima penghargaan for distinguished scientific contribution dari American Psychologist.