AHDAR: Sekali Duduk Sekali Baca

Kuliah Istimewa Selten

leave a comment »

Peserta yang hadir di ruangan yang letaknya dibawah Mensa (restoran universitas) itu kira-kira 35 orang. Tidak ada pimpinan universitas terlihat, tidak juga pimpinan fakultas, tidak juga para profesor senior di fakultas dan jurusan. Peserta yang hadir didominasi oleh dosen dan mahasiswa doktor dari satu departemen saja: ekonomi kuantitatif.

Mata saya menyapu ruangan begitu cepat. Ada beberapa bangku yang masih kosong di bagian kanan ruangan. Di bagian belakang deretan bangku yang kosong itu, seorang mahasiwa berwajah oriental duduk dengan santai. Di belakang orang ini, seorang Belanda yang cukup saya kenal duduk dengan kedua tangannya menopang dagu dengan sikut menekan meja. Saya merasakan suasana yang sangat biasa dan monoton. Begitulah kesan yang saya tangkap sembari berjalan menuju bangku di belakang melewati moderator yang sedang memperkenalkan sang pembicara pagi ini. Tidak ada kesan istimewa. Padahal pembicara di kolokium rutin yang diadakan research school pagi ini adalah salah seorang pemenang hadiah nobel. Pasti, beberapa orang pintar di fakultas ini pernah punya mimpi meraih perhargaan paling bergensi ini.

Bapak tua yang sedang bersiap-siap memberikan kuliah itu bernama Reinhard Selten. Oleh karena nama besarnya lah saya nekad untuk menyaksikan kuliahnya walau saya sangat buta dengan bidang ilmu beliau,bahkan untuk level introduction sekalipun. Ingat namanya orang pasti ingat nama John Nash. Ingat John Nash, pasti ingat filem Beautiful Minds. Selten dengan John Nash berbagi hadiah nobel di bidang ekonomi pada tahun 1994. Tidak ada filem holywood untuk Selten. Selten tidak mengidap schizoprenia seperti Nash. Karena setengah yahudi, Selten pernah menjadi refugee karena kekejaman Nazi Hitler. Tapi mungkin itu belum cukup menarik untuk di film kan. Saingan Selten cukup banyak kalau tema ini yang dijual.

Tahun 2002, prof. Ariel Rubinstein dari Tel Aviv university datang berceramah ke Tilburg. Sebelum dia datang, gaungnya sudah terasa. Jauh hari para calon peserta diberikan kuisioner yang disiapkan Ariel. Maksudnya, hasil dari survey tsb akan dibahasnya saat dia memberikan kuliah. Saya masih ingat, ruangan yang disiapkan buat dia sangat besar. Peserta yang datang sangat membludak. Beberapa orang malah duduk lesehan di anak tangga menuju podium. Waktu itu saya hampir tak mendapatkan tempat duduk. Prof Ariel ini adalah peneliti terkemuka di bidang Game Theory. Di kuliahnya baru saya tahu bahwa dia termasuk salah seorang yang menominasikan John Nash untuk meraih Nobel pada tahun 1994 itu.

Kolokium Selten segera dimulai.

Selten tidak berbicara Game Theory dan ekonomi. Ini mengejutkan bagi saya karena diluar dugaan. Tema kuliah Selten adalah bagaimana sebuah kata tercipta. Linguistik dan Game theory ! Di slide pertama Selten, dijelaskan bahwa kata bisa tercipta melalui dua proses: secara kognitif dan melalui interaksi sosial. Untuk berinteraksi, syarat utama yang harus dipenuhi adalah adanya sender dan receiver. Hal terakhir inilah fokus kuliah pagi ini.

Hampir satu jam berlalu. Kolokium hampir selesai. Tidak banyak yang bisa saya cerna di kuliah Selten. Otak saya tidak sanggup rasanya mengikuti kuliahnya secara keseluruhan. Terlalu detail.Sesi tanya jawab sudah dimulai. Cuma ada tiga penanya.

Tetapi saya masih bersyukur ada satu yang saya ingat dari slidenya.

“It is good for a leader to send messages in constant codes to reduce misunderstanding among receivers”.

Kalimat yang sederhana dan mengandung pesan moral. Gaungnya terasa lain karna yang mengucapkannya adalah Reinhard Selten.

Written by ahdar

April 20, 2007 at 9:37 pm

Posted in diari

Contoh Sunk Cost Efek

leave a comment »

Ada yang menarik dari pernyataan Gubernur Riau, Ismeth Abdullah ketika menjawab pertanyaan wartawan setelah menghadap SBY (Detikcom, 16 April 2006). Berkaitan dengan berbagai desakan agar IPDN dibubarkan, Gubernur mengatakan bahwa Riau tetap akan mengirimkan wakilnya untuk menjadi mahasiswa IPDN karena “…investasi mendirikan IPDN mahal sekali”.

Pernyataan ini mengingatkan saya kepada salah satu eksperimen tentang Sunk Cost efek oleh Arkes & Blumer (1985). Menurut teori ini manusia cenderung untuk meneruskan rencana yang telah mereka usahakan karena investasi (waktu,tenaga, uang) yang telah dikeluarkan sudah demikian banyak walaupun ada alternatif lain yang tersedia yang hasilnya mungkin lebih menjanjikan.

Written by ahdar

April 16, 2007 at 6:40 pm

Hedgehox atau Fox?

with 2 comments

Beberapa waktu lalu, teman-teman mahasiswa PhD mengorganisir acara one-day workshop tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah doktor, riset, dan karir selepas dari training doktor. Karena sibuk mengerjakan penelitian, saya hanya bisa mengikuti sesi siang selepas makan siang. Sesi itu difasilitasi oleh seorang asisten profesor (AP) dari departemen organisasi. Fokus materi yang disampaikannya adalah apakah anda seorang hedgehox atau fox?

Hedgehox dan fox adalah dua jenis hewan yang mempunyai karakter yang saling bertolak belakang-sebuah fragmen yang dikenalkan pertama kali oleh seorang sastrawan yunani kuno, Archilocus: “the fox knows many things, but the hedgehox knows one big thing” *

Sebelum sesi dimulai, peserta harus mengisi kuisioner yang berisi berbagai pertanyaan yang bisa mengungkapkan apakah seseorang itu hedgehox atau fox.

Hasil kuisioner sungguh diluar dugaan AP. Dari 30-an mahasiswa doktor yang hadir ternyata sang hedgehox cuma 7 orang, selebihnya adalah si rubah fox. Hasil ini mencengangkan dan diluar dugaan saya, kata AP. Dijelaskannya, untuk menjadi seorang peneliti, profil yang pas adalah hedgehox bukan fox. Dan pendidikan doktor esensinya adalah menciptakan seorang hedgehox yang andal menggali lubang ilmu lebih dalam, meretas jalan di rongga-rongga tanah agar dikemudian hari pekerjaan penggalian ilmu bisa diteruskan dengan kontinu. Nah, seharusnya para mahasiswa doktor yang mengisi angket ini adalah para hedgehox penggali yang ulet bukan fox yang generalis lebar dan cuma bermain-main di permukaan saja.

Saya sendiri siang itu sedikit merasa aneh karena dari tujuh orang hedgehox, saya termasuk diantaranya. Padahal, melihat track record studi sebelumnya, saya seharusnya seorang fox. Barangkali ketika mengisi angket, saya teringat masa lalu saya yang tak pernah serius menetap di satu bidang ilmu. Sekarang sudah kapok.

Di akhir sesi, AP memberikan sebuah tip yang cukup penting : seorang hedgehox harus dibimbing oleh profesor yang hedgehox, dan fox tentu saja butuh seorang hedgehox untuk menggali lubang riset yang lebih dalam.

Saya menoleh ke kolega jerman yang duduk di samping saya. Saya katakan padanya dengan suara lirih seperti berbisik: saya seorang hedgehox yang dibimbing oleh seorang fox. What should I do? tanyaku.

Dia menjawab pelan: the fox is also with me. We have the same problem.

* http://berlin.wolf.ox.ac.uk/lists/onib/crowderrev.pdf

Written by ahdar

February 23, 2007 at 10:24 pm

Posted in diari

Menulis buku, membangun kepakaran(?)

leave a comment »

Bermula dari ketercengangan saya (baca:tercengang negatif) ngintip diskusi soal keilmuan di sebuah milis (indonesia), menggelitik saya untuk menuliskan perasaan resah saya disini. Semula tulisan resah ini saya beri judul: Being a fake guru with a bounded unethical behavior. Tetapi karena takut jadi sok-sok an, saya ganti dengan judul diatas.

Membaca lalu lintas diskusi di milis tsb, membuat saya tercengang karena jawaban yang diberikan oleh key person (kp) di milist tersebut seperti jauh panggang dari api. Anehnya si kp dengan pede meladeni penanya dengan posisi seolah-olah betul-betul master di bidangnya. Padahal sebetulnya jawaban yang diberikan kp itu seperti sekenanya saja. Di ujung pertanyaan selalu ada kalimat: itu sudah dibahas di buku saya, diterbitkan oleh penerbit anu dan bisa dijumpai di toko anu. Maksudnya mungkin ini bagian dari promosi buku yang dia tulis. Saya bisa memberikan penilain tentang kualitas jawaban kp karena saya mempunyai beberapa resources sebagai pembanding.

Mungkin karena kp sudah menulis buku yang sangat laris tentang bidang itu sehingga dengan sendirinya image kepakaran terbangun dan melekat dengan sendirinya.Kata menulis saya tulis miring karena menulis bisa diartikan menerjemahkan dari buku asing alias comot sana comot sini.

Harus saya akui, atas nama inseminasi ilmu, praktek semacam ini sah-sah saja karena indonesia belum lah taraf knowledge producer. Yang saya masalahkan sebetulnya adalah bagaimana seharusnya sang penulis mensikapi proses inseminasi ini. Harusnya penulis berterus terang bahwa produk yang dia hasilkan adalah karya rangkuman dari berbagai sumber yang dia permudah dalam penyampaiannya. Dan ada bagian-bagian yang dia sendiri belum paham betul. Eh kalau begitu, kenapa nulis buku ?

Ketika saya menceritakan kepada rekan saya melalui chat, dia tertawa. “Contoh seperti ini, tidak satu dua di negeri pancasila. Di bidang saya juga ada.”

Melalui buku yang ditulis, menurut saya kp berhasil membangun image kepakaran terhadap dirinya karena pasar seperti katak dibawah tempurung (bounded): tidak mempunyai cukup kemampuan untuk bisa memberikan penilaian dan tidak mempunyai akses terhadap informasi untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk memberikan penilaian. Akibatnya judgment dari pasar menjadi bias.

Dalam kasus ini image bisa terbangun karena (1) pasar mengandalkan satu-satunya cue (petunjuk) yang mereka punyai dalam memberikan penilaiain yakni attribut profesor yang dipunyai kp, (2) produk buku yang dikeluarkan kp adalah salah satu-satunya yang ada di pasar (fast-mover advantage), (3) kp mempunyai image di bidang lain (mis manajemen) yang bisa ditransfer ke bidang lain karena konsumen tidak bisa menjelaskan dengan jelas keterkaitan antara bidang-bidang tsb. Sebagai contoh, karena ilmu manajemen organisasi, pemasaran, akuntansi, keuangan bisa di glue dalam satu pohon ilmu manajemen. Sehingga, mempunya label di organisasi, membuka peluang laris jika menulis buku pemasaran. Barangkali begitu, untuk konsumen yang mempunyai low-involvement dalam bidang tsb. Faktor lain yang tak kalah pentingnya menggerek image penulis buku tsb adalah jika buku serupa tidak ada di pasaran. Sehingga keberadaan satu-satunya buku itu dipasaran dianggap sebagai justifikasi bahwa penulis is the only person with the highest competency.

Agar penilaiain dari konsumen tidak menjadi bias dalam kasus yang saya tulis diatas, konsumen harus membuka wawasan dirinya untuk mencari informasi sebanyak-banyak berkaitan dengan bidang yang diminati. Carilah nama orang-orang yang betul-betul key person di bidangnya. Biasanya, mereka-mereka ini mempunyai sifat altruism yang lumayan tinggi. Mereka tidak butuh terkenal lagi. Sering saya dapati mereka menyediakan paper-paper karya mereka di situs-situs mereka yang bisa diunduh.

Berbeda dengan sebagian peneliti di Indonesia, menulis buku, bukanlah cita-cita utama dari peneliti barat. Kompetensi mereka dinilai bukan dari buku yang mereka tulis,tapi dari kuantitas dan kualitas jurnal yang mereka publish melalui proses blind-review. Identitas peneliti dikenal dari topik yang secara kontinu mereka tulis di jurnal. Rata-rata dari mereka barulah mulai menulis buku setelah mendapatkan rekognisi dari komunitas akademik atau ketika kegiatan riset mulai menurun, atau ketika menginjak usia pensiun sehingga banyak waktu untuk merekapitulasi ilmu.

Baru-baru ini, saya mengunjungi situs Max Bazerman*, pakar rational negotiation dari Harvard university. Di situsnya Bazerman menyediakan form untuk pemesanan paper-papernya. Saya klik lah beberapa paper untuk membuktikan apakah Bazerman betul-betul serius. Kurang dari sejam, saya menerima imel dari sekretaris si prof: these are the papers, enjoy !

Pengalaman ini membuktikan bahwa knowledge begitu bertebaran di internet yang bisa diraup dan disebarkan kapan saja. Kuncinya cuma satu, kemampuan bahasa inggris. Tapi sementara itu pula, sebagian oknum memandang peluang ini dengan cara-caranya sendiri, entah untuk maksud apa.

Barangkali memang judul tulisan ini seharusnya: Being a fake guru with a bounded unethical behavior

*http://www.people.hbs.edu/mbazerman/

Written by ahdar

February 23, 2007 at 1:41 pm

Posted in ota

Peristiwa Adam Air dan Kerugian Psikologis Konsumen

leave a comment »

Sehubungan dengan peristiwa tergelincirnya Adam Air di bandara Juanda Surabaya (detikcom, 21 Februari 2008), detikcom memberitakan bahwa manajemen Adam Air (cabang Surabaya) bersikeras tidak akan memberikan ganti rugi kepada penumpang dengan alasan mereka sudah menerbangkan penumpang dari Jakarta ke Surabaya, demikian kata Natali Budiharjo, manajer Adam Air Surabaya.

Pernyataan ini terkesan mengabaikan perasaan dan kerugian psikologis yang dialami penumpang. Dari sisi marketing strategi perusahaan, pernyataan gegabah dari sang manajer ini bisa menjadi bumerang bagi bisnis Adam Air dan prospeknya ke depan ditengah kompetisi penerbangan domestik yang sangat ketat dan tentu saja jika ijin usaha mereka tidak dicabut oleh pemerintah akibat dua peristiwa kecelakaan yang menimpa Adam Air belakangan ini. Ada beberapa alasan kenapa pernyataan manajer ini bisa berakibat lebih buruk bagi Adam Air:

Pertama, sebelum peristiwa tergelincirnya pesawat ini yang mengakibatkan pesawat bengkok dan keriput, hilangnya pesawat Adam Air KI 574 dengan jurusan Surabaya-Menado beserta seluruh penumpangnya di laut Mamuju Sulawesi masih belum hilang dari ingatan (deticom, 1 Jan 2007). Sampai sekarang malah penyebab jatuhnya pesawat itu masih misteri, sementara itu black boks kunci misteri ini dibiarkan begitu saja tergeletak di dasar laut karena ketidaktersediaan teknologi yang memadai untuk mengangkatnya dan dana (?) dari Adam Air. Dua peristiwa kecelakaan dengan magnitude yang berbeda ini telah menurunkan kepercayaan bahkan menghilangkan trust konsumen terhadap Adam Air. Sedangkan trust ditengarai adalah kunci utama mempertahankan loyalitas konsumen.

Kedua, pernyataan manajer telah menyempitkan arti dari ganti rugi kepada ganti rugi materi. Padahal kerugian yang dialami penumpang ketika kecelakaan bukan hanya rugi materi tetapi juga ada psychological cost (kerugian psikologis) pada pra dan pasca kecelakaan yang mesti ditanggung. Di saat kejadian tergelincir berlangsung, bisa dibayangkan bagaimana reaksi penumpang dalam situasi demikian apalagi masih segar dalam ingatan beberapa waktu lalu pesawat dengan maskapai yang sama tenggelam tak tau dimana di dasar lautan sana. Berbeda dengan material cost, efek dari psychological cost bisa berlangsung lama. Perasaan yang terluka dan kecewa, lazimnya tentu lebih mendalam daripada sekadar kerugian materi. Selain itu pernyataan manajer Adam Air diatas memberikan isyarat tak langsung kepada penumpang atau calon penumpang bahwa Adam Air tidak begitu mempedulikan konsumen. Kesadaran akan pentingnya CRM (customer relationship management) yang baik bagi perusahaan ini rendah. Barangkali memang, bagi Adam Air, yang penting adalah uang bukan konsumen.

Ketiga, Efek yang lebih berbahaya dari sikap Adam Air adalah bahwa sikap seperti itu bisa memberikan inferensi kepada masyarakat tentang manajemen penerbangan domestik secara umum (efek transfer). Rasionalitas dari hipotesis ini adalah karena (1) masyarakat tidak terlalu knowledgable untuk membedakan manajemen pengelolaan penerbangan antara Adam Air dengan manajemen maskapai lainnya, (2) kemunculan Adam Air sebagai pemain di penerbangan domestik hampir bersamaan dengan pemain-pemain lain di kelasnya, (3) masyarakat bisa menilai bahwa pesawat-pesawat maskapai penerbangan lain tak kalah tuanya dengan yang dipunyai Adam Air, sehingga resiko kecelakaan terbang dengan maskapai lain bisa jadi hampir sama dengan resiko terbang dengan Adam Air.

Kesemua faktor ini akan menyebabkan turunnya kepercayaan konsumen nasional terhadap maskapai penerbangan domestik, sehingga kuantitas konsumen ke perusahaan penerbangan, terutama Adam Air akan turun. Yang parah tentunya jika segala kecelakaan penerbangan ini menjadikan konsumen ‘phobia terbang’. Jadi sangat mengherankan sekali bahwa perusahaan begitu entengnya mengabaikan psychological cost yang ditanggung konsumen.Apakah ini pertanda bahwa jasa angkutan darat sebagai pengganti rute penerbangan pendek akan bergairah lagi. Siapa tahu.

Sebetulnya perusahaan tidak perlu alergi dengan psychological cost. Yang perlu diingat adalah bahwa yang dituju dengan ganti rugi psikologis ini adalah long-term effect bukan short term. Mengenai besarnya ganti rugi psikologis ini, perusahaan juga tidak perlu khawatir, angka rupiahnya akan membengkak. Yang dibutuhkan konsumen sebetulnya adalah keseriusan, kesungguhan, dan perhatian dari perusahaan penerbangan kepada mereka. Jadi dibalik ganti rugi psikologis ini terdapat pesan bahwa perusahaan peduli dengan penumpang.

Ada sebuah pelajaran sederhana yang bisa dipelajari Adam Air dari peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Belanda. Ketika badai mengamuk di Belanda minggu lalu, sehingga train yang menjadi urat nadi angkutan di Belanda tidak bisa jalan, Nederlands Spoorwagen (NS) men’servis’ para penumpang yang terjebak tidak bisa pulang ke rumah. Penumpang diberikan penginapan, segelas susu panas, selimut tebal, dan diantar jemput ke penginapan dan ke stasiun keesokan harinya. Dan terutama adalah permintaan maaf dari manajemen NS bahwa mereka tidak bisa mengantar pulang penumpang ke kota tujuan masing-masing malam itu. Hari itu memang NS rugi secara finansial, tetapi telah memenangkan hati konsumennya, yang berarti di kemudian hari kerugian finansial itu akan tertutup dengan sendirinya seiring meningkatnya loyalitas konsumen pemakai kereta api.

Kesimpulan. Di tengah maraknya konsep CRM (customer relationship management) dibahas di kalangan pebisnis di tanah air, pernyataan manajer ini bisa menjadi sinyal bahwa manajemen konsumen di industri penerbangan ternyata masih sangat tradisional dan jauh dari harapan. Selain itu Psychological cost ternyata belum dianggap sebagai bagian dari strategic marketing perusahaan. Malah, ibaratnya: You, customers, who need us, not the other way around !

Written by ahdar

February 21, 2007 at 1:57 pm

Posted in psikologi konsumen

Belajar “Discovering Psychology”

leave a comment »

Discovering Psychology merupakan salah satu acara PBS-TV series yang diramu dan dibawakan oleh prof psikologi dari Stanford, Philip Zimbardo-mantan presiden AMA (American Psychological Assocation) bertujuan untuk memasyarakatkan psikologi. Dibaca dari deskripsi program di website yang memuatnya, seri ini di produksi AMA pada tahun 1990 dan 2001.

Ada 26 tema yang dibahas dengan durasi sekitar 30 menit per tema, mulai dari psychology sebagai ilmu, brain, emotion, judgement, sampai ke cross-cultural psychology.

Walau di level pengantar, seri ini menurut saya sangat menarik karena di setiap temanya bisa kita simak langsung penjelasan dari key researchers di tema ybs. Sungguh menarik bukan, mendengarkan paparan suatu teori atau konsep-konsep dari sang penemunya sendiri. Dan diantara dari mereka ini sudah menjadi legenda di dunia psikologi.

Barusan saya nonton tema judgement and decision making. Di acara ini beberapa maha guru yang diwawancarai Philip adalah: Amos Tversky dan Daniel Kahneman dengan Heuristics nya, Irving Janis dengan Group Negotiation, Max Bazerman dengan rational negotiation, dan Leon Festinger sang empu Cognitive Dissonance.

Seri gratis gratis ini bisa diliat di alamat dibawah dengan terlebih dulu sign-up ke website ybs.

http://www.learner.org/resources/series138.html?pop=yes&vodid=558891&pid=1502#

Written by ahdar

February 20, 2007 at 10:53 pm

Posted in diari

Online Readings in Cross-Cultural Psychology

leave a comment »

Online readings ini berisi kumpulan paper dengan berbagai topik di bidang cross-cultural psychology-salah satu cabang ilmu psikologi yang membahas aspek budaya dan psikologi

http://www.ac.wwu.edu/~culture/contents_complete.htm

atau

http://www.ac.wwu.edu/~culture/readings.htm

Written by ahdar

February 20, 2007 at 4:07 pm

Posted in diari

[ebook] Subjective Well Being

leave a comment »

Salah satu topik hangat di dunia riset psikologi adalah segala hal yang berkaitan dengan BAHAGIA atau subjective well being. Pemakaian kata subjective di padanan kata terakhir menyiratkan bahwa bahagia itu adalah persoalan subjektif yang menyangkut persepsi perorangan, bukan objektif.  Pembahasan seputar subjective well being ini memunculkan cabang ilmu baru di psikologi yakni ‘hedonic psychology’.

Beberapa pertanyaan mendasar yang mula-mula dibahas di domain ini adalah berkenaan dengan definisi bahagia itu sendiri dan bagaimana mengukurnya, serta menyelidiki faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bahagia dan apakah bahagia bisa itu diciptakan. Masih banyak lagi pertanyaan lain yang tak bisa dituliskan semuanya di tulisan ini.

Bagi orang awam, pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut diatas kedengarannya ganjil di telinga karena konsep bahagia sepertinya mudah didefinisikan dan malah kerap dikomunikasikan pada orang lain dalam kehidupan sehari-hari: “Tengoklah pasangan muda itu,betapa bahagianya mereka “, “aku merasa bahagia setelah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini”. Terlebih lagi, bagi individu yang religius, definisi bahagia mungkin baginya sudah sangat jelas karena ajaran agama itu sendiri sarat dengan konsep kebahagian.

Sebuah buku, berupa kumpulan papers tentang subjective well being ini yang ditulis oleh para peneliti top psikologi dapat diunduh di link berikut.

http://opus.bibliothek.uni-wuerzburg.de/volltexte/2007/2170/pdf/subjwellbeing.pdf

Written by ahdar

February 18, 2007 at 9:23 pm

Posted in psikologi sosial

Berbicara soal ketidakpastian: Angka atau Kata-Kata

leave a comment »

Hidup selalu penuh ketidakpastian. Mulai dari bangun pagi sampai tertidur lelap malam hari, setiap orang selalu berhadapan dengan ketidakpastian: Apakah hari ini akan hujan? apakah saya akan lulus ujian minggu depan ini? Apakah barang yang saya beli ini akan berfungsi dengan baik.

Ada dua cara untuk mengkomunikasikan ketidakpastian ini kepada orang lain. Pertama, dengan menggunakan angka. Sebagai contoh, seorang analis dapat mengkomunikasikan peluang bisnis kepada seorang calon investor seperti ini: perusahaan ini berkemungkinan 80% untuk mengalahkan pesaingnya. Cara kedua adalah dengan menggunakan bahasa verbal. Sebagai contoh, Perusahan yang anda lirik ini, pada tahun depan, sepertinya akan mengalahkan pesaingnya.

Mengandalkan salah satu cara untuk mengkomunikasikan ketidakpastian ini bisa fatal. Dalam contoh diatas, kata “sepertinya” seolah-olah diinterpretasikan sebagai peluang 80%. Tentu saja ini tidaklah benar. Sebagian orang mungkin memaknai kata “sepertinya” dengan peluang 50% atau 95%. Konon kabarnya peristiwa meledaknya pesawat ulang alik Challenger beberapa tahun silam diakibatkan oleh kesalahan interpretasi seperti ini antara engineer NASA dengan pihak manajemen mengenai soal kebocoran di tanki bahan bakar pesawat.

Sebagian orang lebih senang memakai angka untuk menyatakan ketidakpastian, tetapi pada umumnya orang lebih suka memakai kata-kata daripada angka. Alasannya mungkin karena kata-kata lebih rasional dan alamiah. Saya sendiri termasuk ke kategori yang pertama alias lebih suka menyatakan keragu-raguan saya dengan angka.

Kalau saya ditanya apakah saya akan tetap konsisten menulis di blog ini, mungkin saya akan jawab: kemungkinannya 99%!

Written by ahdar

February 15, 2007 at 9:34 pm

Banjir dan Confidence Interval

leave a comment »

Banjir telah merendam sebagian Jakarta. Beberapa hari ini air telah surut perlahan-lahan, menyisakan lumpur dan kepedihan yang memilukan karna nyawa dan harta benda yang telah dirampas oleh air. Indonesia adalah jagonya telat. Setelah kejadian tersadar sebentar, lantas tak lama kemudian menjadi pikun. Padahal kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 2002 lampau. Saat itu diramalkan banjir akan kembali merendam jakarta 5 tahun mendatang.

Mari kita kembali ke tahun 2002. Di tahun itu, kejadian banjir jakarta di tahun 2005 adalah suatu kejadian yang tak pasti. Manusia bukan Tuhan. Karenanya yang bisa dilakukan manusia adalah mengira-ngira dengan ilmu yang ada. Kalau kita tanya penduduk Jakarta di tahun 2002 itu, seberapa yakinkah mereka bahwa jakarta akan direndam air yang demikian dahsyat pada tahun 2005 nanti? tak seorang pun yang bisa menjawab dengan pasti.

Menurut ilmu statistik, keyakinan tak pernah eksak, tetapi mempunyai peluang akan kebenarannya, makanya ada konsep ‘confidence interval‘. Untuk mencapai tingkat yakin, manusia perlu mengukur. Setiap pengukuran pasti mengandung kesalahan. Resiko yang mau diambil manusia untuk  menerima kesalahan ini tercermin ke dalam confidence interval.

Confidence interval yang populer dipakai adalah 95% yang artinya jika return period banjir adalah 5 tahunan dengan tingkat keyakinan 95%, berarti diharapkan setiap 5 tahun sekali banjir bisa terjadi dengan peluang 95%.

Mengartikan confidence interval 95% ini teryata tak semudah dibayangkan. Kerapkali konsep confidence interval ini membingungkan mahasiswa yang baru belajar statistik, tak terkecuali dosen-dosen yang sudah mengajarkan statistik bertahun-tahun. Lazim kita dengar bahwa 95% diinterpretasikan sebagai keyakinan subjektif: saya yakin sebesar 95% bahwa banjir terjadi 5 tahun lagi. Pernyataan seperti ini tentu membingungkan. Kalau begitu, apa bedanya yakin 95% dengan 96% atau dengan 99%?

Kita tak perlu minder dengan ketidakyakinan kita ini.Konsep confidence interval berhubungan dengan konsep probabilitas. Statisticians pun sampai saat ini terpecah kedalam dua aliran dalam mengartikannya. Aliran pertama berpendapat confidence interval ini mengandung arti frekuensi: 95% dari semua kejadian banjir adalah banjir 5 tahunan itu. Aliran kedua, memandang peluang kejadian sebagai ‘subjective probability‘. Perspektif ini disebut juga dengan Bayesian approach. Bagi mereka, confidence interval 95% adalah betul-betul derjat keyakinan mereka: my degree of belief is 95% !.

Perdebatan antara frequentist dan bayesianist tak akan ada habis-habisnya. Dewasa ini, perdebatan antara mereka bukan lagi sebuah perdebatan matematis, tetapi lebih sebagai debat di tataran filosofis. Kita tunggu saja akhir dari diskursus mereka.

Tak ada kalah menang dalam debat sebuah ilmu. Hanya sejarah yang akan membuktikan siapa yang lebih mendekati kebenaran. Biarkan saya dan anda menjadi frequentist atau bayesianist, suka-suka kita, tak ada yang melarang. Tetapi cobalah menerka-nerka jawaban pertanyaan ini. jika jakarta tetap banjir 5 tahun lagi, apakah pemerintah kita itu frequentist atau bayesianist? Tanyakanlah ke lumpur yang bergoyang.

Written by ahdar

February 8, 2007 at 10:45 pm